Bekerja dan Harus Selalu Ramah Itu Tidak Mudah

Lesly Juarez on Unsplash


Cangkeman.net - Ada sebuah kejadian yang membuat saya begitu ingin membuat tulisan yang isinya pembelaan terhadap profesi polisi, sebuah profesi yang biasanya menjadi standar kemapanan calon menantu untuk para ibu-ibu ini.

Memasuki pekan kedua awal bulan Januari 2022 saya kena tilang. Singkat cerita, saya menyaksikan dengan mata kepala, mata batin, mata hati, dan juga mata kaki saya sendiri bagaimana ada sosok pelanggar lain yang dengan songongnya bersikeras tidak mau ditilang, padahal jelas dia melakukan pelanggaran hampir di semua pasal.

Yang makin nyebelin lagi adalah orang itu sempat menantang petugas untuk berduel. Berulang kali si pelanggar mengatakan bahwa dia adalah AKAMSI (Anak Kampung Sini). Sementara sang petugas berusaha keras menahan sabar melihat polah pelanggar tersebut. Dalam hati saya cukup kagum dengan kemampuan petugas dalam menahan kesabarannya. Polri memang tengah menggadang-gadang pelayanan dengan citra baik untuk masyarakat Indonesia. Lebih humanis, begitu mereka menyebutnya.

Hanya saja, usaha untuk memberikan citra baik ini tidak jarang justru malah membuat para pengendara jalanlah yang jadi tidak humanis, tidak ramah, bahkan berani melawan kepada para petugas yang sedang menjalankan tugasnya. Ketika menemukan pelanggar seperti inilah kestabilan emosi para petugas mendapatkan ujian dengan porsi yang lebih besar.

Kasus-kasus seperti yang saya lihat tadi memang sering terjadi. Misalnya, ketika viralnya sebuah tayangan video seorang Polisi memukul keras seorang pengendara motor di sebuah jalan raya. insiden itu terjadi sekitar pertengahan Oktober 2021, di Jalan Lintas Lubuk Pakam, Medan, Simpang Cemara, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Seketika itu juga, di tengah era digital ini, di mana segala sesuatu begitu mudah terkenal atau istilah kekiniannya adalah viral, video itu menyebar luas bersilaturahmi ke semua mata para pemilik medsos seluruh negeri tanpa terhalang oleh pandemi. Alhasil, banyak komentar dari para warganet yang rata-rata kecepatan reaksi jarinya jauh lebih cepat mengetik komentar ketimbang menyaring terlebih dahulu apa yang mereka lihat. 

Kecaman demi kecaman berhamburan ditujukan kepada polantas tersebut, karena dalam tayangan video itu, si pengendara motor itu sampai tersungkur dengan sukses terkena bogem sang petugas (saya yakin warganet belum melihat video itu secara utuh).

Pemukulan itu terjadi karena si pengendara menolak ditilang, yang sebenarnya memang telah melakukan pelanggaran terhadap standar peraturan yang ada. Cara si pengendara menolak untuk ditilang benar-benar menyulut emosi bagi siapa saja yang telah melihat videonya secara lengkap. menantang para polisi, mengeluarkan bahasa kasar dan lain sebagainya.

Pada kejadian viral yang lain, di mana kejadiannya lebih dulu terjadi. Tepatnya di Aceh Tengah bulan Oktober 2020. Seorang emak-emak sambil tetap nangkring di atas motornya, dengan bebas dan lepas sekuat napas membentak para polantas yang sedang melakukan razia pengendara. Jelas-jelas si emak berada pada posisi salah, tetapi dengan angkuhnya mengatakan bahwa suaminya adalah seorang Jaksa. Untuk kasus ini, para polantas beruntung karena mendapat simpati dari warganet, justru si emak yang mendapat cacian dan cemoohan dari berbagai macam komen netizen.

