Gebetanmu Cuek Saat PDKT? Begini Cara Menyikapinya!

Milan Popovic on Unsplash

Cangkeman.net - Berbicara mengenai hubungan percintaan memang seringkali penuh dengan hal yang misteri dan juga mengundang sensasi, entah itu bagi kalangan perempuan ataupun laki-laki. Selalu ada saja simbol-simbol dalam sebuah hubungan yang teramat rumit untuk ditelusuri. Apalagi ketika ada seseorang yang sedang berada di fase PDKT, mereka kerap tanpa sadar kalau dirinya mendadak cosplay jadi psikoanalisis. Berbagai macam cara ia lakukan, dari mulai curhat ke teman, melihat konten Youtube berbau percintaan, memperhatikan setiap kata per kata dari sang gebetan, berusaha menelaah media sosialnya, sampai mendadak suka baca buku atau artikel, karena saking inginnya mengetahui tanda-tanda ketertarikan. Sungguh luar biasa memang kekuatan cinta ini.

Tertarik kepada seseorang memang sebuah hal yang wajar dan bahkan sangat alamiah. Rasa ketertarikan ini bagi saya adalah jalan awal yang nantinya akan tumbuh rasa kagum, lalu berkembang menjadi rasa cinta, dan jika beruntung, seseorang akan menjurus pada sebuah hubungan percintaan, atau bahasa gaulnya itu pacaran. 

Sebelum kita mengulas lebih ke inti pembahasan, di sini saya perlu menggaris bawahi, bahwasannya cinta dan hubungan percintaan adalah dua hal yang berbeda bila ditempatkan pada konteks sosial. Terus, bagaimana argumentasinya? Sederhananya begini: Cinta itu masih tetap bisa berdiri, meskipun tanpa ada hubungan percintaan. Tapi, kalau hubungan percintaan, ia harus ada cinta dulu, sebelum akhirnya bisa berdiri.

Nah, di antara sohib cangkeman yang membaca tulisan ini, pasti sudah sangat mafhum kan, kalau PDKT dengan seseorang yang cuek itu adalah sebuah kepelikan. Di mana kita sudah menggebu-nggebu ingin menjalin hubungan, eh di sisi lain sang gebetan malah enggak ada respon yang memungkinkan. Kalau di chatting-an balasnya cuma singkat-singkat, seperti misalnya: Iya, oke, oh, enggak, enggak apa-apa, dan biasanya yang paling jengkel itu dibalas stiker dan “HAHAHA” doang, itupun kayaknya enggak ketawa beneran. 

Bisa jadi, semua hal di atas itu bahasa halus dari penolakan saja, biar enggak ada timbul kesan jahat. Karena enggak mungkin kalau dibalas secara frontal dengan perkataan “aku enggak tertarik sama kamu, aku ilfeel sama kamu, soalnya kamu enggak good looking, miskin, enggak fashionable, sudah kamu menjauh saja, cari yang lain”. Bayangkan saja kalau hal itu memang benar terjadi, sudah cintanya ditolak, direndahkan pula dengan seseorang yang kita sukai. Bisa-bisa semakin menjadi-jadi konflik saling merendahkan karena cinta, yang sebetulnya adalah karena ketidakmampuan menerima diri sendiri. Wong, terkadang sudah pakai bahasa halus saja masih sering terjadi konflik.

Selama ini kita mungkin sudah sering menemui diktum-diktum tentang gebetan cuek, seperti: Gebetan cuek itu berarti orang yang protektif banget; kalau gebetan cuek itu berarti orangnya enggak murahan; punya gebetan cuek itu istimewa, karena berarti dia tipikal orang setia; sebenarnya gebetan cuek itu cuma ngetes seberapa serius seseorang itu mencintainya. Jadi, beberapa diktum di atas seakan menjadi parameter, bahwasannya sikap “cuek” adalah tanda seseorang itu berharga, dan hanya orang cuek yang sepatutnnya diperjuangkan. Bagi saya, malahan diktum itu adalah sebuah anomali. Karena bagaimana mungkin, orang yang cuek itu berarti orang yang berharga, sedangkan dirinya saja enggak bisa menghargai orang yang sedang berjuang. Loh, itu kan, memang tabiatnya? Iya, saya percaya kalau beberapa orang memang mempunyai tabiat cuek. Tapi, mbok ya jangan gampang menyimpulkan kalau orang cuek berarti berharga, dan orang yang enggak cuek berarti enggak punya harga. Karena kalau bicara PDKT itu sudah beda konsep; sudah melenceng dari konsep PDKT.

