Aku Resign Gara-Gara Mobil Bos Enggak Pernah Dicuci

Jawapos


Cangkeman.net - Waktu sudah menunjukkan pukul 19:02, satu jam berlalu sejak jam pulang kantor. Beberapa karyawan masih berjaga di depan monitor masing-masing, termasuk aku, yang waktu itu masih merumuskan Cangkeman. Yang lain, ada yang melanjutkan kerjaan, scrolling media sosial, merapikan folder kerjaan, atau hanya sekadar terawa karena bercandaan kosong yang kadang terlempar. Tapi yang pasti, pikiran mereka tertuju pada satu hal, rumah. Jam pulang yang "ngaret" di Indonesia sayangnya masih menjadi sesuatu yang biasa dan dianggap banyak orang sebagai hal yang lumrah, termasuk di tempatku bekerja yang sedang kuceritakan ini. Aku enggak bilang ini jelek ya, ini bisa jadi sesuatu yang bagus jika memang kesepakatannya membawa kebahagiaan dari sisi pekerja maupun perusahaan.

Tapi perihal musabab para karyawan ini belum pulang bukanlah soal kewajiban kerjaan, hanya tanggung jawab sosial saja, sebenarnya mau pulang pun ya monggo aja. Kalau aku sih ya karena memang lagi asik mengetik, trus juga nggak buru-buru amat untuk pulang, entah yang lain.

Cerita berawal dari salah satu atasan yang mempunyai anak satu-satunya, nah si anak ini karena gabut di rumah, ia kadang tiba-tiba datang ke lokasi kerja nyamperin orang tuanya. Karena masih kecil, anak bos ini jadi sering diajak main dan akrab dengan karyawan. Nah sialnya di hari itu -dan juga beberapa hari sebelumnya, anak ini cuma mau pulang dianter bapaknya, dan bapaknya kadang di luar kota. Alhasil, bapaknya menitipkan anak semata wayangnya itu ke para karyawan yang masih ada di kantor. Sialnya, ketika titah itu diberikan, informasinya si bos ini masih ada di Banten sedang menuju Jakarta.

Singkat cerita, pak bos datang hampir 2 jam dari kabar terakhir itu, dengan mobil Wuling andalannya, yang harganya paling mahal diantara wuling-wuling lainnya. Kami pun mengantar anak bos tadi ke parkiran, mencari mobil bapaknya. Diantara ratusan mobil yang ada, enggak sulit nemuin mobil doi, cari aja mobil merek Wuling, lalu lihat yang mobilnya paling kotor. Karena kotonya mobil dia, sama permanennya dengan merek yang tertempel di mobil tersebut, enggak berubah, bahkan dari sejak awal aku bekerja di situ.

Awalnya kukira karena dia termasuk orang yang sibuk, nggak ada waktu untuk mencuci mobilnya. Tapi sampai beberapa bulan lamanya kok masih sama ya, wah ada yang nggak beres nih. Momen mengantarkan anaknya ke parkiran selalu menjadi bahan penilaianku terhadap atasanku ini. Dan akhirnya karena kupantau mobilnya emang enggak ada niatan untuk dicuci, aku putuskan untuk RESIGN, iya resign, aku ajukan di bulan itu juga. Sebabnya, karena bos enggak pernah nyuci mobil.

Apa sih lebay?
Cari-cari alasan aja buat keluar?
Masalah sepele?

Mungkin masalah mencuci mobil dianggap sepele bagi sebagian orang, bagiku juga itu bukan sesuatu yang besar sih, tapi dengan tanggung jawabnya sebagai bos dan pimpinan perusahaan dia telah melewatkan sesuatu yang kecil itu, dan itu enggak bagus buat perusahaan kedepannya. Masalah sepele yang selalu tampak di depan muka dia aja enggak dia beresin, apalagi masalah-masalah kecil perusahaan yang pasti akan menjadi masalah besar kedepannya?

Untuk alasan sibuk, itu juga enggak masuk akal di logika. Menurut keyakinanku, sibuk adalah satu hal di pekerjaan, dan masih banyak hal lain di hidup seseorang, dengan keluarga atau hal rumah tangga misalnya, atau dengan hobi atau organisasi. Kalau sibuknya pekerjaan sampai membuat abai terhadap hal lain, ini adalah PR yang besar bagi seorang pimpinan. Toh mencuci mobil bisa didelegasikan kepada seseorang, atau sekarang sudah menjamur cuci mobil sistem drive thru yang cucinya pake robot, si pemilik duduk anteng di dalam mobil, bisa dengerin lagu, bahkan bisa kerja, atau bisa sambil video call orang kantor minta tolong jagain anaknya sebelum dia datang.

Alasanku untuk keluar dari sana tentu bukan hanya karena soal mobil kotor aja, ada beberapa faktor lain, pastinya bukan karena disuruh jagain anak bos dong. Tapi lebih kepada kebahagiaan karyawan yang kurang diperhatikan, kurangnya apresiasi kinerja, jam masuk kerja yang wajib ontime namun waktu pulang yang hampir tidak pernah ontime, budaya toxic yang tidak berusaha dibabat, dan banyak hal hal "kecil" lain yang luput dari perhatian pimpinan. Dan aku yakin, selama dia belum ngurusin mobil kotornya, urusan-urusan fundamental di kantor itu pun nggak ada dia sentuh.

Sebagai penutup, aku mau menceritakan sedikit pandanganku, yang melatar belakangi terjadi kisah di atas. Adalah bahwa setiap kantor atau tempat kerja adalah ibarat kendaraan umum, kamu pasti akan naik kendaraan umum ke tempat yang kamu tuju dong? atau setidaknya yang mendekati, yang nantinya kamu akan turun dan ganti kendaraan. Nah begitupun tempat kerja, kita sebagai pribadi pasti punya tujuan, entah pengin punya apa, pengin bikin apa, dan pengin jadi seperti apa. Dan kalau tempat kerjamu tidak mendekatkan kamu ke tujuan itu, buat apa?

Bagiku, kerja bukan soal cari uang, ini soal mengambil nilai-nilai kebaikan dan teladan dari tiap orang yang ada di dalamnya, pun ditambah dengan fasilitas kantor, bagaimana fasilitas itu benar-benar bisa menunjang kita menuju ke tujuan tadi. Dan yang paling penting, apa yang bisa kita pelajari dari bekerja di sana, dan value apa yang dimiliki orang-orangnya, atasan kita, misalnya.

Mungkin ini terdengar tidak umum, dan bagi kamu yang mempunyai pandangan berbeda, yuk kirim juga di Cangkeman.