Sebuah Alasan Bahwa Arisan Tak Selamanya Buruk

Gambar : Kumparan


Cangkeman.net - Arisan merupakan salah satu aktivitas ibu rumah tangga yang sering dipandang sebagai kegiatan sia-sia. Apa yang dilakukan tidak lebih dari bergosip ria, makan dan minum bersama, dan tentu saja mengocok nama untuk menentukan siapa yang mendapatkan jatah di waktu berikutnya. Terkadang mereka mengikuti lebih dari satu arisan. Dari arisan tingkat RT, tingkat lingkungan, mungkin juga arisan keluarga dan arisan yang anggotanya berasal dari di mana anak-anak mereka bersekolah. Pertanyaannya, apakah kegiatan arisan betul-betul buruk tanpa manfaat? Jika demikian, mengapa para 'penjaga' rumah ini tetap melakukan kegiatan arisan meski seringkali dipandang negatif? 

Sebagai laki-laki sekaligus pejuang cuan, saya pernah berpikir bahwa kegiatan arisan tidak lebih dari menghambur-hamburkan uang. Bagaimana tidak? Dua dari sekian pintu kontrakan petak yang saya punya, diketahui uang sewa yang diterima setiap bulan dialokasikan untuk biaya arisan. Sebagai keluarga yang nggak kaya-kaya amat, mengetahui fakta tersebut membuat saya memicingkan mata. Seharusnya uang segitu bisa digunakan untuk menambah nominal tabungan, misalkan. Tetapi setelah menjalankan Work from Home selama lebih dari setahun, saya memiliki perspektif baru. 

Bayangkan kamu merupakan seorang istri yang telah melahirkan dua anak, berkomitmen mengurusi segala tetek-bengek urusan rumah tangga. Kamu adalah orang yang pertama kali bangun dari istirahat malam, mempersiapkan sarapan dan berusaha merayu si sulung untuk bangun agar bersiap sekolah. Belum lagi terkadang muncul drama kecil di pagi hari. Si sulung tiba-tiba ngambek tak mau sarapan, ditambah si bungsu terbangun disaat yang kurang tepat. Setelah anak bersekolah dan suami pergi bekerja, kamu masih harus mengurusi pekerjaan rumah tangga; ngemong si bungsu, membersihkan rumah, barangkali selagi istirahat disambi sarapan dan memperhatikan segala aktivitas si bungsu. 

Siang sedikit apabila terdapat jemuran, kamu menyetrika. Jam makan siang, anak sudah selesai bersekolah dan kalian makan bersama. Istirahat sebentar lalu dilanjut memasak untuk makan malam. Selanjutnya jika menemukan pakaian kotor menumpuk, kamu mesti mencuci. Tak terasa adzan Ashar berkumandang. Hari sudah menjelang sore. Sang suami dalam perjalanan pulang atau mungkin sudah tiba di rumah. Mungkin saja kamu masih harus mengurus si bungsu, atau sekedar menyiram tanaman sambil menunggu waktu makan malam bersama, lalu diakhiri dengan istirahat sebentar sebelum tidur malam.

Mungkin kamu berpikir semua kegiatan di atas sangat mudah dilakukan. Namun pada kenyataannya, apa yang kamu bayangkan nyatanya sulit dan sangat menguras tenaga, pikiran, terkadang emosi. Terlihat sepele memang, tapi mengurusi kegiatan rumah tangga bukan pekerjaan sepele. Terdapat kemampuan tersendiri yang harus dipunya agar pekerjaan yang dilakukan tetap baik. Sama seperti pegawai kantoran dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya membutuhkan kemampuan tertentu agar hasil pekerjaan menjadi memuaskan. Kalau tidak, akan mendapatkan komplain. Pun demikian ibu rumah tangga dalam menyelesaikan berbagai tugas dan tanggung jawabnya.

Fakta selanjutnya yang mesti diketahui adalah berbagai kegiatan tersebut nyaris dilakukan sepanjang waktu. Meski terkadang terjadi perubahan kecil di sana-sini, misalkan ada waktu untuk berlibur bersama, atau sang suami membantu sedikit. Terlebih saat pandemi, sangat bisa kepala rumah tangga membantu sang istri selagi pekerjaan tidak menumpuk banget. Tetapi tidak mengubur fakta bahwa sang istri yang mayoritas mengurusi semua kegiatan berumah tangga. Pandemi harus diakhiri. Artinya, suatu saat nanti, sang suami kembali bekerja penuh di kantor sementara sang istri kembali mengerjakan berbagai tugas rumah tangga seorang diri.

