Untuk Apa Belajar Banyak Hal di Sekolah Jika Akhirnya Tidak Terpakai?

Annie Spratt on Unsplash


Cangkeman.net - Jika membicarakan beban pelajaran yang harus ditanggung peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan, pasti ada kubu yang setuju dengan judul di atas sambil berseru, "Betul tuh, belajar banyak-banyak dari pagi sampai sore, pinter enggak, stres, iya!" 

Emang sih, rasanya sia-sia menguasai berbagai macam pelajaran, ehh ujung-ujungnya tidak terpakai juga. Dari sekian banyak mata kuliah yang saya dapatkan semasa belajar psikologi, nyatanya tidak semuanya memberikan konstribusi yang luar biasa, salah satunya dalam hal untuk mencari uang. Dari lima puluhan mata kuliah yang pernah saya dapatkan, tidak sampai sepuluh mata kuliah yang terpakai dalam kehidupan saya.

Namun, ada rasa bersyukur karena banyak belajar subjek pembelajaran. Dengan banyak mempelajari subjek pembelajaran yang dalam kasus ini adalah pembelajaran tentang psikologi, seseorang dapat menemukan minat dalam bidang tertentu. Lebih bagus lagi tidak hanya minat, tetapi memang ada indikasi keahlian di bidang tertentu. Dengan begitu, seseorang bisa memfokuskan apa yang membuatnya tertarik dan menguasai bidang tersebut. 

Namun, dalam prosesnya, ada semacam salah kaprah. Banyaknya pelajaran yang dibebankan kepada peserta didik seolah-olah peserta didik diwajibkan menguasai seluruh pelajaran. Padahal menurut saya, tenaga pengajar sama sekali tidak meminta peserta didik menguasai seluruh subjek pembelajaran. Buktinya, para tenaga pengajar menetapkan adamya nilai minimal. Jika peserta didik mendapat nilai minimal maka akan dianggap lulus. Tenaga pendidik juga pasti sadar bahwa setiap peserta didik memiliki kemampuan yang beragam yang biasanya juga dipengaruhi oleh minat tiap individu. Jika minatnya sedikit, usaha untuk memahami suatu pelajaran juga sekadarnya saja. Begitu juga sebaliknya.

Banyaknya mata pelajaran bukan hanya berfungsi sebagai alat untuk menemukan minat dan bakat yang dimiliki peserta didik. Instansi pendidikan melayani manusia yang heterogen. Setiap peserta didik memiliki kemampuan yang beragam. Inilah yang banyak dilupakan oleh kebanyakan orang. Terkadang mereka memberikan tuntutan atau sekadar keluhan bahwa pelajaran ini tidak penting, pelajaran itu tidak berguna dan pelajaran lainnya lebih penting dan lebih berguna. Apalagi kalau mendapat nilai yang tidak memuaskan di pelajaran yang dinilai tidak penting.

Hal ini diperparah dengan munculnya quotes dari Einstein yang berbunyi, "Jika menilai ikan dari kemampuannya dalam memanjat pohon, maka ikan merupakan hewan yang selamanya bodoh, sementara monyet yang terpandai." 

Entah quotes di atas itu asli perkataan Einstein atau tidak, tapi intinya bahwa quotes itu ingin mengatakan bahwa setiap orang memiliki keahlian yang berbeda. Sangat tidak adil jika ada seseorang memiliki keahlian di bidang matematika, misalkan, namun tetap dianggap bodoh bila melihat kemampuan dalam berbahasa Inggris yang bersangkutan cukup mengenaskan.

Memang benar sih kalau mengacu pada Multiple Intelligence Theory alias teori kecerdasan majemuk, Gardner menilai manusia berpotensi memiliki kemampuan dalam bidang tertentu. Ada yang ahli di kinetik atau olahraga, ada yang di bidang bahasa atau linguistik, ada pula yang matematis. Tak jarang pula di bidang lain seperti musik, sosial, kesadaran diri, dan seterusnya.

Tapi hal-hal di atas bukanlah harga mati. Jika yang bersangkutan pandai di matematika dan lemah di Bahasa Inggris, bukan berarti ia hanya mendapatkan nilai terbaik di matematika dan nilai terendah di Bahasa Inggris. Pada kenyataanya, manusia bukanlah ikan, dan kita bukanlah Einstein. Dalam proses belajar, otaklah yang paling berpengaruh. Otaklah merupakan sekumpulan neuron yang sifatnya seperti plastik yang artinya dapat dibentuk. Tentu saja proses pembentukannya tergantung dari seberapa intens rangsangan yang diterima dan durasinya.

Jadi, misalkan ada seseorang yang lemah pada bidang atau pelajaran tertentu, bukan berarti menyerah begitu saja karena dinilai bukan bakatnya. Karena setiap kemampuan sebenarnya bisa diasah, dibentuk. Salah satu cara membentuknya adalah dengan menetapkan standar nilai dalam instansi pendidikan.

Kita dapat menyimpulkan bahwa banyaknya materi pembelajaran yang diterima peserta didik bukan hanya sebagai alat untuk mencari minat dan mengasah kemampuan yang mereka miliki. Tapi juga mengajarkan bahwa manusia hendaknya memiliki target tersendiri. Untuk mencapainya tidak perlu tinggi, asalkan sampai tahap minimal saja, sudah aman.

Ceritanya akan berbeda bila seseorang memang sudah sangat yakin memiliki keahlian dalam bidang tertentu. Sah-sah saja yang bersangkutan meninggalkan bangku pendidikan dan fokus meningkatkan keahlian yang ia punya. Sudah banyak orang yang bertindak demikian juga.

Tentu saja setiap pilihan ada konsekuensi. Betul, manusia neniliki kebebasan dalam menentukan pilihan. Namun, jangan lupa bahwa pilihan yang diambil mengandung konsekuensi pula. Maka untuk meminimalisir kemungkinan terburuk ketika akan meninggalkan masa studi, gunakanlah waktu yang tadinya digunakan untuk belajar di sekolah atau kuliah ubtuk mengasah kemampuan yang diyakini memberikan dampak yang baik untuk kehidupanmu sendiri.


Angga Prasetyo

Kontributor ini masih malu-malu untuk menceritakan dirinya. Dapat ditemui di Instagram @anggaprass