Miskin Gapapa, Tapi Jangan Terus Menerus Berlindung Pada Kata-Kata Motivasi

Hello Im Nik ok Unsplash

Cangkeman.net - Siang tadi aku pergi ke suatu Bank untuk mengambil dana Bantuan Subsidi Upah (BSU) dari pemerintah. Letak Bank yang aku tuju tidak cukup jauh dari tempat kerjaku, tapi aku perlu menggunakan sepeda motor untuk tiba di sana.

Setelah selesai mengisi formulir dan memberikannya kepada Customer Service, aku duduk menunggu di dekat parkiran bersama orang-orang lainnya yang juga sedang menunggu panggilan. Aku juga berbincang dengan orang-orang yang ada di situ.

Tiba-tiba ada salah satu orang coba basa-basi ke tukang parkir Bank, "Pak, ini parkiran dari ormas apa sendiri?"

"Ohh saya mah dari Bank."

"Enak dong pak, gaji dapet, kadang tips dari orang ngasih juga dapet."

"Sayamah ga mikirin dapet uang seberapa, yang penting ikhlas, cari berkahnya." Begitu kata bapak tukang parkir.

Yang mengajak ngobrol bapak tukang parkir cuma manggut-manggut lalu antusias menjawab, "Betul tuh, Pak. Orang yang penting ikhlas, ikhlas itu di atas sabar, kalau udah bisa ikhlas, bakal adem ayem dah idup."

Berikutnya obrolan tetap berlangsug dengan keduanya masih mengumbar kata-kata yang serupa yang intinya membangkitkan gairah untuk selalu bersyukur gitu-gitulah yang bahkan menurutku ungkapan-ungkapan yang mereka umbar udah basi banget. Wejangan-wejangan jangan menipu, jangan mencuri, selalu jujur dan blablabla terus didengungkan oleh mereka berdua. Aku sih yah dengerin aja, lagian mau ngapain lagi, paling rokokan sambil nunggu panggilan yang enggak lama setelah itu aku dipanggil duluan oleh pihak bank.

Seselesainya mengambil uang, aku bertemu orang yang tadi mengobrol dengan tukang parkir. Dengan raut wajah gusar, dia menanyakanku berbagai macam hal tentang apa saja yang dilakukan untuk mencairkan BSU. Nampaknya dia panik karena dia belum pasti mendapat dana itu, teman-teman sekantornya ada yang udah dapet dan ada yang belum, makanya dia gusar takut enggak dapat itu uang.

"Kalau gue ga dapet gimana, yah?" Ujarnya gusar.

Dengan sedikit melirik, aku jawab, "Yah berarti bukan rejekinya, sabar aja bang, yang penting ikhlas."

Setelah itu aku minggir sejenak ke bapak parkir yang ternyata nyambi jualan Es. Aku lihat ada seorang ibu yang pesan es teh manis harganya 4 ribu. Aku pun ikut pesan es teh manis serupa, namun aku tidak langsung membayar, melainkan minum dulu di tempat sambil tetap rokokan.

Singkat cerita, aku bermaksud membayar es teh manisku. Ternyata harga yang diberikan berbeda dengan harga untuk ibu yang tadi. Jika ibu tadi membeli es teh manis seharga 4ribu, es teh mansiku dihargai 5ribu. Busett dahh.

Aku tau aku baru terima uang cuma-cuma dan bapak parkir itu mencoba memanfaatkan situasinya. Yah gapapa sih sebenarnya uang seribu doangmah. Cuma aku enggak suka dengan caranya. Perkara aku baru dapat uang saja kok harga dibedakan, sedangkan tadi ngobrolnya jangan nipu blablabla. Tapi okelah aku lanjut pulang aja.

Saat akan pulang aku bayar parkir ke bapak tadi. Seharunsya sih bukan bayar parkir, karena emang parkir gratis dan tukang parkir itu emang digaji oleh pihak bank. Tapi yah tetap aja aku enggak enak jadi aku bayar parkir dengan uang 5 ribuan. Eh ternyata tidak kembali dooong. Padahal aku udah ngode nungguin di depan mukannya.

Enggak, aku bukan bermaksud mengungkit uangku yang 'hilang' tadi. Aku hanya mikir kok orang dua tadi baru ngomongin apa eh kelakuanya malah berbanding terbalik semua. Orang-orang seperti ini emang harus diakui banyak sekali di antara kita. Suka sekali kata-kata motivasi yang tujuannya bukan untuk memotivasi, tapi untuk meminimalisir ketidakmampuannya.

Hal ini enggak cuma terjadi dalam hal ekonomi seperti tadi. Dalam hubungan sosial lebih sering terjadi. Ada banyak orang kadang bikin status atau ngetweet yang isinya kurang lebih begini, "Sedang di masa sedang tidak mau peduli omongan orang, blblbla..."

Nyetatus atau ngetweet begitu sih enggak masalah, yang jadi masalah kalau yang nulis begitu kita tau kehidupan pribadinya itu bertolak belakang. Malah justru banyak orang yang menulis hal itu adalah orang yang punya "kuping tipis". Justru orang-orang yang enggak peduli dengan omongan orang lain malah enggak sempat atau enggak peduli sama sekali dengan apa yang terjadi sama orang-orang hingga dia ga sempat terpikir untuk menuliskan status begitu.

Banyak sekali di antara kita selalu berlindung dalam kalimat motivasi. Kita kadang kerap kali mengingkari kelemahan dan kesalahan kita sendiri dengan berlindung dari kata-kata bijak. Padahsl itu tidak akan membantu sama sekali. Kita tetap lemah dan malah tidak menjadi bijak.

Ada banyak kata motivasi, kata bijak yang memang dapat menumbuhkan karakter yang lebih baik. Tapi kalau kamu menggunakan kata-kata itu untuk ingkar kepada kelemahan kita, personalitasmu tidak akan ada yang melihat seperti kata-katamu, alias bacot doang gede.