Kenapa Konten Penjual Kemiskinan Laris Manis?

suara.com

Cangkeman.net - Sebelum ramai kasus tentang seorang artis yang memarahi bapak-bapak yang mengikutinya untuk meminta bantuan, dari dulu sebenarnya aku enggak suka hal-hal yang sifatnya menjual kemiskinan.

Dari dulu acara TV seperti acara "Uang Kaget" atau semacam "Bedah Rumah" itu aku udah agak gimana dengan acara-acara seperti itu. Dan beberapa tahun ke belakang dengan melejitnya Youtube sebagai platform yang memberikan bayaran, banyak konten kreator yang membuat acara yang sistemnya enggak jauh beda dengan acara TV yang aku sebutkan tadi.

Lah, apa hubunganya dengan Youtube sebagai platform yang memberikan bayaran -melalui iklan- dengan konten kreator yang membuat konten menjual kemiskinan? Yah ada. Masyarakat kita itu sangat candu dengan harapan-harapan, motivasi, dan hal-hal yang sifatnya miracle. Kemiskinan-kemiskinan yang terjadi secara struktural membuat masyarakat sangat menggilai keajaiban. Hal itu digunakan oleh para konten kreator. Dengan modal beberapa puluh juta atau mungkin hanya beberapa ratus ribu rupiah, para konten kreator mencitrakan dirinya sebagai pembawa mukjizat, seorang darmawan. Sementara penonton semakin candu melihat aksi-aksinya di layar gawai sambil berharap sang pembawa mujizat tadi dapat ditemui olehnya.

Tentu dalam hal ini konten kreator enggak dapat disalahkan. Orang bebas menampilkan apapun dalam media sosialnya pun mencitrakan apapun di depan masyarakat. Yang perlu dirubah adalah kita sebagai konsumen dan masyarakat sebaiknya mulai berpikir rasional. Meski kita tau, kemiskinan yang kita alami terkadang memang sangat sulit lepas karena memang sudah terjadi secara mendalam.

Namun setidaknya, kita menjadi miskin yang terhormat dan mencoba untuk merayakan kemiskinan. Pertama dengan tidak memandang orang-orang yang memiliki citra dermawan, suka berbagi sana-sini itu di atas kita. Kita semua setara, kita juga pernah bebragi, pernah menolong dan pernah dibagi dan ditolong oleh orang-orang yang citranya enggak sebaik para konten kreator. 

Lagian yah, konten-konten yang menjual kemiskinan itu selain karena candu yang mengaduk psikologis kita kaum miskin yah ga ada lagi yang bisa diambil hiburannya, apalagi manfaatnya. Wong hiburan kok dari orang miskin. Manfaat apa emang yang didapat dari melihat orang kaya yang memberi orang miskin? Itu kan hal lumrah. Lagian mereka enggak sepenuhnya memberi kok, sama aja ngebayar aktor buat konten mereka yang nantinya mereka dapet bati dari hasil moneteise di channel mereka.