Menteri Agama Sudah Empan Papan, Rakyatnya Masih Saja Baperan

Warta Ekonomi

Cangkeman.net - "Kita harus belajar untuk hidup bersama sebagai saudara atau binasa bersama sebagai orang bodoh."

Kehebohan warga maya di Indonesia yang seakan tiada habisnya membuat saya teringat quote dari Martin Luther King, Jr. tersebut. Ya, saya kuatir jika kegaduhan yang terjadi secara terus-menerus akan membuat kita jatuh ke jurang kebodohan. Berpecah-belah, untuk kemudian bubrah.

Memangnya kali ini ada kehebohan apa lagi? Ari eta, pro-kontra netizen dalam menyikapi Surat Edaran Menteri Agama No SE 05 tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di masjid dan musala.

Beberapa hari yang lalu Yaqut Cholil Qoumas mengatakan bahwa surat edaran tersebut dibuat dengan tujuan agar masyarakat semakin harmonis. Juga untuk meningkatkan manfaat (ibadah) dan mengurangi mudharatnya. Sebuah tujuan yang baik bukan?

Sayangnya suatu tujuan yang baik tidak selamanya bisa diterima dengan baik pula. Seperti biasa, selalu ada saja kalangan yang salah paham. Saya curiga jangan-jangan kaum yang selalu salah paham ini terlahir dari sebuah kesalahpahaman juga, hahaha. Mereka menganggap surat edaran tersebut membatasi ruang gerak beragama. Haish, embuh..

Saya pribadi termasuk yang setuju dengan SE Menag tersebut. Alasan saya sederhana, karena memang penggunaan pengeras suara di masjid dan musala sudah berlebihan. Berlebihan baik dalam hal volume suara maupun dari segi jumlah masjid dan musala. Maka ketika Menag mengeluarkan Surat Edaran tersebut saya langsung angkat topi kepada beliau. Saya menganggap bahwa dalam hal ini, Pak menteri sudah sesuai empan papan.

Sebagai informasi, konsep empan papan adalah semacam angger-angger (rambu-rambu tidak tertulis) yang berlaku di masyarakat jawa. Konsep ini terdiri dari dua kata yaitu empan yang berarti tepat atau pas, dan papan yang bermakna tempat. Secara umum memunculkan makna ‘sesuatu yang pas pada tempatnya’. Jika diterapkan dalam etika sehari-hari, empan papan akan memunculkan kesadaran seseorang mengenai kedudukan dan tempatnya dalam bermasyarakat.

Karena tidak tertulis, maka batasannya menjadi samar. Pemahaman setiap personal terhadapnya juga akan berbeda. Satu hal yang jelas, konsep empan papan ini lebih menekankan pada nilai rasa. Output-nya bukan lagi perilaku yang bernilai baik-buruk maupun benar-salah, namun lebih pada aspek pantas-tidak pantas.

Contoh praktisnya begini: menunjukkan kasih sayang dan kemesraan kepada pasangan itu adalah tindakan yang baik. Tetapi jika hal itu ditunjukkan secara demonstratif di hadapan teman yang baru saja dicampakkan oleh gebetannya, maka akan menjadi tidak pantas. Tidak pas momen dan tempatnya.

Ada lagi contoh lain yang sering terjadi di sekitar kita. Berkendara di jalan kampung itu sah-sah saja, tidak ada larangan untuk itu. Suatu ketika di pinggir jalan ada Mbah-Mbah yang sedang jagongan. Ada pengendara yang merasa biasa, ngeloyor saja. Ada juga pengendara yang memelankan laju kendaraannya dan sedikit menganggukan kepala untuk menunjukkan rasa hormat. Pengendara yang ngeloyor saja itu tidak menyalahi aturan, namun jenis pengendara kedualah yang terbaik. Dia bisa disebut menerapkan etika empan papan.

Jika ingin contoh yang lebih epic, mari kembali ke abad 16, ketika Sunan Kudus melarang warga muslim untuk meyembelih sapi sebagai hewan qurban. Beliau memerintahkan umat muslim untuk menyembelih kerbau sebagai gantinya. Alasan Sunan Kudus adalah untuk menghormati umat Hindu yang menganggap sapi sebagai hewan sakral. Meskipun jumlah umat Hindu ketika itu minoritas, namun beliau tetap berusaha menjaga perasaan mereka. Sang wali paham benar bagaimana menerapkan etika empan papan.

Kembali ke persoalan penggunaan pengeras suara di masjid dan musala tersebut. Seingat saya, pengurus NU di kecamatan tempat saya tinggal pernah mengeluarkan himbauan yang sama sekira 5 tahun yang lalu. Himbauan tertulis tersebut ditempel di pintu-pintu masjid dan musala. Isinya penggunaan speaker luar hanya untuk azan dan pengumuman kematian, sedangkan aktivitas ibadah lainnya menggunakan speaker dalam.

Hasilnya? Tidak ada yang menggubris himbauan tersebut, hehehe. Padahal himbauan tersebut mengarah ke kebaikan, agar bisa mengurangi kebisingan. Juga untuk menghormati mereka yang tidak seagama. Lha wong tidak semua warga kampung itu muslim kok.

FYI, di kampung saya yang luasnya hanya sekira 1,5 km persegi saja ada 1 masjid dan 5 musala. Lima kali dalam sehari pengeras suara mereka berbunyi di waktu yang bersamaan dengan volume yang kadang ugal-ugalan. Batita saya saja pernah tergeragap dari tidur gara-gara ada pengumuman kematian dari corong masjid yang jaraknya 200 meteran dari rumah. Cobalah sampeyan bayangkan mengalami situasi seperti ini terus menerus sepanjang tahun. Lama-lama telinga bisa cumpleng, kan?

Saya berharap Pak Menag maju terus pantang mundur dengan Surat Edarannya. Lebih dari itu, saya juga lebih berharap umat muslim di Indonesia bisa menerimanya dengan legawa. Jangan sampai jadi umat yang bisanya meledek umat Nabi Musa sebagai kaum yang susah diatur, tapi dirinya sendiri gak manut sama keputusan menteri.



Rois Pakne Sekar

Seorang part time teacher dan full time parent. Mengajar -sekaligus belajar- Mapel Bahasa Jawa di SD Mafaza Integrated Smart School. Juga seorang atlit badminton amatir yang tidak akan takut menghadapi 'minions' ataupun 'the daddys'