PDKT itu masa memperkenalkan diri untuk saling mendekat sebelum menjalin hubungan percintaan. Berarti tujuannya kan agar apa yang sudah dikenali itu bisa mendekatkan. Tapi, kalau sedari awal sudah cuek dengan perjuangan kita, sudah enggan membuka diri untuk digali informasinya, lantas apa yang bisa mendekatkan? Wong sudah enggak ada apa-apa yang bisa membuat saling dekat. 

PDKT itu analoginya seperti jual-beli. Misalkan kamu sedang berjualan pakaian, menawarkan beberapa baju yang menurut kamu keren dan layak untuk si pembeli. Tapi kalau ternyata si pembeli enggak tertarik, lalu abai dan enggan membelinya, apakah bisa si pembeli dikatakan orang yang berharga; yang istimewa; yang sepatutnya dipaksa, lantaran dia abai dan enggan membeli? Enggak juga, kan. Bisa jadi, malahan si pembeli enggak punya cukup uang untuk membeli jualanmu yang harganya cukup mahal. Ini enggak hanya berlaku kamu sebagai penjual.

PDKT itu yang dilihat adalah perihal value. Kalau dalam analogi tadi, jika kamu penjual, maka value-nya adalah kualitas dan harga pakaian, lalu jika kamu pembeli, maka value-nya adalah uang yang kamu punyai. Dengan begitu, berarti PDKT adalah bagaimana value kamu dengan value gebetan ini bisa saling mendekat untuk menjalin sebuah hubungan. Enggak yang satu aktif, dan yang satunya lagi pasif. Ya, bagaimana mungkin hal itu bisa menimbulkan interaktif.

Nah, kalau dalam hal ini kamu ingin sukses menjalani PDKT, berarti modal utamanya adalah: Bikin personal diri kamu jadi special dan punya value. Tapi jika kamu mengejar gebetan mati-matian, chatting terus-terusan padahal balasannya cuek dan jarang dibalas, rela digantungin berbulan-bulan, dan bahkan jadi dukun atas kodenya serta curhatannya, itu berarti menunjukkan bahwa dia enggak pantas buat kamu, dan kamu enggak special buat dia. Gimana, logis, kan?

Kembali pada argumen sebelumnya, bahwa cinta dan hubungan percintaan adalah dua hal yang berbeda. Ketika sang gebetan enggak mengalami cinta seperti yang kamu rasakan, artinya kamu hanya mengalami cinta, bukan hubungan percintaan. Meskipun begitu, kalau kamu meyakini cinta ini adalah sebuah anugerah, sebuah rasa nikmat, harusnya kamu enggak perlu benci ketika sang gebetan menolakmu atau bersikap cuek; enggak perlu menjadikannya sebagai musuh, apalagi sampai merendahkan satu sama lain. Malahan, kamu seharusnya bersyukur, sudah diberi tanda-tanda lebih awal, bahwa yang kamu cintai bukan sepatutnya untuk dilanjut pada jenjang keseriusan. Karena mencintai orang yang enggak mencintai balik, bukanlah pilihan terbaik untuk menguras pikiran dan perasaan demi mewujudkan cinta yang lebih otentik. Heu heu …

Ya, sudah. Jadi, untuk siapapun sekarang yang sedang berjuang demi hubungan percintaan, saya rasa enggak perlu susah payah menghadapi gebetan yang cuek. Orang yang cuek, berarti orang yang mengabaikan, orang yang mengabaikan, berarti orang yang enggak tertarik. Buat apa sih menghargai orang yang enggak menghargai balik. Kalaupun kamu masih menganggap cuek itu adalah sesuatu yang berharga, maka secara enggak langsung kamu juga enggak menghargai diri sendiri. Harga itu kualitas, tingginya kualitas bukan diukur dari diam atau cueknya seseorang, melainkan dari bagaimana seseorang tersebut menghadapi sebuah persoalan.

 
Achmad Fauzan Syaikhoni

Mahasiswa komunikasi, tapi pengin jadi filsuf.