Perihal Calon Menantu, Pegawai AHM Nomor Satu

Liputan6


Cangkeman.net - Situasi pasti akan berubah seiring dengan berjalannya waktu, kerapkali kita tidak dapat menghindari perubahan itu. Hal itulah yang terjadi di desa saya dalam konteks kriteria dalam mencari menantu idaman Kriteria menantu idaman di desa saya itu berubah-ubah dari waktu ke waktu. Nah, kriteria menantu idaman di desa saya pada era sekarang ini tentu berbeda dengan kriteria jaman dulu di eranya ayah saya, ataupun kakek saya. Seperti apa kata pepatah, lain dulu lain sekarang. Ayah saya bercerita waktu ia masih muda kriteria menantu idaman di desa saya adalah mempunyai sawah, lalu Pengusaha Warung Padang.

Kemudian ketika saya bertanya kepada Nenek saya perihal kriteria menantu idaman di desa saya saat jaman nenek saya seperti apa, Ia menjawab, bahwa kriteria menantu idaman di desa saya dulu adalah santri.
Sementara sekarang ini kriteria menantu idaman di desa saya terbagi menjadi tiga golongan, yaitu Pegawai Astra Honda Motor di tingkatan pertama, Pegawai Negeri Sipil di tingkatan kedua, lalu di tingkatan ketiga ada Pengusaha Warung Padang.
 
Faktor yang membuat Pegawai Astra Honda Motor berada di urutan pertama kriteria menantu idaman adalah karena dianggap sebagai pekerjaan yang menjanjikan, serta dapa membuat perjalanan asmara menjadi mulus. Hal itu membuat anak-anak di desa saya selepas SMP lebih memilih melanjutkan ke SMK, dengan harapan bisa menjadi Pegawai Astra Honda Motor. Salah seorang kawan saya bernama Willy ketika ditanya oleh saya kenapa lebih memilih melanjutkan ke SMK, ia menjawab bahwa ingin menjadi Pegawai Astra Honda Motor agar memuluskan jalan asmaranya.

Ketika di desa saya ada yang mengadakan acara ngunduh mantu, kemudian menantunya ini bekerja di antara tiga sektor ini. Maka ini akan menjadi geger geden, dengan kata lain menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat, terutama kalangan ibu-ibu. Bahkan perbincangan hangat tersebut menjalar hingga ke desa-desa tetangga, bahkan mungkin satu kecamatan.

Hal itu terjadi ketika sepupu saya menikah.  Konon sepupu saya bekerja di sebuah kantor kementerian, kata orang-orang gajinya selangit. Ia menjalin asmara lima langkah dari rumah, jadi jarak rumahnya dekat dengan kekasihnya, sekitar 100 meter. Ketika sepupu saya ini baru saja jadian langsung geger satu desa, padahal belum bertunangan apalagi ijab-sah.
 
Kemudian ketika sepupu saya ini tunangan juga kembali menjadi perbincangan, sampai orang-orang yang tidak tahu pekerjaan sepupu saya ini bertanya ke saya "Sepupu kamu kerjanya di mana sih? calon mertuanya selalu membangga-banggakan, begitu juga dengan kakek kamu. Pokoknya tak kenal waktu selalu membanggakan sepupu kamu" Lalu saya menjawab "Katanya sih PNS di Kantor Kementerian." Mereka pun menjawab "Oalah pantesan, pasti gajinya besar."
 
Lalu ketika sepupu saya menikah pun lagi-lagi menjadi perbincangan hangat, katanya dapat tunjangan pernikahan puluhan juta dari kantornya. Gara-gara hal tersebut membuat para orang tua di desa saya pun menginginkan mempunyai menantu seperti sepupu saya.
 
Selain Pegawai Astra Honda Motor, lalu PNS, kriteria menantu idaman di desa saya sekarang adalah Pengusaha Warung Padang. Meskipun desa saya bukan terletak di Kota Padang, dan juga warganya bukan orang Minang. Tetapi banyak warga desa saya yang menjadi Pengusaha Warung Padang baik di dalam kota, maupun luar kota.


Para Pengusaha Warung Padang ini setiap pulang kampung pasti membawa mobil mewah, rumahnya mewah, selain itu juga menyediakan lapangan pekerjaan. Hal tersebut membuat Pengusaha Warung Padang masuk ke dalam kriteria menantu idaman di desa saya.

Nah, salah seorang kawan saya begitu khawatir karena ia tidak masuk ke dalam ketiga golongan itu. Kekhawatiran kawan saya ini cukup beralasan, mengingat ia tengah menjalin asmara dengan gadis yang masih satu desa dengan saya. Hal ini membuat ia tidak henti-hentinya berdoa agar bisa menjadi salah satu di antara Pegawai Astra Honda Motor, Pegawai Negeri Sipil, atau Pengusaha Warung Padang.

 

Malik Ibnu Zaman

Penulis lepas. Dapat ditemui di Instagram @malik_ibnu_zaman