Predator Seksual Bisa Disebabkan Oleh Cinta Monyet yang Gagal

Maru Lombardo on Unsplash


Cangkeman.net -
Di penghujung tahun 2021, kita sering disajikan berbagai macam kasus kejahatan seksual. Jenis kejahatan seksual yangpaling parah menurut saya adalah kasus dengan korban seorang perempuan berusia empat belas tahun dengan tersangka sebanyak dua puluh orang. Bayangkan! Remaja itu bisa apa bila dihadapkan dengan orang-orang bejat sebanyak itu?

Pelaku tindakan seksual terhadap anak-anak saya pandang sebagai bajingan yang terkena penyakit gabungan antara kehinaan dan keganasan. Mereka yang bertransformasi dari manusia biasa menjadi predator seksual, mungkin mengalami penderitaan. Namun tak layak juga mendapat simpati. Anehnya, transformasi tersebut penyebabnya banyak yang tak terduga. Kegagalan cinta monyet salah satunya.

Entah apa arti sebenarnya cinta monyet. Barangkali karena hewan primata seperti monyet itu senang bermain-main, maka bisa jadi cinta monyet itu merupakan istilah untuk cinta yang main-main, seperti monyet yang gemar bermain. 

Cinta monyet sendiri terjadi pada usia empat hingga tujuh belas tahun. Orang-orang yang masuk kategori tersebut bisa dikatakan masuk kategori anak-anak atau remaja tanggung.

Pada rentang usia tersebut, kebanyakan orang mulanya menekan rangsangan seksual sedemikian rupa demi proses belajar atau alasan lain. Namun ada saatnya gairah menjadi tidak terkendali. Umumnya terjadi pada masa pubertas. Dorongan-dorongan seksual semakin kuat dan semakin terbentuk. Pada fase inilah kecenderungan seksualitas mulai terlihat. Kemudian, mereka mulai mengeksplorasi cara menyalurkan hasrat seksual, salah satunya melalui cinta monyet.

Melalui cinta monyet, manusia akan belajar tiga hal. Pertama, bagaimana cara yang tepat dalam mengendalikan gairah yang dulu sempat ditekan oleh beberapa faktor. Kedua, bagaimana menyalurkan gairah seksual dengan berbagai cara yang tepat. Terakhir, cinta monyet mengajarkan seseorang dalam memberikan keintiman kepada orang lain selain keluarga mereka.

Hanya saja masalahnya, cinta monyet terjadi ketika manusia memiliki tingkat keegoisan yang sedang tinggi-tingginya. Pada masa itu, manusia hanya bergerak berlandaskan prinsip kenikmatan; apa-apa yang membuat mereka senang semata tanpa mempertimbangkan konsekuensi, apalagi komitmen.

Karena cinta monyet hanya berlandaskan pada gairah dan keintiman, tidak ada unsur komitmen, sudah pasti yang terjadi adalah sering munculnya konflik. Ketika konflik sering terjadi, biasanya kehidupan percintaan akan kandas. Apapun penyebab kandasnya hubungan, hal itu mampu memunculkan penderitaan bagi yang merasakannya. Hingga kemudian dampak traumatis tersebut terbawa hingga dewasa.

Hal-hal di atas diperperah jika yang mengalami kegagalan dalam cinta monyet adalah seorang laki-laki. Ini ada hubungannya dengan sisi maskulin. Sisi tersebut berhubungan dengan tingkat kepercayaan diri terhadap kemampuan sendiri. Sehingga jika laki-laki melakukan kegagalan, termasuk kegagalan dalam cinta monyet, ia akan mengalami rasa terancam dan tersiksa ketika berinteraksi dengan lawan jenis.

Ketika mengalami kegagalan dalam cinta monyet inilah, di mana kisah percintaan mereka berhenti, membuat mereka hanya memiliki gairah dan memberikan keintiman kepada orang-orang yang berusia kurang lebih sama ketika diri mereka mengalami kegagalan. Jika disiuruh menebak, bisa jadi ini soal kena tanggung. Mumgkin pada usia di mana mereka mengalami kegagalan, gairah mereka begitu menggelora dan berhasrat sekali memberikan segala tetek-bengek keintiman, namun cinta mereka gagal di tengah jalan. Akibatnya, mereka hanya ingin menuntaskannya di usia tersebut.

Maka, tidak heran jika predator seksual hanya menyukai korban dengan rentang usia tertentu. Misalkan, mereka mengalami kegagalan cinta monyet di usia empat belas, maka korban-korban mereka berada pada rentang usia tersebut.

Ketika calon predator seksual sudah menentukan batasan usia kepada siapa mereka berhasrat, mereka akan melihat korban yang sesuai dengan rentang usia pilihan mereka dengan penuh gelora hasrat seksual yang membumbung tinggi. 

Mereka pernah sadar, apa yang mereka rasakan ketika mereka melihat anak-anak adalah tidak normal. Tetapi di dalam diri mereka terjadi perang batin. Mereka akan sibuk mencari pembenaran dari apa yang mereka lakukan. Namun meski begitu, bisa jadi mereka berusaha hidup dengan normal. Mereka akan melakukan hubungan seksual dengan sesama orang dewasa. Mungkin juga mereka berusaha menyembuhkan diri dari kegilaan yang mereka alami. Namun, selama proses berhubungan dengan orang dewasa, di tempat paling dalam jiwa mereka, terdapat bara yang hanya ditujukan kepada anak-anak.

Melenyapkan predator seksual, khususnya dengan korban anak-anak hingga remaja bukanlah perkara mudah. Butuh kerja sama yang baik dari berbagai pihak. Artinya, jika kita menemukan seseorang yang mengalami kegagalan cinta monyet dan terdapat indikasi kehidupan seksual mereka bisa melenceng, ada baiknya kita membantu mereka agar kehidupan percintaan dan seksualnya tetap sehat.

Bagi yang mengalami kegagalan cinta monyet dan membuat kalian menderita, tersiksa, atau apapun itu, dan tidak mampu mengatasinya sendiri, meminta pertolongan kepada orang lain bukanlah kesalahan. Apabila orang-orang sekitar tidak mampu memberikan pertolongan, bisa meminta tolong ke Psikolog, Konselor, atau ahli kejiwaan lainnya.


Angga Prasetyo

Kontributor ini masih malu-malu untuk menceritakan dirinya. Dapat ditemui di Instagram @anggaprass