Mahasiswa Asing dan Kampus Asing yang Selalu Wah!

Sigmund on Unsplash

Cangkeman.net - Beberapa tahun lalu, embuh aku lupa tahun berapa, Pak Jokowi saat itu memperkenalkan staff ahli milenialnya. Dengan gaya yang khas-khas anak muda lah yah, Pak Jokowi memperkenalkan staffnya itu satu persatu. Dengan raut wajah yang terlihat sangat bangga, Pak Jokowi juga menyebutkan almamater masing-masing staff ahlinya yang ternyata semuanya lulusan kampus asing.

Sebagai alumni UIN, aku langsung mengkaget, mengkerut, dan insecure. Duh apalagi yang alumni IAIN, Stain, atau IAI yahh. Padahal pas jadi Maba, weileh semua kampus dalam negeri saling klaim bahwa kampusnya adalah kampus terbaik. Ehh Pak Jokowi milih staffsusnya aja justru milih lulusan asing. Luarrrr biasaaa...

Nah, pas awal-awal tahun ajaran bulan Juni kemarin, di sebuah perempatan lampu merah ada banner milik kampus swasta di daerah Ponorogo yang nama kampusnya mungkin sangat tidak familiar buat kalian. Dan di dalam banner tersebut ditampilkan beberpa mahasiswa asing yang berkuliah di kampus itu. Jelas itu sebagai sebuah branding kalau kampus tersebut adalah kampus yang top. Buktinya, mahasiswa asing aja kuliah di situ, masa kamu enggak?

Selain kampus swasta tersebut, ternyata ada juga kampus negeri yang juga pasang banner dengan menampilkan dosen-dosen mereka yang sedang melakukan studi di luar negeri dan menyebutkan juga beberapa dosen yang juga alumni kampus luar negeri. Tau kan maksudnya apa?

Fenomena membanggakan hal yang bebrbau asing ini juga bukan hanya tentang kampus asing. Mahasiswa asing yang kuliah di Indonesia-pun kerap kali mendapatkan berbeda, atau lebih tepatnya lebih diistimewakan.

Saat masih kuliah di UIN, kebetulan pernah sit in dengan mahasiswa daroi Bangladesh. Belum apa-apa tuh mahasiswa udah dapat previllage yang lebih,  Lur. Doi boleh keluar asrama di atas jam 10 malam, padahal mahasiswa yang lain hanya dapat keluar asrama di bawah jam 10 malam. Alasan pengurusnya juga gokil dah, Beda budaya katanya, orang Bangladesh enggak suka dikekang. Halah...

Nah pernah juga kejadian tuh di asrama listriknya konslet. Ternyata berasal dari kamar mahasiswa Thailand yang bawa Magic Com, sama kulkas kecil. Lah jelas kita kaget, kok mereka boleh bawa begituan, lah kita bawa hitter buat nyeduh kopi aja disita. Terus apa alasan mereka diperbolehkan membawa perangkat elektronik tadi? Ternyata alasannya karena mahasiswa Thailand enggak kuat naik turun tangga, jadi mereka boleh bawa alat elektronik di kamr, gileee.

Aku jadi bertanya-tanya, kalau ada mahasiswa kuliah di kampus luar negeri, apa mereka dapat perlakuan yang sama yah sama mahasiswa asing yang kuliah di sini? Apakah mereka mendapat previlage-previlage yang berlebih dibandingkan mahasiswa lokal atau seengaknya dibuatin banner "Selamat Datang Mahasiswa Indonesia" seperti kampus-kampus kita menyambut mahasiswa asing di kampusnya.

Terus kan kita kadang cuma tau kalau si A kuliah di Jepang, si B kuliah di Taiwan, si C kuliah di Manchester gitu. Tapi kan kita enggak tau mereka itu kuliah di kampus yang seperti apa? Bisa jadi mereka berkuliah di kampus kecil dan terpencil sama seoperti kampus-kampus di negara kita. Bisa jadi kan? Tapi yah enggak masalah, yang penting kan kampus asing.

Tapi hal-hal di atas menurutku adalah sebuah keambiguan yang hakiki. Kampus dalam negeri membanggakan mahasiswa asing yang ada di kampusnya, eh tapi di saat yang sama, kampus dalam negeri membanggakan mahasiswanya yang melanjutkan study di kampus asing.

Tapi kalau melihat bagaimana Pak Jokowi membanggakan stafsusnya yang lulusan kampus asing, kayaknya udah cukup buat menggambarkan deh. Pak Presiden ingin menyempaikan kalau kampus di negara kita kurang bagus, nah maka kuliahlah di kampus asing, maka kamu akan jadi stafsus. Itu!

Lutfiana Mayasari

Ibu rumah tangga yang hobi menulis. Suka nulis yang formal, tapi suka juga nulis curhatan. Bisa disapa di ig @lutfianamasari