Layangan Putus? Kejar yang Lain, Dong!

Umut Yilman on Unsplash

Cangkeman.net - Saya termasuk generasi yang beruntung karena terlahir di tahun 80an sehingga sempat tumbuh sebagai bocah tanpa pengaruh gadget. Sebagai bocah kampung di tahun 90an, tentu saja saya akrab dengan berbagai permainan yang mengandalkan kekuatan, ketrampilan, dan kelincahan fisik. Misalnya saja permainan kelereng, petak umpet, bentengan, gobak sodor, dan tentu saja bermain layangan. Nah, tulisan kali ini saya ceritakan khusus tentang bermain layangan.

Bagi saya dan teman-teman sepantaran, bermain layangan sudah seperti menu wajib harian, asalkan tidak hujan. Modalnya tidak terlalu mahal. Hanya butuh layangan senilai 25 perak dan segulung benang seharga 200an rupiah. Bagi mereka yang punya uang lebih bisa membeli layang-layang yang lebih mahal, otomatis wujudnya lebih bagus.

Perihal menerbangkan layang-layang, kami bisa melakukan di mana saja. Bisa di lapangan, bisa di pematang sawah, bisa juga di tepi wangan atau sungai kecil. Malah kadang ada teman yang agak nekat nyerempet bahaya dengan menerbangkan layang-layang di pinggir jalan. Tapi jangan membayangkan jalanan kampung di pinggiran Kota Malang tahun 90an seramai sekarang. Jumlah kendaraan bermotor yang lewat masih bisa dihitung jari. Bahayanya bermain layangan di pinggir jalan pada masa itu bukanlah dari kendaraan bermotor, melainkan kalau sampai layangan kita nyangsang di kabel listrik pinggir jalan. Eh, ada yang lebih bahaya ding.. Emak kita masing-masing.

Kami, bocah-bocah kampung ini, sangat memahami resiko ketika bermain layang-layang ada kemungkinan layangan kami putus. Resiko layangan putus itu bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti emang benangnya sudah aus atau bisa juga emang sengaja diadu (sambitan) dengan layangan lain.

Kalau memang layangan kami putus yasudah, tidak perlu ada yang disesali. Kalau masih ada uang tinggal beli dan bermain lagi. Kalau enggak yah berhenti. Tidak ada anak yang layangannya putus kemudian tantrum, nangis sambil gulung-gulung. Gak ada ceritanya bocah yang jadi trauma gara-gara putus layangan.

Selain urusan menaikkan layang-layang, ada satu bagian tak terpisahkan dari permainan ini, yaitu mengejar layangan yang putus. Mengejar layangan putus bukan hanya karena tak punya uang untuk membeli. Namun lebih pada urusan gengsi. Ada adrenalin yang terpompa dalam proses perebutannya. Ada rasa bangga ketika bisa mengalahkan teman untuk mendapatkan layangan yang putus. Jika memperoleh layangan putus, apalagi dalam jumlah banyak, rasa-rasanya sudah menjadi bocah yang paling laki. Perasaan paling laki tersebut bisa mendadak ambyar begitu melihat Si Mbok yang berkacak pinggang menyingkap dasternya sambil menggengam sandal. Tatapan matanya tajam mengancam. Persis ibu juragan kontrakan di film Kungfu Hustle.

Di akhir tahun 2021 hingga awal 2022 ini, urusan layangan putus mendadak viral secara nasional. Bukan soal bermain layangannya, melainkan sinetron dengan judul layangan putus. Sinetron tersebut menjadi buah bibir di masyarakat karena mengangkat tema perselingkuhan dalam rumah tangga. Konon cerita ini diangkat dari sebuah kisah nyata.

Akibat dari viralnya sinetron layangan putus ini, banyak netizen yang notabene ibu-ibu menjadi over suspicius kepada suaminya. Mereka jadi kuatir kalau suaminya bertingkah seperti Aris -nama tokoh utama laki-laki pada sinetron tersebut- di luar rumah. Ujung-ujungnya banyak urusan rumah tangga yang jadi berabe hanya karena sebuah lakon sinetron.

Kembali ke acara bermain layang-layang tadi, kami ndak pernah mencemaskan putusnya layangan. Jika sampai terjadi ya tinggal beli lagi. Kalau tidak punya uang ya ganti acara, mengejar layangan teman yang putus. Sesederhana itu.

Jadi, akan lebih elok jika ibu-ibu netizen bisa bersikap laiknya kami bermain layangan. Tidak perlu kuatir hanya karena sebuah lakon sinetron. Tak usah menuruti rasa curiga yang berlebihan kepada pasangan. Kalau memang nanti pasangan kita benar-benar "putus benang" macam si Aris, ya tinggal ngejar yang lain saja. Kejar pedhotannya teman. Segampang itu. Setuju?


Rois Pakne Sekar

Seorang part time teacher dan full time parent. Mengajar -sekaligus belajar- Mapel Bahasa Jawa. Juga seorang atlit badminton amatir yang tidak akan takut menghadapi 'minions' ataupun 'the daddys'