Sesantai Apapun Tulisanmu, Tetap Pakai Aturan!

Designecologist on Unsplash

Cangkeman.net - Kalau kamu cinta dunia tulis menulis tapi kamu enggak akrab dengan KBBI dan PUEBI, maka cintamu PALSU!

Yah kalau enggak kenal yah maka taaruf. Eh diajak diajak kenalan biar makin cinta sama dunia tulis menulis, malah ngajak gelut, kelakuan siapa, sih, itu?

"Yang penting, kan, tulisan kita dimengerti."

"Yang penting banyak pembacanya."

"Ah, syirik aja, Bocah!"

Nye... Nye....Nye....

Begitulah contoh kalimat-kalimat orang yang tidak betul-betul cinta dunia tulis menulis.

Stop! Tahan dulu jarimu buat komen, baca sampai akhir dulu.

Berdasarkan aturan kepenulisan (dalam naskah fiksi maupun non-fiksi) penulisan narasi harus sesuai KBBI agar menghindari ambiguitas atau makna ganda. Namun, penulisan dialog , boleh tidak mengikuti aturan, seperti, kata "tidak" boleh menjadi kata "enggak / nggak".

Dalam proses menulis itu kita harus meninggalkan diri kita menjadi tokoh yang dihadirkan dalam cerita. Jadi, dalam menulis itu, yah jangan bawa apapun mengenai kepribadian kita atau kebiaasaan kita dalam tulisan.

"Kan ceritanya based on story, pengalaman pribadi juga. Gimana, sih?"

Kalau begitu, jadilah orang lain yang menceritakan kisah kita. Usah nyari-nyari kata buat menimbulkan perdebatan, ngulik-ngulik alesan buat bikin pembenaran. Yang pasti, nulis itu harus tetap sesuai aturan.

"Kan pake PoV 1, jadi 'aku' bercerita 'aku'."

Emang yakin itu nulis 100% kisah nyata, tanpa dibumbui sedikit imajinasi semata? Kayaknya nggak mungkin. Kalaupun iya, semua kejadian yang ditulis bisa jadi itu real, tapi belum tentu kalimat-kalimatnya itu real. Terkadang, beberapa penulis membubuhkan majas untuk menguatkan cerita. Jadi, masih yakin BOTS-mu itu benar-benar real?

"Akhirnya, setelah menikah, kutemukan cinta halalku di meja makan."

Paham maksud penulisan narasi di atas?

Dari kalimat itu, ada beberapa persepsi yang mungkin timbul di pikiran pembaca, apalagi yang ujug-ujug baca bagian sana. Mungkin kita akan menemukan dua persepsi yang berbeda dari kalimat tersebut. Yang pertama, si tokoh itu menemukan cinta halalnya di meja makan, yang berarti menemukan makanan. Selain itu, kita juga bisa mempersepsikan bahwa tokoh melihat seseorang yang telah sah baginya, saat sedang duduk di meja makan.

Oke, kita pakai contoh-contoh kalimat lain.

"Aku mau makan Nenek."

"Aku mau makan, Nenek."

Lihat dua kalimat di atas! Yang pertama, menulis sesuka hati.  Yang kedua menulis sesuai PUEBI. Renungkan saja bagaimana perbedaanya dan apa pengaruhnya terhadap tulisannya.

Satu lagi alasan, kenapa menulis harus sesuai aturan. Karena, kalau naskah kita jadi best seller atau seengaknya ada yang tertarik dengan cerita  yang kamu buat dan ada yang ingin menerjemahkan ke dalam bahasa lain, itu akan mempermudah mereka memahami maksud dari tulisan tersebut.


Minain

Dapat dikunjungi di Instagram @xyminain_