Kalau Aku Meminta Kepada Langit, Kamu Mau Apa?

Gleen Carstens Peters on Unsplash

Cangkeman.net - Sejak mulai ngetrend tentang orang-orang yang meminta kepada lagit dengan kata-kata yang dimulai dengan "Langit... Bisakah kau..." aku sih yah biasa aja. Dengan konten yang bermaksud melaw hingga dijadikan parodi lucu-lucuan yah menurutku sah-sah aja. Lagipula aku enggak pernah ambil pusing terhadap apa yang dikerjakan oleh orang lain. Bagimu kontenmu, bagiku kontenku.

Hingga muncul beberapa orang yang menentang trend tersebut. Dalihnya, bahwa trend tersebut berbahaya bagi keimanan seseorang karena meminta sesuatu kepada selain Tuhan, yang dalam hal ini kepada langit.

Sampai di sini aku masih tidak peduli, apalagi ini menyangkut keimanan. Masalah iman itu sangat personal dan itu urusan pribadi masing-masing. Mungkin saja emang iman orang tersebut kadarnya hanya sampai ketika bikin konten "Langit ...." langsung ujug-ujug menjadi penyembah langit. Yah kan kita enggak bisa mempermasalahkan yah, emang kemampuan iman mereka sampai situ yaudah urusan dia juga.

Tapi ternyata, setelah beberapa waktu trend "Langit..." itu berjalan eh ada juga ternyata yang suka komentari konten-konten tersebut untuk "Sekadar Mengingatkan" para konten kreator untuk berhenti membuat konten tersebut. Rentan syirik, katanya.

Wah kalau udah tahap ini sih aku enggak sepakat. Yah pemahamanmu tentang keimanan itu hakmu. Tapi ketika kamu memaksakan orang bahkan langsung menuduhnya syirik, penyembah langit, blablabla itu sih namanya offside.

Aku ga tau, apakah orang-orang tersebut benar-benar paham tentang keimanan yang mereka gemborkan. Tapi juga aku dapat memahami, bahwa hal-hal yang mereka lakukan emang sering kali dilakukan oleh banyak orang.

Orang-orang termasuk aku pasti pernah mengalami di mana merasa bangga ketika kita bisa melawan arus, melawan trend, apalagi perlawanan kita didukung argumen orang-orang yang cukup kompeten dalam suatu bidang.

Ketika kita di masa seperti itu, yah sebenarnya enggak masalah juga kalau kita mau berbeda pandangan dengan orang masyarakat umum. Yang jadi masalah adalah ketika kita memiliki pandangan yang berbeda dengan masyarakat umum dan kita merasa lebih keren, lalu kita menunjuk masyarakat telah melakukan kesalahan. Selain kamu tidak akan banyak digubris, hal-hal semacam itu justru akan membuatmu uring-uringan sendiri.

Lagian yah kalau ada orang menyembah langit yaudah sih biarin. Seperti yang udah aku bilang tadi di awal, prinsipku itu tentang keimanan yah masalah personal, kalau ada orang yang mau nyembah telor asin yaudah sakarepe. Yah kalau kamu enggak sepakat sama prinsipku juga yah sah-sah saja, bisa tuh tuliskan argumenmu kenapa enggak sependapat sama aku, kirim dah ke redaktur Cangkeman.