Anak Jurusan Pendidikan Agama Islam Itu Bukan Berarti Ustaz

carapandang

Cangkeman.net - Perkembangan zaman yang begitu cepat tidak lantas membuat asumsi masyarakat tentang beberapa hal hilang begitu saja. Khususnya masalah jurusan kuliah. Hal ini ditandai dengan banyaknya orang yang ingin mengklarifikasi atas jurusannya masing-masing, semata ingin memberi gambaran bahwa jurusan yang sedang ditempuh itu begini, lho, bukan begitu.

Beberapa orang mungkin menganggap kalau klarifikasi semacam ini dipandang sebagai sifat baperan, karena dikit-dikit kok klarifikasi. Namun, sebagaimana perkataan Raditya Dika, "Semua orang bebas mengatakan apa pun dan aku juga bebas untuk tidak peduli." Oleh karena itulah saya akan tetap menulis klarifikasi yang selama ini menjadi keresahan saya.

Saya pengin sekali menyampaikan hal ini karena menyangkut masa depan berbangsa dan bernegara. Halah...

Ini adalah keresahan semua anak PAI alias Pendidikan Agama Islam. Saya juga tidak paham bagaimana mulanya, tapi mahasiswa jurusan PAI ini selalu dianggap sebagai orang yang religius, alim, dan lurus-lurus. Itu sebabnya, saya sering sekali dianggap sangat mamou menjadi imam salat, memimpin doa, khutbah, atau bahkan tahlil. Pokoknya kalau masalah agama, anak PAI harus maju.

Emang sih, harapan masyarakat kepada jurusan kami sangat besar. Namun, kalau bisa harapannya yang relevan, tolong! Karena yang kami pelajari di bangku kuliah adalah materi Alquran, Sejarah Kebudayaan Islam, Aqidah, dan Fiqh, serta bagaimana cara menyampaikannya dengan baik. Sekali lagi, fokusnya adalah MATERI, bukan kemampuan praktis.

Artinya, kami disiapkan untuk dapat mengajari anak-anak sekolah tentang materi PAI. Jadi enggak ada hubungannya sama kealiman atau kemampuan untuk memimpin seluruh ritual keagamaan.

Kami memang mempelajari Alquran, Sejarah Kebudayaan Islam, Aqidah, dan Fiqh. Tapi bukan berarti kami ahli dalam 4 bidang tersebut. karena memang jurusan ini hanya mempelajari 4 bidang tersebut secara permukaan saja. Tidak secara mendalam.

Jadi, ketika berbicara masalah Fiqh, Syariah atau Hukum Islam, kami harus mengakui kehebatan anak Fakultas Syariah. Ketika berbicara ketuhanan, Fakultas Ushuluddin lebih layak dijadikan role model. Begitu pula ketika berbicara masalah Islam atau Ilmu Quran, anak-anak jurusan Sejarah atau Ilmu Alquran, pasti lebih jago.

Dalam bidang akademis, kami memang tidak memiliki keunggulan yang mencolok. Keunggulan kami hanyalah tidak memiliki kekurangan. Jangan bingung dulu, saya beri gambaran, misal ketika ada suatu perkumpulan di mana anggotanya adalah anak syariah, ushuludin, sejarah, ilmu quran, dan PAI. Lalu membahas masalah hukum Islam, kami bisa memahami. Begitu juga ketika membahas Quran, sejarah atau ketuhanan. Meski tidak ahli, tapi kami paham dengan apa yang diperbincangkan. Berbeda dengan jurusan lain yang khusus memahami materi di jurusannya masing-masing. Kami adalah jurusan yang menguasai beberapa bidang, bukan mengedepankan kekhususan bidang.

Tapi hal itu jugalah yang membuat kami dianggap paling menguasai segala ilmu agama. Ini menjadi momok menakutkan bagi kami. Seperti pada pengalaman saya mengejar di SD. Di sana saya sering disuruh menjadi imam salat, meski saya paling muda. Padahal saya bisa mengajar PAI ya karena memiliki legalitas berupa ijazah saja. Urusan keimanan mah tidak ada hubungannya dengan jurusan.

Dalam pertemuan antar guru PAI, saya sering menerima sambatan dari guru lainnya. Katanya, mereka sering mendapat tugas lebih di luar jam mengajarnya. Misalnya ketika ada anak kesurupan, yang dipanggil yah guru agama. Hingga ketika ada anak nakal juga  guru PAI yang disuruh mendoakan agar pintar. Pokoknya yang gitu-gitu mesti kami yang harus turun gunung.

Ketika saya masih mahasiswa pun saya sudah mendapatkan asumsi seperti ini. Dulu pas KKN, saya digadang-gadang menjadi guru ngaji di TPQ. Bukan karena saya memiliki pengalaman, tapi karena saya jurusan PAI.

Banyak juga pengalaman serupa dari teman-teman saya yang dianggap pasti mampu memimpin ritual keagamaan yang harusnya tidak hanya jurusan kami yang wajib bisa. Kan kemampuan untuk memimpin salat, berdoa, atau ibadah yang melibatkan hubungan sosial itu kemampuan yang gak ada hubungannya dengan jurusan kuliah. Karena itu, sangat tidak relevan melibatkan kegiatan sosial hanya karena jurusan tertentu. Apalagi hanya karena kalian malas dan tidak siap untuk memimpin, kemudian beralasan bukan jurusan PAI. Itu alasan konyol!


Afiqul Adib

Fresh graduate yang suka hidup hemat untuk foya-foya. Dapat ditemui di Instagram @aduib07