Kenapa Tayangan Liga Indonesia Selalu Buruk?

agenbrilink.com

Cangkeman.net - Setelah sempat dihentikan selama 1 musim, kini gelaran liga Indonesia kembali bergulir dan hingga saat ini sudah memasuki pekan ke-4 berjalan. Hal ini tentu menjadi sebuah angin segar dan hiburan untuk para pencinta sepak bola tanah air dan hal-hal yang berkecimpung di dalamnya.

Untuk perhelatan liga Indonesia musim ini, sponsor utama dipegang oleh Bank BUMN, yaknia Bank BRI untuk gelaran liga Indonesia di kasta tertinggi atau saat ini dinamakan Liga 1. Yang berarti nama resmi liga 1 kali ini adalah BRI Liga 1.

Dari beberpa gelaran yang sudah terlaksana, Liga Indonesia memang selalu menuai banyak kritik, baik dari aspek tekhnik, maupun hal lainnya. Dan salah satu yang sering menjadi bahan pembicaraan adalah tentang kualitas tayangan Liga 1 itu sendiri.

Mungkin kita sering bertanya, kenapa sih kualitas tayangan liga Indonesia enggak sejernih kualitas tayangan luar negeri. Seperti liga Inggris, Liga Eropa, atau Piala Dunia misalnya? Apakah kita enggak punya cukuo dana untuk membeli kamera yang bagus? Atau emang SDM kita kurang memadai? Oke mari kita bahas dikit-dikit.

Untuk musim ini sendiri, yang memproduksi siaran Liga Indonesia adalah PT Gelora Trisula Semesta. Nah kalau yang ngikutin sepak bola dalam negeri pasti kenal sama PT GTS ini. PT GTS sendiri awalnya perusahaan yang dibuat untuk mengoperatori gelaran Torabica Soccer Chanpionship (TSC) yang waktu tahun 2016 diselenggarakan untuk mengisi kekosongan kompetisi karena di tahun tersebut Liga Indonesia dihentikan pemerintah karena banyaknya kasus dualisme klub dan keorganisasian PSSI yang semrawut. Dan sejak saat itulah PT GTS selalu mengoperatori Liga Indonesia.

Perlu diketahui yah, kalau PT GTS ini bukan PSSI atau bagian dari PSSI. Operator liga itu suatu perusahaan terpisah yang bertanggung jawab kepada federasi atau dalam hal ini PSSI. Jadi operator liga atau kita sebut kali ini PT GTS itu urusaanya tentang penyelenggaran liga saja. Dari mulai sistem pertandingan, masalah penonton, hingga tentang penayangan yang akan kita bahas ini. Oh iyah, sebelum adanya PT GTS, sebelumnya ada PT Liga Indonesia dan PT Liga Indonesia Baru yang semuanya sama seperti PT GTS, yaitu dibentuk oleh orang-orang PSSI.

Nah, terus kenapa gelaran liga dari jaman PT LI, PT LIB, hingga yang sekarang PT GTS kok tayangannya selalu buruk? Gambar pecah? Hingga replay patah-patah?

Tentu dalam hal penayangan kita harus bicara tekhnis yah teman-teman. Hal ini mencakup tentang kualitas alat yang digunakan, SDM, dll.

Untuk PT GTS sendiri sebenarnya sudah menggunakan kamera yang cukup bagus dan sudah sesuai dengan standar broadcasting olahraga dan bahkan termasuk yang terbaik di Asia Tenggara loh.

Nih untuk kamera utamanya sendri, PT GTS menggunakan Sony HSC-100R Three 2/3 inch Power HAD FX CCD sensors portable HD / SD camera for digital triax operation yang harganya sekitar 250jtaan. Atau ada juga kamera LENSA Fujinon XA77x9.5BESM-S35 2/3-inch HDTV DIGIPOWER 77 EFP/ENG Studio/Field Box Lens yang harganya lebih mahal lagi, sekitar 700jtaan. Sayangnya, hanya ada satu kamera jenis ini di masing-masing lapangan. Yah untuk kamera lainnya ada beberapa kamera merek lainnya. Tapi tetap dengan kualitas dan harga yang tinggi.

Dan SDMnya bagaimana? Wah SDM orang-orang GTS ini udah jago-jago di bidangnya kok. Kebanyakan sih jebolah dari TV juga. Jadi enggak perlu ragu tentang kualitas orang-orang GTS ini.

Nah kamera bagus, yang make juga bagus, terus kenapa hasilnya buruk?

Tidak selesai sampai di situ, Kawan. Setelah diproduksi oleh PT GTS, GTS meneruskan ke beberapa pemegang hak siar yang dalam BRI Liga 1 berarti ada 3 pemegang hak siar nih, yaitu Emtek (Indosiar, Vidio.com, Nex Parabola, dan O Channel), MNC (MNC Vision, MNC Play, dan K-Vision) serta Indihome (Usee Sports dan Usee TV).

Pihak GTS sendiri meneruskan output ke pemegang hak siar dengan 2 kualitas, yaitu kulitas HD dan SD. Nah untuk output ke penonton itu yah terserah pemegang hak siar, mau nampilin kualitas HD atau SD.

Jadi kalau gambarnya pecah, tidak jernih, dan replay patah-patah, bisa jadi kamu menonton melalui pemegang hak siar yang menyiarkan kualitas SD. Seperti Emtek itu hanya menampilkan kualitas HD di Nex Parabola, sementara di Indosiar, Vidio.com dan juga O Channel hanya menampilkan kualitas SD. Alasanya banyak, baik dari segi komersialisasi yang lebih meluas karena masih banyak pengguna TV tabung dan juga tentu masalah Ekonomi, di mana yang berbayar seperti Nex Parabola yah yang lebih baguslah, Bos.

Nah jadi paham yah kalau sebenarnya pihak pemegang hak siarlah yang menurunkan kualitas gambar. Kalau dari tim produksinya mah udah bagus, yah wlaupun belum sebagus liga-liga eropa, tapi yah udah agak lumayanlah yah.

Nah kalau masalah replay yang telat, atau pengambilan dari sudut yang salah dll itu baru masalah teknis pada SDMnya. Dan tentu saja perlu dilakukan evaluasi agar kedepannya lebih baik lagi.