Kamu Pengen Ole Dipecat? Baca Ini Dulu!

Gambar oleh Okezone

Cangkeman.net - Hilir mudik kabar pemecatan Mang Ole dari jabatan patenya sebagai manager Manchester United mulai rama menghiasi lini masa media. Hasil membagongkan kala menjamu Liverpool -dan terakhir melawan City- menyebabkan isu pemecetan akan dirinya terus bergulir. Namun pernahkah kalian berpikir kalau akan ada banyak hal yang disayangkan apabila Ole dipecat? Kita harus fair menilai Ole, karena dengan hadirnya Ole di kancah perpelatihan sepak bola dunia, doi udah memberikan banyak hal loh. Nih aku kasih alasan-alasan kenapa Ole enggak pantas untuk dipecat.

1. Selisih 5 Gol
Kalau kalian beranggapan kekelahan dari Liverpool di kandang dengan selisih 5 gol adalah alasan kalian pengen Ole dipecat, mungkin kalian lupa kalau Sir Alex Ferguson juga pernah mengalami hal yang sama. Di musim 2011/2012 silam, Setan Merah yang saat itu menghadapi si adik tiri Manchester City di Old Traford harus takluk dengan skor 6-1.

Nah terus apa bedanya Ole sama SAG? Jika begini kan enggak ada bedanya, kawan. Sama-sama kalah dengan selisih 5 Gol, tepongkeng di kandang sendiri, dan sama-sama melawan rival abadi. Tapi dulu mana ada tuh yang rame-rame teriak pake hashtag #FergieOut. Nah kok giliran Ole aja pada rame.

2. Hasil Tidak Akan Mengkhianati Proses
Hal ini mungkin jarang ter-notice para fans sok iye yang maunya instan macam memasak mie ijo-ijo yang udah mirip helm ojol. Kita harus paham kalau semuanya itu perlu yang namanya proses. Seinstant apapun mie ijo-ijo, akan tetap melewati fase perebusan air sampe blebek-blebek, lalu kita melakukan penantian hingga mie itu matang, bungkus pada bumbu juga perlu diguntung dulu, lalu baru dah.. tetep masih belum bisa dimakan sebelum bumbunya diolah bareng sama mie.

Jika masak mie aja harus bersabar menunggu hingga hasil masakan bisa dinimati, apalagi dalam membangun sebuah tim sepak bola yang solid. Bahkan nih, lagi-lagi ada fakta kalau manager sekelas Sir Alex Ferguson aja mengalami puasa gelar ketika melatih United di empat tahun pertamanya ia menjabat sebagai manager. Jadi, sudah sepantasnya Ole dipertahankan untuk tetap mengisi kursi manajerial United. Karena bukan tidak mungkin, setelah sama-sama melewati empat tahun tanpa gelar, United akan mengalami tsunami trofi bersama Ole.

3. Melestarikan Keberadaan Guru Penjas
Ole Gunnar Solksjaer adalah salah satu dari anggota persekutuan elit "Guru Penjas". Tidak semua pelatih mendapat predikat itu, loh. Hanya yang terpilihlah yang boleh memakainya. Dalam daftar ada nama-nama beken yang cukup terhormat untuk mendapat gelar guru penjas, yaitu Ole, Andreas Pirlo, Frank Lampard, Ronald Koeman, dan juga Mikel Arteta. Dari nama-nama tersebuit, tiga di antaranya sudah menemui titik pemecatan, yakni Pirlo, Lampard, dan Koeman. Kini tinggal Ole dan Arteta dari semua guru penjas yang tersisa. Apa jadinya jika nanti Ole dipecat? Tentu itu akan membuat Arteta mengarungi musim sbegai seorang guru penjas seorang diri.

4. Memuliakan Tamu
Mungkin ini adalah hal yang dinilai sepele. Namun tindakan memuliakan tamu adalah salah satu perilaku yang terpuji. Ole hadir dengan sifat ramahnya yang selalu membuat tamu tersenyum bahagia ketika United menjamu mereka di Old Traford. Sudah banyak poin-poin yang disedakahkan Ole kepada tim tamu. Dari tamunya yang berstatus sebagai tim anta barantah, tim zona degradasi, tim medioker, sampai tamu-tamu elit layaknya pejabat, semua sudah pernah merasakan kedermawanan Ole.

5. Menghibur Banyak Orang
Poin puncaknya ada di sini. Manchester United itu ibarat Miss Indonesia dengan slogan khasnya, "Semua Mata Tertuju Pada MU". Saat MU latihan, saat MU latihan, saat MU kalah, imbang, dan menang, semua media selalu suka menyorot keadaan mereka, untuk kemudian mengolahnya menjadi yang bisa menghasilkan cuan. Ya, seperti yang saya lakukan saat ini. Daya tarik MU memang sangat menyilaukan untuk menjadi sumber pundi-pundi rupiah. Lumayanlah, hasil ngebahas MU itu paling tidak, bisa membantu perekonomian untuk sekadar check out barang lucu dari keranjang aplikasi belanja online. di mana isi keranjangnya ternyata sudah bertumpuk 99+.

Tidak dipungkiri, teman-teman. Permainan MU era Ole ini sungguh ikonik. Walaupun kita tahu tidak ada pola dan arahnya, atau bahkan saya menjulukinnya sebagai "Teka-Teki Ala Ole". Namun hadirnya Ole di sepak bola elit Eropa, apalagi menangani tim sekelas MU yang asik untuk diroasting selalu memberi warna pada hari-hari para penggemar si kulit bundar. Kita harus akui, taktik Ole ini sangat menghibur, menghibur lawan maksudnya...


Yunita Devika Damayanti

Pelajar paruh waktu yang mencintai sepak bola