Sandwich Generation : Nasib yang Mau Gak Mau Harus Kita Jalani

Mae Mu on Unsplash

Cangkeman.net - Sebagai anak muda yang bekerja di perusahaan dan membagikan hasilnya kepada orang tua untuk kehidupan sehari-hari, aku kadang berpikir bahwa suatu saat aku akan menjadi salah satu sandwich generation.

Sandwich generation bukanlah generasi yang suka makan sandwich. Bukan, artinya beda jauh dari itu, atau bahkan mungkin generasi ini bakal jarang sekali makan sandwich. Yah karena maksud dari sandwich generation  sendiri adalah suatu generasi yang memiliki ekonomi yang terhimpit dari atas dan bawah, persis seperti isi dari sandwich yang berhimpitan. Generasi ini biasanya terbebani dengan kewajiban membiayai keluarga meereka seperti anak dan istri dan di sisi lain juga harus tetap membiayai orang tua mereka. Nah, kenapa sih ada orang-orang yang memiliki nasib seperti sandwich ini?

Tentu faktor ekonomi turun temurun adalah faktor utamannya. Jika kita terlahir dari orang tua yang cukup uang untuk membiayai kita dan bahkan hingga wafat mungkin masih dapat meninggalkan warisan, mungkin generasi ini enggak akan pernah kita rasakan. Yah kalau sebealiknya, boro-boro dapat warisan yekan, yang ada kita harus tetap membiayai kehidupan orang tua kita di samping membiayai keluarga kita.

Menjadi generasi sandwich adalah sebuah takdir atau keniscayaan yang enggak bisa dihindari. Susah senangnya harus dijalani, tergantung kamu sang pelaksana. Kalau kamu kerjaanya enak dengan gaji yang cukup besar seperti redaktur Cangkeman yah enggak perlu takut menjadi sandwich generation. Mau membiayai atas bawah jadi gampang aja, bahkan kamu bisa memutus rantai generasi sandwich ini.

Yah kita harus sadari, generasi sandwich ini biasanya terjadi secara turun temurun. Kalau kamu saat ini terjebak dalam sandwich generation, kemungkinan besar orang tuamu juga dulu mengalami hal yang serupa. Mereka selain menghidupimu juga menghidupi mbahmu. Nah kalau kamu enggak berhasil memutus rantai sandwich generation ini, kemungkinan besar anakmu akan menjadi generasi sandwich juga.

Walaupun aku sendiri baru menjadi calon sandwich generation, karena aku belum berkeluarga, tapi hal itu harus aku persiapkan sedini mungkin. Tentu bukan hal yang mudah. Banyak para sandwich generation yang mengeluhkan tentang hal ini. Kalau kamu bukan bagian dari generasi sandwich ini, yah enggak usah julid juga dengan mengatakan, "Yaelah itu kan orang tua lu, udah sepatutnya kita nafkahi sebagai wujud balas budi ke mereka."

Biarin aja para generasi sandwich ini mengeluh. Toh mereka tetap menjalani suka duka menjadi sandwich generation, kok.

Kalau kamu sama sepertiku yang nantinya berpeluang besar menjadi sandwich generation, maka kita perlu persiapan sedini mungkin. Karena penyebab utama dari sandwich generation adalah ketidakmampuan membiayai hidup hingga akhir hayat, maka kita harus rajin-rajin menyimpan dana untuk masa ketika kita pensiun atau sudah tidak produktif lagi. Dengan adanya dana cadangan tersebut, kita enggak perlu takut lagi nantinya kita enggak punya dana di masa tua. 

Untuk mempunyai dana pensiun itu yang pertam itu kita harus punya prinsip. Karena sebanyak apapun teori keuangan atau saran financial yang diberikan oleh keluarga, teman, pacar, atau mantan, akan sia-sa kalau kita sendiri enggak punya prinsip untuk menyimpan dana kita.

Aku sendiri sebenarnya masih sulit untuk menerapkan prinsip tersebut. Tapi kalau kita mulai terbiasa menabung, setidaknya ada harapan untuk memiliki dana masa depan nanti. Untuk kamu yang masih foya-foya gimana? Yah sakarepmu lah cok. Itu juga duit-duitmu, yang penting kalau enggak ada uang jangan utang ke aku~

Yah kalau kamu bukan termasuk dalam generasi sandwich, yah bersyukurlah dan tetap berusaha untuk tidak menyusahkan anak-anakmu nanti. Mbok yah udah enbak enggak usah bantu orang tua, cukup mikirin diri sendiri kok yah masih sempat-sempatnya gitu nyusahin anak di masa tua. Udah enak enggak punya rantai sandwich generation eh malah bikin rantai baru buat anak-anakmu. 


Teguh 
Suka kopi, tidur, dan Manga. Apalagi diri sendir