Menjadi Guru Masa Kini

Gambar oleh Tribunnews

Cangkeman.net - Kita mungkin punya definisi masing-masing tentang guru. Entah guru yang ada di sekolah, entah seseorang yang telah memberima pengajaran dalam hidup atau apapun bisa kita jadikan guru. Tapi karena ini konteksnya adalah tentang hari guru yang mana sejarahnya adalah tentang guru-guru PGRI, maka yang ingin aku bahas adalah guru-guru yang ada di sekolah.

Aku punya banyak pengalaman dengan guru-guru di sekolah. Dari masa sekolah TPQ (Taman Pendidikan Quran) hingga SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), aku selalu punya pengalaman menarik nan juga unik. Aku pernah berak (BAB) di celana saat jam pelajaran hingga harus dicebokin guru, pernah jadi anak kesayangan guru, pernah diajak main ke rumah gurunya, pernah ribut sama guru, pernah nongkrong sama guru, pokoknya banyak pernahnya dah aku sama guru-guru sekolah.

Harus aku akui, ada banyak hal yang aku dapatkan saat ini adalah berkat para guru yang pernah mengajar aku. Aku bisa menulis dan membaca benar-benar dari sekolah, bukan belajar dari rumah dahulu. Lalu aku mulai belajar menulis puisi juga dari sekolah. Sampai sekarang aku masih ingat siapa-siapa aja guru yang punya pengaruh besar dalam hidupku.

Begitu besar jasa guru kepada kita, bukan berarti kita enggak boleh mengkritik atau mengoreksi para guru. Justru dengan kita mengkritik dan emngkoreksi para guru, itu bisa menjadi bahan perbaikan guru yang nantinya juga akan menjadi perbaikan kepada murid-muridnya.

Menjadi guru di masa sekarang emang jadi gampang-gampang susah. Ada banyak sumber ilmu yang bisa guru gunakan di masa perkembangan teknologi ini. Namun karena hal itu pulalah guru bukan lagi menjadi rujukan utama murid-muridnya. Secara pengetahuan, bisa jadi muridnya lebih banyak tau daripada gurunya. Tentu saja si murid punya lebih banyak waktu luang untuk mencari segala informasi dibanding gurunya, jadi wajar aja kalau murid lbisa lebih berpengetahuan daripada gurunya.

Dari sinilah peran guru di masa sekarang sudah bergeser dari yang sebelumnya menjadi pusat pengetahuan, sekarang menjadi kawan sejalan mencari dan mengolah pengetahuan. Guru di masa sekarang enggak dituntut banyak tau. Tapi guru dituntut agar mampu mendampingi muridnya ketika akan belajar apapun. Peran guru di sini bukan lagi sebagai pemimpin yang ucapannya harus selalu digugu dan ditiru, tapi kini sudah berubah peran menjadi partner rekan belajar murid dalam mengarungi lautan pengetahuan.

Jadi jangan harap bisa mendapatkan hormat dari murid-muridnya dengan cara-cara ancaman dan kekerasan. Karena kini murid dapat mengeksplore sendiri kemampuanya dan malah bisa menggusur eksistensi si guru tersebut. 

Berat memang untuk mengubah kultur-kultur yang sudah lama terbangun. Tapi perubahan harus tetap berjalan, kalau tidak mau jadi berantakan. Di sini menjadi peran penting para pemangku kepentingan untuk mendidik dan menelurkan guru-guru yang tepat di masa sekarang. Bukannya malahan ngeributin ke-PNS-annya hingga lupa kewajiban ngajarnya. Emang yang namanya guru yah berhak untuk dibayar, tapi jangan sampai lupa dengan kewajibannya. Yang jadi masalah sekarang juga adalah lebih banyak orang yang ingin jadi PNS lewat jalur guru daripada orang yang ingin jadi guru kemudian jadi PNS.

Sekali lagi aku tekankan, kalau bayaran, gaji dan kesejahteraan para guru itu penting. Aku juga tau nasib-nasib buruk para guru honorer itu. Tapi setidaknya guru harus bisa membagi waktu untuk kepentingan mengajarnya dengan kepentingan gajiannya.