Jika melihat dari jam kerja, jam kerja yang dipunya ibu rumah tangga sebetulnya sama dengan milik suami. Tetapi kalau mau mencari perbedaan, bisa dilihat dari tempat kegiatan dan urusan pembayaran. Jika suami bekerja dan diberi bayaran oleh perusahaan sementara sang istri tidak. Memang gaji suami diberikan istri entah penuh atau tidak tergantung kesepakatan bersama. Tetapi itu uang hasil jerih payah suami bukan istri. 

Bukan tidak mungkin ada waktunya kamu jenuh dengan kegiatan berumah tangga. Hal lain yang mungkin terjadi adalah munculnya keinginan untuk bersosialisasi. Hampir sepanjang waktu kehidupan berumah tangga, 'dunia' yang kamu punya itu-itu saja, menghadapi hal yang sama dan bertemu dengan orang yang sama. Dari sini muncul keinginan untuk bersosialisasi dengan orang lain, minimal sekedar beramah-tamah. Di mulai dari tetangga, berlanjut ke skala yang lebih luas, seperti; tingkat RT, lingkungan, kerabat yang kebetulan tinggal di wilayah yang sama dan seterusnya. Mungkin dari kegiatan macam itu tercetus ide arisan.

Berdasarkan penjelasan yang cukup mendetail dari yang saya kemukakan di beberapa paragraf sebelumnya, arisan merupakan tempat untuk menyalurkan emosi bagi ibu rumah tangga. Saya pikir tujuan tersebut sangat baik. Terkadang kita butuh tempat untuk menyalurkan emosi. Sudah banyak berbagai artikel yang menyatakan bahwa perempuan merupakan makhluk yang lebih mengedepankan sisi emosi dibandingkan pikiran. Dalam kegiatan arisan, salah satu aktivitasnya adalah bergosip. 

Arisan tanpa bergosip bagaikan handphone tanpa pulsa. Di masa sekarang, handphone tanpa pulsa hanyalah benda tak berguna. Demikian dengan arisan tanpa gosip tak lebih dari kegiatan sia-sia. Kalau membicarakan gosip, aktivitas ini lebih menjurus membicarakan hal remeh yang tak tahu ujungnya di mana. Ya memang itu tujuannya. Dalam kondisi bosan diakibatkan menjalankan kegiatan yang sama dan bertemu dengan orang yang sama, buat apa menambah pikiran berat yang dirasa tak perlu? Terkadang membicarakan hal remeh memang perlu. Agar hidup tak terlalu kaku.

Suatu waktu, saya bertanya pada dirinya; “Apa alasan utama kamu dalam mengikuti arisan?” Kemudian dijawab; “Kalau ku tak ikut, dari mana lagi ku kan mendapatkan teman?” Jawaban sederhana namun sangat menusuk. Memang dulu saya pernah menawarkan agar dirinya memiliki usaha sampingan. Tak perlu sampai beromset berjuta-juta. Minimal bisa mengusir kebosanan dalam mengurusi rumah tangga. Barangkali dari kegiatan tersebut bisa mendapatkan teman baru juga. Tetapi ditolak olehnya. Lalu saya menambahkan; “Ah, memang dasarnya saja kamu yang malas.” Kemudian ia hanya tertawa malu sebelum mengatakan bahwa dari arisan sudah lebih dari cukup dalam mendapatkan teman. Sementara urusan mencari uang diserahkan sepenuhnya kepada saya.

Di lain waktu, saya pernah mengalami kejadian unik. Ketika sedang membeli sarapan untuk keluarga, sang penjual bercerita macam-macam berbagai hal baik yang telah saya lakukan. Saya cukup terkejut dan bertanya dari mana mendapatkan informasi tersebut. Sang penjual mengaku mendapatkannya dari sang 'penjaga' rumah kami yang kebetulan sebagai teman arisan sang penjual. Berangkat dari kejadian tersebut, saya berpikir bahwa arisan ternyata bisa menyebarkan pengaruh baik tentang keluarga kita. Semakin banyak tersebar hal-hal baik mengenai keluarga diketahui oleh orang lain, tentunya sejalan dengan semakin tinggi martabat keluarga yang kita punya. Hal ini membuat saya semakin bangga dengan dirinya dan semakin semangat dalam mencari rezeki.

Arisan memang sering dipandang buruk bagi beberapa orang. Tetapi jika kita melihat dari sisi lain, nyatanya terdapat beberapa manfaat yang dirasakan oleh sang penggiat arisan. Namun, bukan berarti membuat ibu-ibu rumah tangga yang memiliki hobi ini hanya berfokus kepada arisan lalu mengesampingkan berbagai tanggung jawab berumah tangga. Jika mereka mengurusi segala tetek-bengek rumah tangga dengan baik, mengapa tidak diizinkan saja mereka mengikuti arisan tanpa memandang kegiatan tersebut tak punya manfaat?


Angga Prasetyo
Laki-laki, prefer teh dibanding kopi. IG @anggaprass