Perlukah Adanya Undang-Undang Untuk Melindungi Tradisi Sesajen?

dasha shchukova on unsplash

Cangkeman.net - Beberapa hari yang lalu, jagad maya dirusuhi oleh video seorang relawan erupsi gunung semeru yang melakukan penistaan terhadap kearifan lokal warga sekitar berupa sesajen atau sesaji. Kita tahu bahwa ritual sesajen meruapakan tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Tradisi ini masih dilakukan secara ajeg oleh masyarakat di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk di daerah Gunung Semeru.

Dalam video yang telah viral tersebut, nampak seorang relawan yang dengan sengaja dan jumawa menendang sesajen sambil berkata: "Ini yang membuat murka Allah. Jarang sekali disadari bahwa inilah yang justru mengundang murka Allah hingga Allah menurunkan azabnya. Allahuakbar."

Bisa ditebak, unggahan video tersebut memantik reaksi netizen yang terpolarisasi. Ada yang mengutuk, namun ada pula yang mendukung. Tapi, apapun reaksi kita di media sosial tidaklah penting. Toh relawan tadi melakukan hal itu dengan keyakinan bahwa dia melakukan sesuatu yang benar.

Hal yang sifatnya urgent untuk kita tunggu saat ini adalah kehadiran negara, lebih tepatnya adalah aparat negara untuk menegakkan hukum. Mampu dan maukah aparat penegak hukum menjerat pelaku dengan UU penistaan agama? Jangan sampai masyarakat merasa penerapan UU tersebut tebang pilih, hanya berlaku untuk penganut agama tertentu saja.

Perlu diketahui juga, sesajen merupakan tradisi yang cukup lestari di kalangan warga sekitar gunung semeru. Sesajen ini banyak macamnya. Biasanya sajen ini disajikan pada tempat-tempat tertentu di rumah atau bisa juga diletakkan di tempat-tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat.

Bagi mereka yang percaya, sesajen itu dianggap sebagai wujud penghormatan dan ungkapan terima kasih kepada alam semesta tempt mereka tinggal. Dalam ranah kajian ekologis, sesajen juga memiliki manfaat bagi ekosistem. Sesajen berupa makanan dan buah-buahan umumnya akan menjadi makanan gratis bagi binatang liar. Sedangkan sesajen berupa aneka macam kembang bisa mengalami pembusukan untuk kemudian terurai kembali ke alam. Sebenarnya, sesajen merupakan bentuk sedekah kepada alam.

Oh yah, bagaimana dengan anggapan bahwa sesajen merupakan persembahan untuk Jin atau Dhemit? Yah bisa jadi sih masyarakat di sekitar Gunung Semeru memberi sesajen sebagai persembahan untuk Majin Buu. Harapannya agar Buu tidak mengubah kampung mereka menjadi permen, kemudian memakannya. Sebab di sana kan ndak ada Son Goku yang bisa melawan Buu.

Balik lagi ke penistaan tadi. Setiap tindakan menista kepercayaan tertentu pasti menanggung konsekuensi. Di Indonesia, konsekuensi tersebut bisa berupa sanksi sosial, bisa juga berlanjut menjadi sanksi hukum. Hal ini termuat dalam KUHP pasal 156(a).

Padahal, mereka yang dinista, yakni mereka yang masih ngugemi local wisdom di Indonesia ini telah terbukti tak pernah sirik terhadap agama dan kepercayaan orang lain. Mereka jelas-jelas telah mengamalkan prinsip bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Bukannya bagiku agamaku, bagimu mbok ya melu aku. Adat, tradisi, dan kearifan lokal mereka telah terbukti mampu menjadi perekat kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia.

Pertanyaannya adalah; jika negara merasa perlu repot-repot membuat UU penistaan agama, mengapa UU penistaan adat, tradisi, dan kearifan lokal tidak dibuat juga?


Rois Pakne Sekar

Seorang part time teacher dan full time parent. Mengajar -sekaligus belajar- Mapel Bahasa Jawa. Juga seorang atlit badminton amatir yang tidak akan takut menghadapi 'minions' ataupun 'the daddys'