Sebuah Resensi: Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar

Shofwhere

Cangkeman.net - Sejak kecil, saya selalu dinasehati oleh nenek tersayang untuk menjadi manusia yang legowo. Sepehamahaman saya, kata legowo berasal dari bahasa Jawa yang artinya tidak menaruh dendam, lapang dada, rela, dan tidak suudzon dengan kejadian yang menimpa diri kita. Tetapi, nasihat itu sama sekali tidak mempan bagi saya. Saya tumbuh menjadi orang yang lekas marah atas hal-hal kecil yang sebenarnya tidak pantas dipedulikan.

Saya akan kesal ketika ada teman-teman adik saya yang tertawa keras. Saya juga kesal jika ada teman yang datang ke rumah tanpa memberi kabar dan saat itu saya harus menyelesaikan tugas. Tetangga yang mulai menanyakan kapan saya kembali ke tempat kuliah juga membuat saya kesal. Bahkan dengan suara nyamuk yang berdengung-dengung di telinga saja, saya menjadi kesal.

Saya benar-benar membenci hal-hal di atas. Bagi saya, hal-hal itu telah merusak ketentraman hidup. Akibatnya, karena hal itu, saya menjadi mengoceh segala hal yang kadang ga ada kaitannya tentang hal itu. Parahnya, semua itu tidak berhenti di sana. Saya akan marah dengan semua penghuni rumah. Semua itu bagi saya sangat menyiksa dan merugikan saya.

Padahal, saya bisa saja memilih untuk berkata baik-baik kepada adik agar mereka mengurangi volume tertawa atau saya yang harus berpindah tempat. Saya juga bisa menggunakan earphone dengan mendengarkan lagu favorit. Jika teman datang dengan situasi seperti yang saya sebutkan di atas, saya juga seharusnya bisa membiarkannya datang ke rumah dan berbicara bahwa saya akan menyelesaikan tugas terlebih dahulu. Sebenarnya masih banyak cara yang lebih baik untuk dilakukan tanpa harus ngotot semprot sana-sini dengan amarah yang berapi-api.

Begitu banyak orang yang menghabiskan energi untuk "memusingkan hal-hal kecil" sehingga mereka sama sekali kehilangan sentuhan akan keajaiban dan keindahan hidup ini. (Hal. 1).

Membaca buku Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar membuat saya merasa sedang menertawakan kebodohan dalam hidup yang telah saya lakukan selama ini. Misalnya saja, saya selalu memusingkan hal-hal kecil; selalu terjebak dalam pikiran, "Kalau nanti... gimana, yah?"

Richard sebagai penulis berhasil memberikan contoh kasus yang mudah dipahami pembaca pada setiap sub judul.

Diakui atau tidak, kita sering terganggu dengan cuitan orang lain di media sosial yang sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menyinggung kita. Tetapi, kita terlalu geer dan menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk menuliskan komentar jahat yang bahakn disertai dengan bonus berita bohong. Jika terus demikian, kita akan tumbuh menjadi primadi melodrama yang selalu bersikap dramatis dengan membesar-besarkan masalah kecil. Hal ini disiunggung dalam buku yang ditulis Richard pada sub judul "Ubahlah melodrama menjadi Mellow-Drama".

Membaca buku ini, saya seperti menemukan sebuah ramuan ajaib sebagai obat untuk mulai bersikap bahwa hidup bukanlah keadaan gawat darurat, sehingga kita pantas menikmatinya. Terkadang kita menghabiskan berjam-jam untuk menyelesaikan tugas yang akan terus bertambah setiap harinya hingga kita tidak punya waktu untuk berbicara dengan ibu atau bertanya kepada adik bagaimana dengan sekolahnya, apakah dia mengalami perundungan atau baik-baik saja. Padahal, sampai mati pun daftar tugas kita tidak pernah kosong. "Ingat, waktu Anda mati nanti, selalu masih akan ada urusan yang belum selesai. Dan tahukah anda? Orang lainlah yang akan menyelesaikannya! Jangan membuang-buang waktu berharga Anda dengan menyesali hal yang tak terhindarkan." (Hal. 13).

Meskipun dalam alih bahasa ada beberapa kalimat yang menurut saya membingungkan, misalnya kalimat, "Oke, untuk lima menit berikut ini aku takkan membuat diriku merasa tak terganggu oleh apa pun. Aku akan sabar." (Hal. 29). Jika diperhatikan dengan saksama, kalimat pertama tidak selaras dengan kalimat kedua yang berbunyi, "Aku akan sabar". Seharusnya kalimat pertamanya berbunyi, "Oke, untuk lima menit berikut ini aku akan membuat diriku merasa tak terganggu oleh apapun." atau bisa juga dengan kalimat "Oke, untuk lima menit berikut ini aku takkan membuat diriku merasa terganggu oleh apapun."

Terlepas dari itu semua, saya rasa buku ini sangat memudahkan karena pembaca tidak harus membacanya secara berurutan, tetapi bisa disesuaikan kebutuhan.

Sebagai penutup, saya ingin menekankan kepada kamu bahwa membuat masalah kecil menjadi masalah besar tidak seharusnya dilakukan. Mereka sama sekali tidak berharga di hidup kita. Memang dengan bersikap demikian tidak membuat hidup sempurna. Namun, alangkah menyenangkannya jika kita memiliki sebuah strategi, sehingga dapat membuat kita menikmati hidup yang singkat dengan berbagi kasih bersama orang-orang tercinta. Ya, itu kalau kamu punya. Kalau belum, kamu bisa menggunakan buku ini sebagai petunjuk untuk menemukannya, kok.

Identitas Buku :

Judul                       : Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar
Penulis                    : Richard Carlson
Alih Bahasa            : Siti Gretiani
Penerbit                  : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman    : xix + 234 halaman
Tahun Terbit           : 2019



Farijihan Putri
Kadang menulis, lebih sering nonton drakor. Dapat dijumpai di Instagram @jeewins_.