Baru Merasakan Kebanjiran Lalu Teriak Krisis Iklim dan Menuding Negara Lain Penyebabnya.

Gambar : Media Indonesia


Cangkeman.net - Alkisah, masyarakat sebuah negara maju dengan konsumsi energi gila-gilaan di dunia, baru saja merasakan banjir. Ya, banjir, sebuah situasi yang menjadi rutinitas di Jakarta tiba-tiba terjadi di sebuah kota yang katanya "maju", banjirnya pasti bukan banjir biasa, sistem drainase kota tersebut pasti bukan sekelas ibukota yang pengelolaan banjirnya bekas peninggalan tata kota VOC dong. 

Tidak lama setelah ini, biasanya akan ada warga negara maju yang teriak-teriak untuk menyuruh masyarakat negara dunia ketiga untuk menghentikan pemanasan global, menghemat penggunaan energi. Padahal, jangankan menggunakan listrik sampai gemerlap kotanya seperti mereka, wong listrik 24 jam aja belum semuanya bisa merasakan. Mereka akan gencar mengajak eco living, alasannya, perubahan iklim sudah semakin parah, mereka sampai merasakan akibatnya.

Mereka mungkin lupa, kegiatan dan segala proses yang membuat negaranya bisa maju seperti itu sudah memakan banyak sekali energi dan sumber daya banyak negara lainnya, dan ditambah kerusakan lingkungan yang ditimbulkan dari proses itu hingga kemudian mereka bisa merasakan kenyamanan itu semua di sebuah negara maju.

Betul, mereka memang sudah banyak menemukan inovasi demi memperbaiki kualitas hidup orang banyak, tapi dengan adanya inovasi tersebut tidak bisa dijadikan alasan mereka untuk menunjuk hidung negara-negara berkembang yang masih banyak kepulan asap pabrik dan pembangkit listrik batu bara, wong dulunya sebelum mereka menemukan teknologi yang sekarang mereka juga melewati tahap seperti negara tadi.

Memang betul, kita juga termasuk negara dengan penyumbang CO2 terbanyak di dunia, namun jika dibagi dengan jumlah penduduk, hasilnya justru akan sangat kecil sumbangan emission per person tiap warganya jika dibanding negara yang teriak-teriak cegah perubahan iklim tapi penggunaan energinya pol-polan.

Gerakan untuk hidup lebih ramah lingkungan dan menyayangi alam memang bagus, sangat bagus. Aku rasa tiap agama akan sejalan dengan itu. Ini menjadi masalah ketika warga sebuah negara dunia pertama dengan mudahnya menunjuk negara dunia kedua atau ketiga saat bencana iklim terjadi di wilayah mereka dan menuding merekalah penyebabnya. 

Jancuknya, pesan ajakan eco living dari negara maju a.k.a negara dunia pertama akan disampaikan kepada negara dunia ketiga oleh sesama negara dunia ketiga yang merasa dirinya adalah negara dunia pertama.