Kenapa Masyarakat Kita Tidak Gemar Membaca Buku?

Mikolaj on Unsplash

Cangkeman.net - Belakangan ini saya cukup tergelitik dengan pertanyaan teman, “Kenapa ya orang Indonesia itu mayoritas tidak suka membaca buku?”. Kira-kira begitu pertanyaannya, dan membuat saya merenung sejenak.

Satu fakta yang memang terjadi di lingkungan sekitar kita, bahwa masyarakat kita masih terjebak dalam budaya lisan dan dengar. Apa contohnya? Gosip. Jika ditelusuri kembali, hal ini ada penyebabnya. Secara kultural, sejak dahulu transfer nilai dan kebudayaan bangsa Indonesia dilakukan secara lisan, bukan tulisan. Contohnya tembang, cerita rakyat, dll. Etika dan norma di masyarakat juga ditularkan melalui lisan, misalnya dari nasehat para sesepuh, legenda pamali, dll. Jadi masyarakat kita sudah terbiasa mempercayai informasi yang berasal dari lisan.

Lebih lanjut, masih ingat bagaimana penjajahan di negara kita? Pada pelajaran sejarah di sekolah, dijelaskan bahwa pada saat itu orang-orang yang bisa menikmati pendidikan adalah kaum elit yang tinggal di istana. Jadi budaya baca dan tulis pada awalnya dianggap sebagai budaya elit, dan asing bagi rakyat biasa. Tapi masa sih setelah 76 tahun kemerdekaan, masyarakat kita masih terjebak di zona tersebut? Masih. Walaupun baca tulis saat ini bukan budaya elit lagi, karena dilansir dari laman Kemdikbud, sebesar 98,29% penduduk usia 15-59 tahun sudah melek huruf. Namun terkait minat baca masih menjadi permasalahan yang sudah jadi rahasia umum.

Bahkan berdasarkan survei yang dilakukan UNESCO pada tahun 2020, indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001. Artinya dari 1000 orang, hanya ada 1 yang memiliki minat baca. Kalau menurut Perpustakaan Nasional, minat membaca masyarakat Indonesia pada tahun 2020 berada dalam kategori sedang dengan durasi membaca rata-rata 1 jam 36 menit per hari. Sudah mulai merangkak naik, walaupun masih bisa dibilang tertinggal dengan negara-negara lain.

Kalau di Jepang atau negara-negara maju lainnya, membaca buku di ruang publik itu hal yang biasa. Bahkan beberapa dari mereka sampai rela membaca sambil berdiri, ketika menunggu kendaraan misalnya. Kenapa bisa begitu? Sekarang mari kita lihat track record-nya.

Sejak ratusan tahun lalu, kekaisaran Jepang memiliki kebijakan untuk melakukan penerjemahan dan penerbitan secara massal di berbagai bidang. Tujuannya agar ilmu pengetahuan cepat diserap oleh seluruh lapisan masyarakat. Nah, dari input-nya saja sudah berbeda, jadi tidak heran kalau output-nya juga berbeda.

Bagaimana dengan di Indonesia? Membaca buku di ruang publik masih dianggap tabu atau aneh, setidaknya itu yang terjadi di lingkungan sekitar saya. Bahkan tak jarang orang yang suka membaca buku dianggap ‘selalu pintar’, padahal mereka membaca karena aware kalau masih banyak hal yang belum diketahui. Kalau kata Socrates, “I know one thing, that I know nothing”. Bahkan ada juga yang melabeli pembaca buku sebagai ‘pencitraan’. Stigma seperti itulah yang justru membuat beberapa orang enggan untuk membaca buku di tempat umum. Dan akhirnya membaca buku sulit berkembang menjadi budaya di Indonesia.

Beruntungnya saat ini sudah ada E-book, Kindle, Perpustakaan digital seperti iPusnas, dll. Selain lebih praktis dibawa kemana-mana, juga lebih murah dibandingkan buku cetak. Meskipun di beberapa segi, ada manfaat membaca buku cetak yang tak dapat tergantikan oleh teknologi apapun. Setidaknya, dengan hadirnya E-book dapat dijadikan stimulus untuk mendorong minat membaca. Namanya juga minat, jadi tidak bisa dengan paksaan bukan? Apalagi saat ini zamannya digital, pengetahuan bisa diakses dari mana saja.

Tapi kalau masyarakat kita masih saja malas membaca walaupun sudah diberikan berbagai kemudahan akses, yah mungkin jalan satu-satunya adalah dengan “kulo pun angkat tangan”


Siti Rohiimaa
Ordinary Girl yang terlalu banyak pikiran. Jadi memilih dituangkan ke dalam tulisan agar tidak memenuhi isi kepala. Dapat dijumpai di instagram @sitirohiimaa.