Tarik Ulur Keinginan Anak Agar Tidak Seperti Aris Layangan Putus

suara.com

Cangkeman.net - Saya ingin bercerita tentang momen lebaran saya tahun lalu (1442 H) bersama si kecil Bhre alias Bebe yang ketika itu baru berusia 20 bulan. Ketika berilaturahmi, dia sering merajuk setiap kali menjumpai permen dan minuman kemasan berperisa di meja tetangga. Inginnya makan permen lagi dan lagi. Minum-minuman berperisa lagi dan lagi. Tak jarang sampai tantrum bergulung-gulung di lantai.

Si pemilik rumah sih tidak keberatan jajanannya dimakan tamunya, dalam jumlah berapapun. Apalagi jika yang menghabiskan itu seorang Batita. Mereka malah gembira. Tak jarang si tuan rumah membujuk saya agar membebaskan Bebe memakannya, daripada dia menangis. Loss dhol lah pokoknya.

Saya mafhum bahwa hampir semua Batita menggemari permen dan minuman kemasan berperisa, juga mamin lain yang manis-manis -kalau teteh yang manis-manis sih kegemaran bapaknya- tak terkecuali Bebe. Saya bukannya melarang Bebe untuk mengkonsumsinya. Saya hanya membatasi batasan konsumsi. Semacam permainan tarik ulur agar tidak berlebihan.

Saya percaya bahwa semua yang berlebihan akan menimbulkan efek yang kurang baik. Permen dan minuman berperisa tentunya mengandung zat adiktif yang kurang baik untuk anak usia Batita. Jika dikonsumsi secara berlebihan bisa menyebabkan sakit, yang paling sering adalah batuk.

Sakit fisik karena konsumsi yang berlebihan adalah satu hal. Namun masih ada hal lain yang mungkin luput dari pengamatan kita, yaitu efeknya terhadap perkembangan mental si kecil. How can? Ya, anak yang terbiasa berlebihan dalam berbagai hal bisa jadi akan tumbuh dengan karakter 'dont know when to stop'. Hingga pada akhirnya ketika situasi memaksanya untuk berhenti, dia bisa saja limbung layaknya layang-layang putus dari benangnya.

Untuk masalah mendidik anak, saya sering mengibarakatkannya dengan permainan layang-layang. Pada permainan layang-layang selalu ada waktu untuk menarik maupun mengulur benang. Fase tarik dan ulur ini sama pentingnya, demi bisa terbangnya layang-layang. Kita perlu mengasah feeling agar tahu kapan waktunya mengulur dan kapan mesti menarik benang.

Jika kita terlalu sering menarik benang, maka layang-layang tak akan pernah terbang tinggi. Ia hanya akan menjadi layang-layang medioker yang cuma bisa berkelebat di atas kepala. Pun mustahil untuk selalu mengulur dan mengulur. Benang di gulungan memiliki batas panjang. Ketika angin yang berhembus semakin kencang, layang-layang akan mengalami putus benang.

Bagaimana halnya tarik-ulur dengan keinginan anak? Ketika si kecil memiliki keinginan -pada kasus ini adalah permen-, pertama, silakan diberikan, dia juga perlu mengetahui rasanya permen, kan? Jika dia masih menginginkan permen kedua juga tidak mengapa. Di fase ini kita sedang mengulur. Tapi begitu dia mau yang ketiga, kita mulai masuk fase tarik. Kita bisa memberi dia permen ketiga dengan sebuah peringatan: "Ini yang terakhir ya, Nak. Kamu boleh minta lagi besok!" Jika si kecil tetap ngeyel minta lagi, you know what to do. Tarik, jangan kasih kendor.

Kita bisa menerapkan trik tarik-ulur tersebut untuk semua keinginan anak, tidak hanya berlaku pada permen, minuman berperisa, ataupun coklat saja. Bisa dalam hal membeli mainan, menerapkan jam bermain, menerapkan waktu penggunaan gadget, dan hal lainnya.

Trik tarik-ulur terhadap keinginan anak ini akan lebih mudah jika dilakukan oleh kedua orang tua. Apabila si kecil tantrum akibat keinginannya dibatasi, Ayah dan Bunda bisa berbagi peran sebagai Angel and Demon. Tidak menjadi masalah siapa Angel-nya yang mengulur dan siapa Demon-nya yang berperan membatasi keinginan anak. Terpenting adalah tujuannya sama, untuk melatih anak memanage keinginannya.

Akan menjadi sulit jika acara tarik-ulur ini dilakukan oleh single parent (temporer) seperti saya, meskipun itu tidak mustahil untuk dipraktikkan. Hanya saja butuh usaha yang lebih extra. Extra energi, extra waktu, dan terutama extra emosi. it's fine for me, karena saya percaya bahwa usaha mendidik karakter anak itu seperti investasi. Lebih baik berlelah-lelah ketika anak masih berusia dini dan (IsnyaGusti) mendapat anak yang settled di kemudian hari, daripada loss dhol di awal, namun kelak makan hati.

Saya merasa ngeri saja jika membayangkan kelak ketika si Babe dewasa masih belum mampu berkompromi dengan keinginannya. Menjelma budak bagi keinginannya sendiri, yang pada akhirnya menjadi rakus akan segala hal. Misalnya saja dia kelak menjadi Mentri, masih ingin merangkap sebagai komisaris BUMN, ketua komite ini-itu, ketua tim iki lan kae, masih ingin merangkap sebagai ketua PSSI pula. Bisa jadi dalam hal asmara juga, ketika dia sudah punya Kinan, masih juga berharap memiliki Lydia dan Miranda. Itu saja? Ndak, lebih ngeri lagi jika dia sudah punya Kinan, Lydia, dan Miranda, tapi masih ngejar Joko dan Bambang. Menjadi garangan level paripurna.


Rois Pakne Sekar

Seorang part time teacher dan full time parent. Mengajar -sekaligus belajar- Mapel Bahasa Jawa. Juga seorang atlit badminton amatir yang tidak akan takut menghadapi 'minions' ataupun 'the daddys'