Yuk, Lebih Mengenal Orang Dalem Alias Referral Program

Gambar : Quora


Cangkeman.net - Durasi mencari pekerjaan sangat beragam. Ada orang yang sangat mudah mendapatkan pekerjaan, ada pula yang harus berusaha sampai nyungsep dahulu baru mendapatkannya. Durasi mendapatkan pekerjaan yang bervariasi ini sangat dipengaruhi berbagai faktor penentu. Tetapi dari sekian faktor itu, saya pikir adanya orang dalem merupakan faktor yang sangat menarik untuk dibahas. Bahkan ada statement yang menyatakan; “ijazah itu tidak penting, yang penting adalah punya orang dalem.”

Orang dalem merupakan label yang disematkan pada diri seseorang yang bekerja di sebuah perusahaan, yang nantinya orang itu bisa 'membantu' kenalannya dalam mendapatkan pekerjaan di tempat ia bekerja. Dikatakan membantu karena orang itu memang memberikan pertimbangan taraf tertentu diterima atau tidaknya kandidat untuk mengisi posisi yang dilamar. 

Sebagai informasi tambahan, orang dalem tidak selalu memiliki hubungan darah dengan kandidat, misalkan anggota keluarga, tetapi bisa juga orang dalem merupakan tetangga, sahabat, mantan atasan tempat kandidat bekerja di perusahaan sebelumnya, mantan bawahan, mantan rekan kerja, atau barangkali mantan pacar juga bisa. Siapapun orang dalem yang dimiliki kandidat mesti memiliki hubungan baik dengan mereka. Kalau tidak memiliki hubungan baik, saya sangsi orang dalem mau memberikan referensi. 

Sepanjang yang saya ketahui, orang dalem ini baru bekerja ketika proses rekrutmen dan seleksi mentok. Sudah berbagai cara mencari orang untuk mengisi jabatan yang ditawarkan namun tak kunjung mendapatkan hasil. Entah dilakukan proses rekrutmen dan seleksi secara organik baik dari internal maupun eksternal, melalui pihak ketiga seperti Headhunter juga tidak bisa memberikan kandidat. Maka, disinilah referral program dilaksanakan perusahaan. 

Sederhananya, referral program membuat semua karyawan di tempat mereka bekerja berlakon sebagai recruiter.Sebelum program dijalankan, pastinya perusahaan akan memberitahu aturan mainnya dengan jelas. Selanjutnya karyawan yang berminat akan berlomba-lomba memberikan referensi.

Jika ditanya motifnya, jawaban bisa beragam. Ada yang senang bekerja di perusahaan tersebut sehingga ia memberikan referensi agar kenalannya dapat bekerja di tempat yang sama, ada juga yang memang memiliki motif ekonomi. Tak perlu terkejut. Referral program menawarkan sejumlah uang apabila kandidat yang direferensikan berhasil lulus rekrutmen dan seleksi dan bekerja di perusahaan tersebut.

Ada yang mudah memberikan referensi ada juga yang sulit memberikan. Alasannya sederhana, karena terdapat sebuah tanggung jawab ketika seseorang memberikan referensi kandidat. Mungkin saja orang yang direferensikan diterima di perusahaan tersebut. Tetapi bagaimana jika yang direferensikan nantinya tidak bekerja dengan maksimal? Ia juga akan menanggung malu. 

Namun, jika dilihat dari sudut pandang bisnis perusahaan, referral program bisa dikatakan senjata terakhir untuk mendapatkan kandidat. Alasannya semakin lama sebuah jabatan lowong akan menimbulkan kerugian akibat jalannya bisnis terhambat. Terlebih posisi yang kosong adalah level manajerial. Ya memang pada kenyataannya, referral program biasa diperuntukkan level manajerial ke atas dan butuh waktu segera diisi. Untuk level dibawah itu agak jarang dijadikan pertimbangan dalam menjalankan referral program.

