Prinsip Hidup Sak Madya: Prinsip Orang Jawa yang Membuat Negara Adidaya Ketar-ketir

Agto Nugroho on Unsplash

Cangkeman.net - Bayangkan jika anda seorang guru dengan kebutuhan laptop sekadar untuk mengakses layanan pengoleh data seperti Ms. Word dan Ms. Excel, kemudian muncul laptop gaming seri terbaru. Apakah anda ngebet ingin membelinya?

Seandainya sampean seorang pekerja pabrik dengan tunggakan motor bebek tahun 2010-an, kemudian ada iklan motor sport premium terbaru, apakah sampean nggreges ingin segera kredit?

Misalnya njenengan seorang pengusaha UMKM yang sudah punya rumah layak huni di kampung, kemudian ada release cluster baru dari sebuah pengembang elite, apakah njenengan kemrungsung untuk ikiut indent?

Jika jawaban anda selalu "YA", ada baiknya anda lanjut membaca.

Masyarakat Jawa Kuno mengenal sebuah ajaran yang tertuang dalam unen-unen 'urip sak madya' yang berarti kurang lebih hidup secukupnya, seperlunya, dan moderat. Mungkin padanan katanya dalam konteks Islam adalah qonaah, merasa cukup.

Prinsip hidup secukupnya ini masih banyak dipegang oleh kalangan petani di pedasaan. Mereka percaya bahwa hidup ini harus dijalani dengan sak madya, secukupnya, seperlunya saja. Toh hidup ini tidaklah abadi, babasan mung mampir ngombe. Jadi cukuplah kita minum seperlunya saja sebagai bekal untuk perjalanan selanjutnya.

Lalu apa hubungannya dengan pertanyaan-pertanyaan di awal?

Maksud saya begini, jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas mayoritas anda jawab dengan kata "YA", maka jelas sekali kalau kita sudah menjauhi ajaran hidup leluhur kita. Bisa saja memang kita mencari dalil sebagai pembenaran atas gaya hidup yang sudah tidak sak madya tadi. Bisa karena tuntutan jaman lah, demi gengsi lah, karena modernitas lah, dan lain-lain . Tapi kalau kita boleh jujur kepada nuraini.. eh, nurani; sebenarnya capek juga kan menjalani gaya hidup yang hedonis begitu?

Kalau kita kaji lebih dalam, ajaran hidup sak madya ini berdimensi spiritual sekali. Berbanding terbalik dengan ajaran materialisme yang identik dengan ajaran dunia barat. Sak madya bukan berarti melarang kita untuk menjadi kaya serta memiliki harta yang berlimpah, bukan. Prinsip hidup sak madya membuat kita memegang kontrol penuh terhadap kekayaan, tak peduli seberapa melimpah harta kita. Bukan sebaliknya.

Tak sedikit contoh orang-orang kaya tetapi tidak materealis. Semakin kaya justru semakin dermawan, semakin bergaya hidup sederhana. Ada juga orang yang tidak kaya, tetapi hati dan pikirannya kemrusung dipenuhi urusan harta saja.

Berkaca dari sejarah, tatanan masyarakat Jawa Kuno dibangun berdasarkan sistem kasta. Pemegang puncak kasta tertinggi bukanlah mereka yang paling kaya, melainkan justru kaum yang sudah melepaskan diri dari urusan dunia (harta, jabatan, tahta, dsb.) yaitu kaum brahmana. Kemudian di bawahnya adalah kaum satria yang juga lebih fokus kepada urusan senjata (Pertahanan Negara) daripada harta. Lalu bagaimana dengan bussinesman dan orang-orang kaya? Mereka menduduki kasta sudra, di bawah brahmana dan ksatria.

Artinya masyarakat Jawa Kuno mempercayakan urusan pemerintahan, merah-hitamnya negara, kepada orang-orang yang tidak materialis, orang-orang yang telah melepaskan diri dari urusan harta. Tahu kan bedanya dengan tatanan negara modern?

Negara-negara adikuasa mungkin keder dan jeri melihat leluhur kita yang sakti-sakti, yang tidak tedas tapak paluning pande. Mereka mungkin ciut nyali ketika mendekati tembakan senjata api dan meriam mereka ditampani jaja sambil meringis oleh nenek moyang kita. Tapi kalau kita mau sedikit berpikir (jan-jane ya mikir akeh se..) sebenarnya ada satu hal yang paling ditakuti dari Nusantara ini, yaitu cara hidup sak madya ini.

Coba saja pikirkan, andai ada 50% dari masyarakat di Nusantara yang masih mempraktekkan gaya hidup sak madya ini. Maka negara-negara adikuasa pemegang kapital global akan ketar-ketir. Mereka akan kehilangan pangsa pasar atas produk-produk hedon mereka. Akan ada ribuan trilyun potensi pendapatan mereka yang menguap. Selanjutnya bisa kita kira-kira, kapitalisme akan gulung tikar dari sini. Sungguh hal yang berbahaya bagi mereka.

Sebuah pusaka yang ampuh mungkin bisa membuat adikuasa takut. Tapi prinsip hidup sak madya lebih membuat mereka ngeri. Melalui gaya hidup sak madya, kita bisa menusuk kapitalisme global tepat di ulu hatinya, dan melihat mereka sekarat. Sebuah utopia? Entahlah...

Sebagai pengantar tidur, bolehlah kita nikmati tembang macapat asmaradana berikut ini:

poma poma wekas mami (aku berpesan dengan sangat)
anak putu aja lena (anak putu jangan sampai terlena)
aja katungkul uripe (jangan melupakan prinsip hidupnya)
lan aja duwe kareman (dan jangan memiliki kesenangan)
marang pepaes donya (terhadap gebayarnya dunia/harta)
siyang dalu dipun emut (siang malam haruslah diingat)
yen urip nanggih hantaka (bahwa hidup akan menemui ajal)



Rois Pakne Sekar

Seorang part time teacher dan full time parent. Mengajar -sekaligus belajar- Mapel Bahasa Jawa. Juga seorang atlit badminton amatir yang tidak akan takut menghadapi 'minions' ataupun 'the daddys'