Contoh lain lagi pada kejadian yang lebih dulu terjadi dari dua kejadian di atas. Lagi-lagi seorang emak yang bertugas di kantor Mahkamah Agung, bersikap kasar pada petugas hanya karena petugas tersebut dianggap menghalangi jalan si emak. Bahkan sikapnya lebih kasar lagi. Selain membentak, emak yang ini menjambak dan berhasil meninggalkan bekas cacat sobek pada rompi petugas itu. Syukurlah, pada kejadian ini berakhir manis, setidaknya untuk pak Sutisna, nama petugas tersebut. Setelah kejadian tersebut viral, beliau mendapat hadiah berangkat haji gratis, buah dari kesabarannya dalam menghadapi emak yang menjadikannya samsak hidup versi kucing liar itu.

Agar tidak ada sangkaan tulisan ini membela sesama polisi, maka izinkan Saya untuk menegaskan bahwa saya bukan polisi. Tetapi, sebagai orang yang pernah hidup menjelajahi jalan-jalan kota karena tuntutan profesi yang harus dijalani, yaitu sebagai sales kopi, saya hafal betul kondisi seseorang manakala berada di jalan. Kondisi ini tak jarang harus saya alami dan harus saya hadapi.

Misalnya, saat masa tanggung bulan ketika masih nyales sebuah produk kopi, di sebuah perempatan, sopir angkot menyerobot jalur saya ketika lampu sedang menyala merah untuk si angkot dan hijau untuk saya. Mungkin karena sang sopir angkot mengartikan warna merah adalah berani, maka dengan ‘gagah berani’ dia nyelonong memotong jalur saya yang sedang jalan. Masalahnya, angkot tadi tertahan di depan saya oleh mobil yang berada di jalur saya yang sedang jalan, maka jadilah jalan padat itu macet akibat ‘keberanian’ sang angkot. 

Di sinilah emosi saya tidak lagi mau diajak kerja sama. Saya yang memiliki postur tinggi besar dan biasanya penyabar ini terpaksa jadi hilang sabar, yang bisa jadi karena efek tanggung bulan. Dengan gestur yang sangat kasar, saya turun dari motor dan langsung menggebrak kaca depan angkot itu, menghadiahi dampratan supaya dia mau mundur lagi agar saya bisa lewat.

Terik matahari yang pedas membalur ubun-ubun dan hujan yang mengguyur tanpa ampun. Ditambah berseberangan sikap dengan sesama pengguna jalan, dan lain sebagainya, adalah kondisi-kondisi yang membuat kita rentan sekali diserang oleh yang namanya kehilangan kendali emosi. Kita bisa membentak dan dibentak. Kita bisa memukul bahkan dipukul. Tergantung emosi siapa yang terlebih dahulu keluar lepas dari sarangnya.

Karena itu, saya sangat maklum dengan tersulutnya emosi petugas yang berhadapan dengan pengendara jalan yang melakukan pelanggaran tapi tidak kooperatif. Sudah salah tapi malah ngotot juga. Terlebih lagi dibumbui dengan sikap sok jago. Walaupun tindak pemukulan oleh petugas terhadap warga tidak pernah dibenarkan. Bahkan, bagi saya sekalipun itu terhadap batang pohon pisang yang sedang tumbuh, seperti salam dari Binjai yang sudah tak lagi viral itu. Tapi saya tetap memaklumi kebutaan emosi sang petugas.

Lantas adakah solusinya? Bagi saya, mengingat semua kejadian-kejadian ini selalu selesai dengan mediasi dan permintaan maaf, langkah yang bisa diambil adalah dengan memberi sanksi yang mungkin dilandasi juga dengan undang-undang yang bisa memberi efek jera bagi para pengguna jalan yang tidak kooperatif.

Misalnya, dengan sanksi sosial dan kurungan yang relatif tidak terlalu lama bagi mereka yang telah melakukan tindakan tak sopan pada petugas, disertai denda dengan jumlah uang yang bisa memangkas anggaran dapur mereka, misalnya. Atau mungkin bisa dengan sosialisasi kepada para pengguna jalan bahwa para petugas juga manusia, bukan robot tanpa emosi.


Latatu Nandemar
Anak baik yang tidak suka keramaian