Hororan Lidah Buaya atau Lidah Mertua?


Cangkeman.net - Jadi begini, Bund... Saya mau berbagi  nih mengenai kerikil rumah tangga, utamanya masalah mertua. Loh kok mertua disebut kerikil? Yah karena emang kadang mertua itu jadi penghambat kelancaran rumah tangga.

Jadi ceritanya nih, kakak saya punya mertua yang karakternya keras kepala dan mulutnya enggak bisa dijaga. Apalagi kalau lagi kumpul sama geng kompleknya, wuihhhh tuh mulut sampai berbusa ngomongin menantunya. Dari hal-hal besar sampai yang paling sepele aja diomongin tuh yang kalo udah nyerocos bisa sampe dua jam. Kuat banget tuh yah mulut.

Di mata beliau tuh yah, Bund. Menantunya itu gudang kesalahan dan dirinya adalah malaikat yang selalu benar. Ngeriii bangey ga tuh?

Pernah nih ada kejadian nih. Suatu waktu mertua kakak saya ini mendapatkan rejeki yang tak diduga-duga. Beliau membagikan rejeki tadi kepada para anaknya tuh. Sehabis itu beliau mendoakan anak-anaknya agar memperoleh istri yang baik nan sholehah serta dapat mencari uang dan membahagiakan orang tua. Itu doa baik sih, tapi seolah-olah kok kaya nyindiri menantu-menantunya yah? Padahal mah menantu juga bakal memberikan yang terbaik juga kalau mertuanya juga memperlakukan dengan baik menantunya, kan?

Kakak saya tadi sebenarnya sudah sempat cerita ke sang suami perihal mertua yang sering ngerumpiin dirinya di belakang. Tapi yang ada malahan suaminya membela ibunya dengan menyebutkan bahwa ibunya orang yang taat beragama dan enggak suka bergosip. Hal itu membuat kakaku semakin sedih karena si suami dinilai kurang bijaksana dalam memberikan jawaban.

Kalau suami kakak saya lagi enggak di rumah nih, beuh kakak saya langsung panas  dingin dan bersiap kena omelan dari mertua. Kesalahan sedikit langsung dibesar-besarkan, ada kotor sedikit langsung ngomel dan sering bilang, "Jangan lupa beres-beres, rumah kok lebih kotor daripada bak sampah." Sakit ga tuh?

Ada lagi yang bikin sakit hati kakak saya, Bund. Kakak saya sering dibilang, "kamu hanya numpang hidup pada anak saya, makanya jadi wanita itu harus pintar cari uang agar suami enggak terbebani."

Padahal dulu kakak saya cukup bagus karirnya di tempat dia bekerja. Namun karena suami menganggap dirinya mampu menafkahi sendiri, maka suami kakak saya menyuruh kakak saya untuk berhenti bekerja dan fokus mengurus rumah tangga. Eh pas ngurus rumah tangga malah digituin sama mertuanya.

Berkaca dari kakak saya, saya menjadi lebih selektif dalam memilih pasangan hidup yang termasuk juga melihat bagaimana calon mertuanya. Saya juga jadi mawas diri kalau-kalau suatu saat nanti punya menantu, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperlakukannya dengan baik. Karena ternyata lidah mertua lebih bahaya dari lidah buaya yah, Bund.

Nah lantas bagaimana sih mengatasi lidah mertua yang tajam itu?

Pertama nih, emosi bunda harus tetap stabil. Sebisa-bisa distabilkan sendiri sekuat tenaga. Kalau enggak begitu nanti pasti akan bertengkar terus dengan mertua. Kalau sudah berperang yah nanti bakal berabe, bisa merembet ke mana-mana. Bahkan ujungnya bunda bisa disuruh cerai sama suami bunda.

Kedua, selalu menerapkan konsep mengalah untuk menang. Mungkin memang kalau kita mengalah akan berkesan kita diinjak-injak terus yahh. Tapi bagi saya yah mengalah bukan berarti kalah, justru kita menang melawan emosi kita. Sedangkan mertua kalah karena enggak mampu melawan emosinya.

Ketiga, komunikasikan segala perlakuan mertua kepada bunda dengan suami. Kalau suami bunda malah membela ibunya seperti yang terjadi pada kakak saya yah bunda harus tetap rileks dan berpikir positif. Mungkin saja suami bunda emang belum melihat perlakuan ibunya kepada bunda, toh nanti juga lama-lama suami bakal mengetahuinya, percayadah.

Keempat, ini tips paling ampuh sepertinya, bund. Yakni tidak tinggal bersama mertua. Setidaknya kalau kita belum mampu beli rumah yah mungkin baiknya kita ngontrak. Jangan sampai uang kita awet di dompet tapi hati kita tersakiti. Sukur-sukur kalau bunda punya rejeki untuk membeli rumah sendiri. Toh rumah adalah tempat beristirahat dari segala aktivitas. Jangan sampai tempat istirahat kita malah membuat kita kelelahan menahan sakit hati.

Oke sekian dulu tulisan dari saya, mungkin kita bisa ngobrol lagi di lain waktu yah, Bund. Nanti saya akan kembali muncul dengan curhatan-curhatan mengenai perempuan. hidup perempuan Indonesia!

Khoirunnisa

Biasa dipanggil Ica. Pengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang  hobi Travelling. Bisa disapa di Instagram @nisakh97