Menonton Perjalanan Gadis Rambut Merah Dalam Serial Anne With an E

Netflix

Cangkeman.net - Berangkat dari Novel klasik milik Lucy Maud Montgomery yang berjudul "Anne of Green Gables", serial yang diberi judul "Anne With an E" yang memiliki latar waktu akhir abad 19 ini mampu menarik perhatian publik hingga berhasil memproduksi serial ini hingga 3 season. Season pertama resmi memasuki Netflix secara internasional pada 12 Mei 2017, kemudian menyusul season kedua tayang pada 3 Agustus 2017 hingga sampai pada season ketiga yang tayang pada Agustus 2018.

Nah, buat kalian yang belum nonton serial ini, ada baiknya kalian mulai nonton dah. Karena ada banyak hal yang bakal membuat kamu betah menonton serial ini. Diantaranya adalah...

1. Latar tempat dan suasananya keren banget
Mengambil latar tempat fiksi di Kepulauan Pangeran Edward, Kota Avonlea, Canada yang mampu memberikan pemandangan yang indah dan kehidupan penduduk pulau Pangeran Edward dengan lapangan yang luas, pepohonan yang hijau, udara yang segar, hingga suasana peternakan kuda milik Cuthbert. Lihat juga penampakan rumah milik keluarga Anne. Keren banget gak sih?

2. Love-line yang bikin gemesh
Pada serial season pertama, Anne berhasil ditolong oleh sosok laki-laki bernama Gilberth Blythe yang diperankan oleh Lucas Jade Zumann saat Anne sedang dirundung oleh teman sekolahnya. Berawal dari pertolongan tersebutlah, Gilberth mulai penasaran dengan sosok Anne yang ternyata juga teman sekelasnya. Tapi, Anne justru menjauhi Gilberth. Padahal orang lain banyak yang begitu menghormati Gilberth. Kira-kira endingnya gimana yah? Apakah mereka akan bersatu?

3. Karakter unik Anne si rambut merah
Di dalam serial ini, Anne diceritakan sebagai seorang gadis berambut merah yang telah lama ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Ia juga pernah bekerja sebagai pengasuh anak-anak. Anne juga ternyata punya banyak kenangan pahit yang menghantui hidupnya.

Di antara anak-anak desa lainnya, Anne termasuk anak yang ceria meskipun mengalami banyak pengalaman pahit. Ia cukup banyak berbicara, suka berkhayal, membaca buku, menyukai bunga yang tumbuh di jendela kamarnya serta dalam berbicara pun cenderung memiliki diksi yang berat.

Meskipun pada awal kedatangannya di desa tidak begitu diterima, namun Anne tidak menyerah. Ia tetap menjadi dirinya hingga membuat warga desa mampu menerimanya.

4. Banyak pelajaran yang bisa diambil
Selama beradaptasi di desannya, Anne tidak berhenti menemukan suatu persoalan-persoalan hidup seperti tidak punya teman, dikucilkan, dan bahkan dijauhi oleh penduduk desa.

Dalam serial ini, banyak mengajarkan kita bagaimana untuk bersyukur, bersabar, dan juga tidak mudah menyerah. Serial ini juga menyinggung soal LGBT hingga isu kesetaraan gender yang di mana pada suatu episode akan ada scane di mana Anne berbicara soal pernikahan hingga hak seorang perempuan yang hanya boleh berada di dapur. Pastinya bakal nambah ilmu banget, dah.

Gimana? Sudah tertarik untuk nonton serial Anne With an E?

Kalian dapat menonton serial lengkapnya di nal resmi Netflix yah. Semua season sudah tersedia di sana beserta subtitle Bahasa Indonesianya, lohh. Semoga kalian suka, yah! Selamat menonton...


Jung Is

Mahasiswi Universitas Pendidikan Nasional Denpasar. Dapat ditemui di Instagram @junk_is