Kamu Mau Jadi Mahasiswa atau Mau Jadi Robot?

Gambar oleh Beritasatu

Cangkeman.net - Aku heran sama kawan-kawan mahasiswa, mereka ini dibiayai oleh orang tuanya berjuta-juta bahkan hingga puluhan juta rupiah untuk kuliah. Tapi banyak dari mereka mengambil kesempatan itu hanya untuk mengucapkan kata, "iya, Bu. Tidak, Pak. Baik, Bu. Sudah cukup, Pak. Terima kasih, Bu. Terima Kasih, Pak. Mohon maaf, Bu, Mohon maaf, Pak." sembari tidak lepas dengan emot high five. 

Yang jadi pertanyaanku adalah, apakah mereka benar-benar memahami apa yang dipaparkan oleh dosen, atau hanya sebatas memahami dirinya sendiri bahwa mereka belum paham, alhasil hanya kalimat itu yang dapat mereka ucapkan. Menurutku, kalau sikap yang lahir dari seorang mahasiswa itu hanya sebatas itu-itu saja, itu sangat tidak etis dan tidak memiliki rasa hormat kepada orang tua yang telah membiayainya. Ya, meskipun kita juga harus akui hal itu tidak terjadi pada semua mahasiswa. Tapi sejauh ini yang aku rasakan sebagai mahasiswa, mahasiswa seperti tadi itu jumlahnya mayoritas.

Tak perlu riset segala macam untuk membuktikannya, kalau kamu juga mahasiswa pasti juga menemukan kawan-kawan yang sikapnya seperti itu. Atau jangan-jangan kalian juga termasuk? Tapi kayanya enggak mungkin jamaah Cangkeman yang jadi mahasiswa itu sikapnya hanya manut, manut dan manut layaknya robot buatan china. Aku menyebutnya robot, karena mereka itu secara sistematis dan konsisten bersikap seperti itu ketika kelas perkuliahan. Beragam pertanyaan, diskusi, dan saling bantah nyaris jarang ditemukan di dalam kelas.

Para mahasiswa robot ini hanya jika dijelaskan berbagai macam materi perkuliahan biasanya hana akan ditelah mentah-mentah, seakan-akan materinya akan langsung representatif dalam otaknya. Padahal semestinya otak kita itu bertugas untuk mengolah segala hal yang masuk lalu menilai apakah yang masuk tersebut benar atau tidak, relevan atau tidak. Kalau dibilang semua yang diajarkan dosen adalah suatu kebenaran, itu sangat berbahaya bagi stimulus kita, kita akan mudah terkena hoaks, juga akan mudah termakan oleh sesuatu yang sifatnya dogmatis. Maksudku begini, yang namanya dosen itu hanya identitas, autentisitasnya masih manusia, dan kita tahu bahwa manusia itu tidak selalu benar. Bukan hanya pada dosen saja, semua yang dikatakan oleh semua orang itu menurutku hanya perspektif, bukan kebenaran. Maka dari itu kita perlu menimbang, menyaring, memikirkan sesuatu yang kita dapat. Bukan hanya menerima, menerima, dan menerima.

Mempertanyakan, mendebat, danmendiskusikan apa yang disampaikan dosen memang kerapkali dinilai sebagai sesuatu yang melanggar etika. Menurutku, banyak sekali mis-persepsi tentang hal ini. Dengan mendayagunakan akal kita, bukan berarti kita tidak memiliki etika terhadap dosen. Justru malah kita beretika terhadap Tuhan yang telah memberikan akal. Lagian nih, hal-hal yang patut dipertimbangkan dari paparan dosen itu adalah segala sesuatu yang sifatnya masih abstrak dan relatif, bukan tentang personalitasnya. Fokus kita adalah pada yang disampaikan, bukan pada yang menyampaikan. Pun dengan bahasa dan cara-cara yang beretika.

Pada intinya, jangan selalu puas dengan pemaparan dosen. Beliau itu memang seorang yang ahli dalam bidangnya. Tetapi bukan berarti ketika beliau ahli, beliau tidak hilang dari aspek kesalahan. Lagipula yang namanya mahasiswa itu yah orang yang lagi mencari ilmu di perguruan tinggi. Yang artinya sudah sepantasnya untuk mendayagunakan akalnya, bukan malah mendayagunakan budaya manut, manut, dan manut seperti halnya robot.

Kita ini makhluk istimewa yang dikaruniai akal dan juga termasuk manusia beruntung karena sempat menjadi mahasiswa, di mana banyak di antara kita yang tidak dapat mencapai hal itu. Jadi kalau kita masih begini dan begitu seperti halnya robot, apa kalian enggak sungkan terhadap orang tua yang membiayai, dan Tuhan yang memberikan akal?

Achmad Fauzan Syaikhoni

Seorang, bukan semonster, sesembahan, atau bahkan setua kalian. Hobinya mengopi, membaca, dan menulis pikiran sendiri yang aneh dan abstrak.