Kalau Indonesia Tiru Sistem Pendidikan Ala Finlandia, Apakah Pendidikan Kita Akan Maju? Oh Tidak Semudah Itu!

Hayffield L on Unsplash

Cangkeman.net - Kita cukup sering mengeluhkan ketidakpuasan pendidikan di Indonesia. Berbagai solusi diutarakan oleh berbagai orang. Beberapa di antaranya mengemukakan agar sebaiknya Indonesia meniru sistem pendidikan ala Finlandia.

Finlandia memang kerap dipandang sebagai negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik sedunia. Karena itulah beberpa orang berpikir jika ada suatu sistem yang sangat baik di suatu negara, mengapa tidak di-copy-paste saja?

Masalahnya, tidak semudah itu. Untuk meniru suatu sitem juga ada ilmunya. Enggak bisa betul-betul langsung diterapkan tanpa melakukan berbagai pertimbangan. Ini bukan masalah hak cipta, tetapi lebih ke arah apakah sistem tersebut betul-betul cocok atau tidak diterapkan ke negara yang kita cintai ini.

Mari kita lihat dari peserta didiknya. Salah satu yang dapat dilihat sebagai pertimbangan adalah kadar IQ yang dimiliki. IQ atau Intelligence Quotient merupakan satuan tingkat kecerdasan yang dipunyai seseorang. Mungkin ada yang beranggapan IQ itu enggak penting. Dalam beberpa kondisi, hal itu memang ada benarnya. Tetapi dengan melihat IQ ini, kita dapat melihat seberapa besar tingkat intelegensi yang dimiliki sesorang. Hal ini berkaitan dengan sitem pendidikan itu sendiri.

IQ memang hanya mengukur kecerdasan secara umum. Artinya, tingkat kecerdasan spesifik yang dipunyai seseorang bisa dikatakan diabaikan dalam sudut pandang IQ. Menariknya, IQ juga melihat seberapa cepat seseorang belajar atau minimal menangkap informasi baru. Jadi, semakin tinggi nilai IQ yang dimiliki seseorang, semakin cepat seseorang belajar atau sekadar menangkap informasi. Sederhananya, IQ adalah angka yang ditunjukkan pada speedometer, mirip yang terpasang pada kendaraan.

Dalam buku IQ and the Wealth of Nations, karangan Richard Lynn; seorang profesor dalam bidang Psikologi di Universitas Ulster, Irlandia Utara tercatat rata-rata IQ penduduk Finlandia sebesar 97 sementara Indonesia 90. Perlu dioketahui, perbedaan tujuh poin merupakan jarak yang cukup jauh. Emang sih, kalau dilihat dari konsep intelegensi menurut Binet, skor IQ antara 90 hingga 97 masuk dalam kategori kecerdasan rata-rata, tetapi tetap saja ada perbedaan jarak kemampuan daya tangkap antara orang Indonesia dan orang Finlandia.

Jadi dari perbedaan kecepatan daya tangkap ini, orang Finlandia misalkan dapat mempelajari suatu hal dalam waktu 1 jam, orang Indonesia akan membutuhkan waktu yang lebih lama. Maka tidak heran durasi belajar mereka lebih ringkas dibandingkan jam belajar di Indonesia. Karena 'spesifikasi' yang mereka punya jauh lebih tinggi.

Jika kita ingin menerapkan sistem pendidikan Finlandia, misal dengan memangkas jam belajar agar sama dengan Finlandia, saya pikir bukan langkah tepat. Apa jadinya bila sebuah sistem yang digunakan untuk orang-orang yang punya spesifikasi lebih tinggi, diperlakukan kepada mereka yang memiliki spesifikasi yang lebih rendah?

Mungkin berdasarkan hal itu, kita dapat sedikit mewajarkan tentang durasi yang lebih panjang di Indonesia. karena secara umum, tingkat intelegensinya demikian. Memang, untuk beberapa orang yang memiliki IQ di atas rata-rata bahkan superior, akan merasa bosan dan tertekan dalam proses belajar.

Namun, bukan berarti untuk mereka yang masuk kategori biasa saja atau bawah rata-rata berkecil hati, apalagi dilabeli bodoh karena membutuhkan waktu belajar lebih lama. Menurut saya yang pernah belajar psikologi di perguruan tinggi, saya menemukan fakta menarik terkait kecerdasan manusia. Ada fakta bahwa mereka yang masuk golongan rata-rata atau di bawahnya, justru memiliki daya tahan lebih kuat dalam melakukan pekerjaan yang sifatnya repetitif.

Mencari dan menyusun sistem pendidikan bukan perkara mudah. Apalagi jika sistem tersebut akan dipakai untuk satu negara. Sekadar meng-copy-paste sistem pendidikan yang berlaku di Finlandia belum tentu membuat sitem pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik. Karena dalam sudut pandang tingkat kecerdasan masyarakatnya aja udah berbeda.



Angga Prasetyo
Laki-laki, prefer teh dibanding kopi. IG @anggaprass