Kalau Aku Perempuan, Seorang Ibu, dan Aku Merokok, Emang Kenapa?

Anastasia Vityukov on Unsplash

Cangkeman.net - "Ichh, cewek kok merokok, sih. apalagi pakai hijab, di tempat cangkrukan lagi. Pasti Nakal!" 

Saya adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang kebetulan berasal dari salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki kultur budaya serta bahasa yang bervariatif. Termasuk juga dengan lifesttyle-nya. Pada dasarnya sih lifestyle kehidupan orang-orang itu sama. Mau anak muda, ABG, atau usia dewasa yah kalau enggak suka berdiam diri di rumah yah nongkrong keluyuran di jalan. Hanya saja ada sedikit pembeda antara lifestyle orang perkotaan dengan orang-orang pedesaan adalah tentang budaya kesusilaaan yang masih kental.

Hal itu penting aku ungkapkan untuk memberi sedikit gambaran tentang aku sebelum aku cerita lebih jauh.

Tahun 2005, aku yang hanya lulusan sekolah menengah kejuruan dipaksa keadaan harus berjibaku dengan pekerjaan di dunia malam. Kalian pasti berpikir, "Kenapa harus dunia malam, sih? Enggak ada kerjaan lagi apa?" Soal itu, nanti akan aku ceritakan di tulisan yang lain.

Mimpiku untuk menyelesaikan sekolah hingga strata Sarjana, membuatku harus bisa membagi waktu. Pagi sampai siang beraktivitas di kampus, sore di rumah sebagai seorang istri yang masih numpang di rumah mertua, dan malamnya malamnya harus mencari uang untuk bisa membiayai mimpi-mimpiku. Tempat apa yang menyediakan lapangan pekerjaan di jam itu pada masa-masa itu selain cafe dan pub?

Awalnya aku bekerja sebagai kasir. Namun karena kecilnya gaji yang hanya mentok di angka 450rb sementara biaya persemester sudah berada di level 2 juta rupiah. Hal itu membuatku putar otak. Untuk meminta ke suami, pastinya jawabnya berhenti kuliah saja.

Keberuntungan masih menghampiriku. Salah satu waitress keluar dari pekerjaan karena sudah menjadi seorang bidan. Masuklah aku menjadi waitress. Gaji kasir yang 450rb berubah sedikit ketika aku menjadi waitress.

Eh, dasar manusia, gaji sudah naik masih aja rasa kurang bersarang di pikiranku."Wah kalau hanya gaji bulanan, ya hanya cukup untuk biaya semesteran. Kapan aku bisa jajan setiap harinya? Nongkrong di kampus juga butuh permen biar nggak ngantuk"

Untuk itu, aku memiliki usaha 'sampingan' yaitu dengan cara mendekati para tamu. Ketika mendekati tamu, aku berpura-pura meminta rokok. Dengan hanya bekal sebatang rokok dan kotak rokok yang sudah kosong, kuminta sedekah mereka, "Bang beliin rokok dong, habis nih!" Begitu trik rayuanku ketika menyediakan minuman di table mereka. Kalau beruntung, sebelum aku kelar melayani mereka, mereka akan bilang, "Ya ambil saja di kasir, tagihannya masukin abang." Huhuyyy seneng banget kalau udah gitu. Harga sekotak rokok di cafe tahun itu sudah 2 kali lipat harga rokok di warung. Kebayang, kan setiap paginya berapa uang yang kudapat dari hasil jual rokok hasil ngibul tadi. Apalagi kalau cafe sedang penuh sesak malam harinya.

Namun aksi-aksi tersebut terkadang ada apesnya. Para tamu itu tak sedikit yang memintaku merokok di depan mereka, sebelum memberiku sekotak rokok. Dari situlah awalnya aku merokok. Kebul-kebul mengisi hari-hariku. Bahkan setelah ijazah kelulusan ada di tanganku. Bahkan hingga saat ini.

Tetapi masalahnya, wanita merekok itu tidak semudah kaum pria. Pria bebas merokok di mana saja tanpa dipandang sebelah mata, apalagi sampai dikaitkan dengan moral dan etika. Aku sendiri juga heran, sejak kapan sih merokok hanya untuk kaum pria? Sampai saat ini aku masih mencari tulisan pada rokok kalau rokok itu hanya untuk kaum pria.

Stigma negatif itu entah sejak kapan ada di pemikiran orang-orang. Sedih yah, standarisasi moral seseorang hanya dilihat dari apa yang dikonsumsinya. Padahal kan yah semua tergantung pribadinya masing-masing. Toh yang tidak merokok bahkan berhijab banyak juga yang keluar masuk tempat mesum bersama kekasih-kekasihnya. Kalau kaya gitu siapa yang lebih pantas mendapatkan cap nakal, binal, dan liar?

Kalau masalah efek dari kesehatan biarlah para pakar kesehatan yang akan menjelaskan. Tapi aku berkeyakinan kalau merokok yah beresiko, makan gula dan micin juga beresiko. Tapi kan tetap saja orang memasak dengan menambahkan gula dan micin?

Anak-anakku juga tidak keberatan dengan aku yang merokok. Sempat aku tanyakan pada mereka pertanyaan seperti ini, "Kak, Dek, kalian punya mama ngerokok begini, nyesel enggak?"

"Nggak." Ketiganya menjawab serentak.

"Yang nyesel itu kalau mama nggak memberi pilihan untukku apakah mau menjadi perokok juga seperti mama, atau tidak." Si sulung menjawab dengan tenang.

Sementara yang kecil menjawab dengan manja sambil memelukku, "nggak akan benci, asal mama tidak minggat dan menelantarkan kita."

Lucunya anakku yang nomor dua, malah bilang sama adiknya, "Yuk ah, mama sedang merokok. Biarkan mama bahagia dengan hidupnya."

Kalau dipikir-pikir, setiap manusia punya jalan hidupnya sendiri-sendiri. Termasuk jalan memilih dosa dan bahagia. Jika anak-anak saja sudah bisa memiliki pola pikir yang begitu dewasa, lalu kenapa yang sudah dewasa malah tidak dewasa?

Setiap orang punya pilihan hidup. Jangan menganggap seorang perempuan yang merokok itu nakal dan hina. Lagian juga perempuan merokok itu rokoknya yah rokok, bukan "ngerokokin" abang-abang yang punya "rokok", ya cuy...


Lilin

Pengagum sunyi dan sendiri. Jejaknya dapat dilacak di akun Instagram @farren_farrenz