Menjalin Komunikasi Hanya Saat Gabut Emang Apa Salahnya?

Priscilla Du Preez on Unsplash

Cangkeman.net - Pernahkah kalian menemui omongan seperti, "Ah, lo enggak asik, nge-chat gue pas lagi gabut aja; lo mah, enggak tahu diri, ngabarin gue pas lagi ada butuhnya aja." Aku yakin, beberapa dari kalian pasti pernah menemui omongan-omongan enggak jelas seperti itu, entah dari teman, pacar, atau makhluk sejenisnya. Lalu, mereka tiba-tiba menjauh karena mengira dirinya cuma dimanfaatkan doang.

Sampai sekarang aku masih heran, emang apa yang salah sih, nge-chat pas lagi gabut? Apanya yang salah sih, ngabarin pas lagi ada butuhnya? Apakah karena kata “gabut” itu berarti menunjukkan nilai rendah dari berkomunikasi? Sehingga orang-orang merasa direndahkan karena dirinya seperti tempat pelampiasan? Kalau pun memang begitu, berarti komunikasi ini enggak boleh dilakukan pas lagi gabut, dong? Berarti komunikasi ini enggak boleh dilakukan pas orang lagi membutuhkan, dong? Lantas, orang-orang kalau mau berkomunikasi itu harus bagaimana, kalau enggak pas lagi gabut karena ada waktu, dan pas lagi butuh karena kuriositasnya?

Sebelum jauh-jauh kita ngomongin hal yang di atas tadi, kita harus tau dulu sih makna gabut itu sendiri. Sebelum memakai istilah untuk digunakan, agaknya kita harus mendalami istilah itu terlebih dahulu, biar makna yang tersampaikan itu enggak rancu. Bukan semata-mata ikut yang lagi tren, karena takut dikira kudet, fomo, dsb. Apalagi kalau ada istilah-istilah yang belum termaktub dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Istilah-istilah itu pasti ada kontekstualisasi tertentu, sebelum akhirnya ada. Sekarang, buat apa sih, kalau kita kaya akan yang lagi tren, tetapi miskin akan makna yang sebenarnya? Bukankah itu malah jadi kudet dan fomo, karena sekadar mengetahui bungkus, tanpa mengetahui isinya?

Kalau melansir dari beberapa sumber, sebenarnya istilah “gabut” ini sudah sedari lama muncul sebelum akhirnya anak-anak milenial dan generasi Z ini memopulerkannya. Pemaknaan kata “gabut” sendiri merupakan sebuah akronim dari suku kata gaji buta. Yang mana “gaji buta” adalah gambaran untuk seseorang yang enggak sepenuhnya melakukan pekerjaanya, tapi tetap mendapatkan gajinya. Dari sini, jika kita berangkat pada konotasi, berarti “gabut” bersifat negatif, karena menggambarkan seseorang yang tak mau melakukan tindakan, yang padahal sudah termasuk dalam pekerjaannya.

Sebenarnya enggak jauh berbeda kalau melihat pemaknaan “gabut” yang selama ini dipahami anak-anak muda, namun secara konstektual akan sangat berbeda. Istilah gabut yang sekarang cenderung digambarkan pada kondisi seseorang yang menganggur, yang akhirnya menyebabkan dirinya bingung entah mau melakukan aktivitas apa. Bedanya kalau makna yang lama konteksnya adalah untuk orang yang sudah punya pekerjaan, sedangkan makna yang baru konteksnya adalah untuk orang yang belum punya pekerjaan. Sejauh yang saya tahu, anak muda zaman sekarang kan, kebanyakan masih menganggur, atau bahasa gaulnya rebahan. Nah, agar bisa sedikit menutupi kepelikan itu, maka dipakai dan divariasilah istilah gabut untuk terlihat slang dan supaya layak menggambarkan gaya-gaya modernitas.

Lantas, apakah istilah gabut yang sekarang itu hanya bisa ditempatkan pada aktivitas tertentu? Kan, ada tuh, biasanya yang speak up, "Aku lagi gabut, nih, jalan-jalan, yuk; ah, aku nulis kayak begini mah, cuma gara-gara gabut aja." dan segala aktivitas lainnya. Nah, kalau begitu, apakah tepat kalau istilah gabut itu ditempatkan pada aktivitas jalan-jalan dan menulis? Dan apakah enggak tepat, kalau istilah gabut itu ditempatkan pada orang yang kerjanya YouTuber travelling dan seorang penulis? Kan, sama saja, keduanya sama-sama tepat karena melakukan aktivitas. Lantas, mengapa jadi terlihat berbeda? Nah, dari sinilah keherananku pada anak-anak sekarang. Mengapa seakan istilah gabut yang sekarang ini hanya bisa ditempatkan pada aktivitas tertentu. Padahal kan, pengertian “aktivitas” secara harfiah juga sama dengan pengertian “pekerjaan”. Entah itu nge-game, nonton YouTube, ngopi, baca buku, jalan-jalan, semua itu sudah termasuk pekerjaan. Jadi, apapun yang kita lakukan berarti bisa dilandasi dengan istilah “gabut. Dengan begitu, dapat kita simpulkan bahwasannya esensi daripada gabut adalah gambaran tentang waktu luang seseorang, yang memungkinkan orang tersebut untuk melakukan pekerjaan.

Begitupun dengan kebutuhan. Kalau dikatakan "Lo mah, enggak tahu diri, ngabarin gue pas lagi ada butuhnya aja." Lah, terus bagaimana aku menghubungi tanpa ada dalih kebutuhan; bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu itu tanpa ada dalih kebutuhan. Sekalipun ada orang melakukan sesuatu yang kiranya enggak ternilai, kan itu juga sudah bagian dari kebutuhan menurut dirinya. Gimana, sih?

Jangan samakan kebutuhanmu dengan kebutuhan orang lain, semua orang punya kebutuhannya sendiri-sendiri. Kalau misal si doi enggak pernah nge-chat, lalu sekali dia nge-chat pas dia lagi galau, ya berarti dia butuh kamu untuk menghiburnya, bukan butuh kamu untuk saling sayang-sayangan. Itupun kalau dia lagi gabut, berarti gabutnya dia itu untuk kamu sang pelipur lara, bukan untuk seorang yang dicintainya. Ya diterima aja brodi, karena memang itu kenyataannya.

Semoga sampai sini kalian paham, ya, kalau ternyata konsep gabut itu ada konteksnya, ada historisitasnya, dan gabut itu enggak hanya ditempatkan pada aktivitas tertentu. Karena enggak mungkin kita melakukan apapun dalam berkehidupan ini tanpa sebab gabut. Wong untuk menyadari diri kalian bernapas saja harus gabut dulu. Enggak percaya? Buktikan sendiri.


Achmad Fauzan Syaikhoni

Mahasiswa komunikasi, tapi pengin jadi filsuf.