Saipul Jamil Itu Predator, Bukan Pahlawan Apalagi Korban!


Cangkeman.net - Setelah delapan tahu dipenjara karena kasus pelecehan seksual, Saipul Jamil bebas. Ia keluar dari LP Cipinang dengan sambutan keluarga serta media massa jancuk yang menglorifikasi Saipul dan momentum kebebasannya. Banyak judul-judul berita yang memberitakan kelembutan, kebesaran hati dan hal-hal dasar yang memang sudah seharusnya dilakukan Saipul tapi diglorifikasi seolah itu adalah sebuah kebaikan yang haqiqi.

Ia keluar bak pahlawan, bahkan malah seperti korban sebuah penghianatan. Bagaimana bisa banyak media mempunyai perspektif seperti ini?
Foto yang banyak beredar , ia disambut dengan bunga, bucket yang ia pegang dan ada lagi yang dikalungkan di lehernya, menggunakan kendaraan roda empat dan melambaikan tangan penuh senyuman.

Kalau kamu melihat pemberitaan media akhir-akhir ini, coba perhatikan substansi dalam banyak liputan yang beredar.
Seorang Wartawan melempar pertanyaan ke Saipul.

"Trauma enggak, trauma enggak?"

Pertanyaan itu dijawab Saipul, “Ya pasti trauma," lalu tiba-tiba ia dengan ringannya "berpetuah".

"Jadi buat teman-teman, hati-hati, bijaklah dan selalu waspada. Kita tidak tahu di mana ada musuh. Bisa jadi teman dianggap baik tapi ternyata dia musuh kita. Tapi ya sudah lah, yang penting kita ikhlas.” tutur Saipul.

Loh kok jadi dia yang ikhlas, lah emang dia salah, kok jadi seperti dia yang jadi korban?
Menurutku ini sebuah penggiringan opini yang menyesatkan. Tidak ada pernyataan penyesalan atau bersalah atas kasus yang ia dera, namun justru melakukan playing victim.
Kalau mau diselami lebih dalam, media massa tidak cuma menunjukkan kegagalannya, tapi juga justru ikut menjadi corong opini sesat Saipul Jamil. 

Tidak ada tanda-tanda penyesalan yang diharapkan muncul dan menjadi pelajaran bagi masyarakat, yang ditunjukkan justru seolah dia korban dan mengalami trauma di penjara. 

Sementara kakak Saipul membantah dan mengatakan hal yang berbeda.

"Tidak ada lah. Tergantung kata orang. Persepsi kan masing-masing, mas, gitu kan," 

Sementara itu, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Nuning Rodiyah menyatakan pandangannya.

"Kalau tayangannya memberi ruang pada Saipul Jamil untuk membenarkan perilaku yang dilakukan sekian tahun lalu itu lumrah dan wajar saja, tentu itu bagian yang berpotensi melanggar."

"Tapi kalau kemudian menampilkan Saipul Jamil sebagai satu fakta, yang dia keluar dari penjara, itu kan tidak masalah. Yang bermasalah ketika muatannya adalah 'Saya nggakpapa kok. Ini bukan perbuatan yang salah kok ketika saya melakukan pelecehan seksual.' Itu yang sama sekali dilarang," 

Nuning juga menegaskan bahwa potensi pelanggaran tak hilang meski narasi-narasi keliru disampaikan Saipul secara tersirat. Hmm..

Nihilnya rasa sensitivitas media dalam pemberitaan ini bisa juga hanya karena kepitalisasi, mungkin beberapa awak media juga memikirkan apa yang kita bicarakan ini, namun glorifikasi penting dan dibutuhkan media. Sesuatu yang sensasionalisme sengaja dimunculkan untuk mengundang lebih banyak penonton. Dengan menjadikan sosok Saipul Jamil ini bahan pemberitaan, mereka mendapatkan atensi yang banyak apalagi dengan sensasi yang ditambahkan padanya.

Hal ini menjadi sesuatu yang memperihatinkan ketika korban mendengar Predatornya bebas dan bahkan dielu-elukan media, ini justru dapat menimbulkna trauma yang mendalam bagi korban. Namun media seakan tutup mata dan telinga akan hal ini, belum lagi kalau kita mengingat kasus Saipul Jamil ini dulu ia sempat melakukan suap untuk meloloskan dirinya dari jeratan hukum. Tentu sebuah itikad yang tidak baik.

Di sela menulis artikel ini, bahkan aku menemukan sebuah Headline berita di salah satu media yang membuat tercengang.

"Saipul tidak akan dendam terhadap korban" Ya, masa Saipul yang dendam. Nggak masuk akal banget kan? Dia ini kan pelaku, kalau nggak dendam emang kenapa? dia berhati malaikat, gitu?
Kan dia pelaku, bukan korban. Kok seakan dia yang jadi korban.
Itu logikanya keliru berlapis-lapis loh.