Berkomunikasi Terkadang Ribet, Tapi...

Christina @ wocintechchat.com on Unsplash

Cangkeman.net - Kalau bukan karena Mas Fatio, selaku baby sitter di grup WhatsApp Cangkeman, saya tidak tahu adanya konflik yang terjadi antara Mbak Iin Farliani dengan Sajak Kofe. Jujur, saya bukanlah penggiat sastra, seniman, atau sekadar memiliki ketertarikan besar pada bidang tersebut sehingga sayapun tidak tau nama-nama pihak yang sedang bekonflik. Namun, dengan mengetahui adanya konflik, seseorang bisa mendapatkan sebuah pelajaran yang digunakan agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi di masa mendatang.

Sebelumnya, saya ingin menyampaikan jika tulisan ini ditulis sebagai proses pembelajaran dari seorang yang mengamati konflik tanpa bermaksud memperkeruh suasana. 

Jadi konflik ini bermula ketika Mbak Iin Farliani bertanya, "Kalok mau kirim puisi ke Sajak Kofe, minimal berapa puisi, Min?" Disediakan honor kah bagi yang terbit?"

Sebuah pertanyaan to the point; langsung pada inti permasalahan yang merupakan gaya komunikasi generasi kini. Saya tidak tahu apakah Mbak Iin Farliani telah melakukan komunikasi dengan pihak Sajak Kofe sebelum menanykan hal di atas. Jika belum, gaya komunikasi yang dilakukan Mbak Iin Farliani bisa menimbulkan masalah, khususnya kepada orang yang lebih tua. Dalam perspektif saya, orang yang lebih tua bukan hanya dilihat dari usia biologis. Tetapi juga bisa disematkan kepada orang yang lebih berpengalaman atau orang yang merasa berpengalaman. Bentuk komunikasi tersebut dapat dinilai tidak sopan untuk orang-orang tersebut.

Saya tidak tau secara pasti apa yang menyebabkan orang-orang tua dan berpengalaman -serta merasa berpengalaman- berpikir jika gaya bahasa yang to the point seperti yang Mbak Iin Farliani lakukan itu tidak sopan. Barangkali, jika melihat dari sudut pandang usia, beda zaman bisa menjadi patokan. Beda zaman, beda pula gaya komunikasi. Barangkali norma kesopanan juga berbeda, khususnya dalam berkomunikasi. Tenty saja ada faktor lain yang bisa dijadikan alasan, misalkan pengalaman yang didapatkan dalam menjalani hidup. Barangkali pihak Sajak Kofe yang membalas chat Mbak Iin Farliani pernah ditegur karena berkomunikasi dengan cara yang sama dengan Mbak Iin Farliani, sehingga mempengaruhi dirinya dalam berkomunikasi.

Meski dalam pandangan saya, gaya komunikasi yang dilakukan Mbak Iin Farliani itu biasa saja, tidak ada unsur ketidaksopanan atau indikasi hilangnya etika. Namun tidak semua orang memiliki gaya komunikasi seperti itu.

Untuk gaya komunikasi, saya punya saran untuk generasi masa kini untuk cobalah sebelum memulai pembicaraan, gaya komunikasinya disesuaikan dulu dengan lawan bicara, apalagi jika komunikasi dalam bentuk teks, karena lawan bicara sangat mungkin tidak mengetahui intonasi yang kita gunakan.

Bisa juga menggunakan template standar ketika berkomunikasi; dimulai dengan salam. Bisa menggunakan salam yang biasa digunakan lawan bicara. Selanjutnya memperkenalkan diri. Bisa juga ditambahkan informasi nama panggilan yang biasa digunakan, lalu sampaikan tujuan. Terakhir, salam penutup. Ribet? Iya memang ribet. Tetapi memang orang-orang yang lebih tua dari kita , yang lebih berpengalaman, atau yang sekadar merasa, cenderung berharap komunikasi dengan cara yang demikian; formal dan kaku.

Namun, bukan berarti saya hanya melihat kesalahan yang dilakukan Mbak Iin Farliani saja. Pihak Sajak Kofe pun juga salah. Jika memang merasa pertanyaan yang diajukan Mbak Iin Farliani tidak sopan, tidak profesional, atau apapun yang intinya dianggap kurang berkenan, yah tidak perlu juga berlebihan dalam meresponnya. Bukannya malah merespon dengan kalimat seperti ini, "Kalok kamu mau kirim berapa puisi? Bersedia membayar berapa untuk diterbitkan di Sajak Kofe?"

Untuk pertanyaan pertama, saya katakan netral. Tetapi, pertanyaan kedua, bisa menimbulkan kesan merendahkan lawan bicara. Saya tidak tahu secara pasti apa maksud dari pertanyaan; bersedia membayar berapa untuk diterbitkan di Sajak Kofe? Menurut saya, pertanyaan ini sudah tidak fokus. Karena Mbak Iin Farliani sudah bertanya soal honor. Kalau tidak mendapatkan honor yah katakan, Pun demikian jika mendapatkan.

Selain mendapatkan pelajaran bagaimana berkomunikasi dan mengatur emosi yang baik, saya mendapatkan dua pelajaran lain yang menurut saya cukup penting. Pertama, lepaskan konsep 'paling' ketika berhubungan sosial atau sekadar berkomunikasi dengan orang lain. Entah merasa paling hebat, paling pintar, paling kuat, dan berbagai contoh lainnya. Konsep paling inilah yang seringkali membuat dunia kacau. Karena, jika ada yang paling, berarti ada yang kurang atau tidak sama sekali. Kemudian yang kedua, ketika berhubungan dengan orang lain, tanamkan hubungan yang berlandaskan pada saling menghormati, saling jujur, saling berbaik sangka, saling peduli. Bukannya saling tuduh, saling berprasangka buruk, amarah, bahkan kekerasan fisik atau psikis.

Sebagai penutup, saya berharap agar pihak manapun maupun yang mendukung pihak-pihak yang berkonflik, mampu menuntaskan konflik yang terjadi dengan baik. Sehingga semua yang terlibat bisa kembali damai lahir dan batin.


Angga Prasetyo
Laki-laki, prefer teh dibanding kopi. IG @anggaprass