Memiliki orang dalem memang privilege alias hak istimewa seseorang. Tidak semua orang punya orang dalem di sebuah perusahaan. Meskipun punya, belum tentu mereka mau memberikan referensi untuk kita. Ini yang mungkin menjadi sumber iri hati ketika seseorang bekerja di sebuah perusahaan dan ternyata ia mendapatkan pekerjaan dengan bantuan orang dalem

Sebetulnya referral program memang sebuah cara yang riskan dalam mendapatkan kandidat untuk mengisi posisi lowong. Utamanya isu nepotisme akan menguat. Seorang karyawan yang mengisi posisi tersebut tak jarang diserang isu nepotisme. Kalau sudah begini, biasanya si karyawan baru mengedepankan sikap bodo amat dan fokus untuk menyelesaikan pekerjaan.

“Terus solusinya bagaimana bagi yang tidak punya orang dalem?”

Ya jawabannya simpel; jangan iri. Sebuah jawaban yang pasti tidak memuaskan, tetapi tidak iri hati adalah jawaban paling baik yang bisa saya berikan. Sebelumnya saya sudah katakan bahwa memiliki orang dalem adalah privilege. Ini soal hubungan dan jaringan yang dimiliki seseorang. 

Jika hubungan yang dimiliki adalah keluarga berarti takdir. Tak ada gunanya juga bersikap iri akan hubungan ini. Mosok sampai tega hati untuk memisahkan hubungan keluarga 'hanya' dikarenakan pekerjaan?

Jika hubungan yang dimiliki antara pemberi referensi dengan kandidat merupakan hubungan profesionalitas, bukan hal yang mudah juga membangun hubungan baik yang terjadi di antara mereka. Ada sebuah usaha yang dilakukan kandidat agar seseorang mau memberikan referensi untuknya. Ini bukan perkara gampang. Coba saja tanya kepada mereka yang berhasil mendapatkan pekerjaan dengan bantuan orang dalem. Mungkin dari sana kamu akan mendapatkan pelajaran bagaimana membangun hubungan yang baik dan saling menguntungkan. Memiliki hubungan baik dan jaringan yang kuat seringkali diremehkan oleh beberapa orang. 

Selain memiliki hubungan yang baik dan jaringan yang bagus, selalu meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan juga tidak boleh dilupakan. Faktor ini yang dijadikan pertimbangan lain seseorang mendapatkan pekerjaan. Semakin banyak pengetahuan yang dipunya, semakin tinggi kemampuan dan keterampilan seseorang, akan mempengaruhi bagaimana seseorang dapat bekerja secara efektif dan efisien. Tentunya akan meningkatkan harga jual. 

Saran terakhir yang bisa saya berikan adalah; sebisa mungkin bertahan di tempat kerja sebelumnya, setidaknya tiga tahun masa jabatan. Saya berpikir setahun pertama orang bekerja disebuah perusahaan, bisa dikatakan baru belajar bekerja dan sangat sibuk beradaptasi. Di tahun kedua, karyawan sudah cukup mengerti bagaimana bekerja secara efektif dan efisien. Mulai tahun ketiga dan seterusnya karyawan sudah ahli dalam bekerja di bidangnya. Bahkan sangat bisa bekerja 'autopilot'; tidak perlu melibatkan kesadaran penuh dalam menyelesaikan pekerjaan karena sudah tahu apa yang harus dilakukan sejak dalam pikiran. 

Fenomena orang dalem alias referral program memang fenomena kontroversi. Berbagai pihak punya pandangan masing-masing. Beberapa perusahaan yang saya tahu, pelan-pelan mulai meninggalkan sistem ini tetapi tidak sedikit yang masih mempertahankannya dengan berbagai pertimbangan.

Hal yang bisa kita lakukan adalah mulai melakukan hubungan baik dengan orang-orang yang terlibat dalam bidang kita dan membentuk sebuah jaringan. Tentu saja tidak melupakan untuk selalu meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan. Karena dengan cara ini yang bisa membuat kita bertahan lebih lama di dunia industri. Kalau tidak begitu, pasti kita akan tergantikan. Inilah kenyataannya.



Angga Prasetyo
Laki-laki, prefer teh dibanding kopi. IG @anggaprass