3 Model Pendidikan Bobrok di Bikini Bottom yang Jangan Sampai Terjadi di Indonesia

 Gambar : spongebob.fandom.com


Cangkeman.net - Bikini Bottom adalah salah satu kota maju di lautan pasifik dengan berbagai pembangunan fasilitas yang dimilikinya. Mulai dari restoran, hotel, wisata, pusat perbelanjaan, pusat perkantoran, bahkan berbagai pusat pendidikan pun juga ada di kota Bikini Bottom ini. 
Lebih hebatnya lagi, pendidikan di Bikini Bottom ini terspesifikasi secara fokus berdasarkan disiplin keilmuan tertentu dalam satu lembaga. Misal, sekolah mengemudi yang hanya fokus dalam pembelajaran mengemudi. Ada juga kelas khusus seni yang diampu Squidward. Bahkan ada pula Akademi Milkshake yang fokus dalam pembelajaran cara membuat milkshake yang baik.
Namun, berbagai kemajuan pendidikan tersebut, nampaknya nggak seindah dan semenakjubkan yang saya bayangkan. Ternyata, dalam berbagai lembaga pendidikan di Bikini Bottom tersebut, justru saya menemui banyak kebobrokan model pendidikan yang diberlakukan.
Bahkan, model pendidikan semacam ini, menurut saya, jangan sampai ditiru oleh masyarakat Indonesia dalam keberlangsungan pendidikannya. Terutama anak-anak bangsa ini yang setiap hari menonton serial kartun Spongebob ini.
Lantas, apa saja model pendidikan bobrok di Bikini Bottom ini? Oke, mari simak lebih lanjut penjelasan saya.
 
Doktrinasi dan superioritas guru dalam kelas seni Squidward
Kartun Spongebob dalam episode “Artist Unknown” mengisakan Squidward yang membuka kelas seni. Di kelas seni tersebut, hanya diisi dua orang, yakni antara Squidward sebagai guru dan Spongebob sebagai muridnya.
Awal mulanya, Spongebob merupakan murid yang sangat berbakat, bahkan keahlian seninya melebihi Squidward. Keahlian tersebut dapat dilihat dari keterampilannya yang membuat lingkaran secara sempurna, seni melipat kertas yang kreatif, bahkan mampu membuat patung yang begitu indah dan sangat megah dalam sekali ketukan.
Hanya saja, bakat Spongebob tersebut dihancurkan oleh gurunya sendiri yakni Squidward. Squidward secara totaliter mendoktrinasi Spongebob untuk mematuhi metodologi dan berbagai aturan seni rumit yang sesuai dalam buku “The Rules of Art”. Bahkan Squidward memaksa Spongebob untuk mengakui superioritas dirinya.
“Aku tidak punya bakat. Tuan Tentacles punya banyak bakat. Jika aku beruntung, maka bakat Tuan Tentacles akan diturunkan kepadaku.” Ungkap Squidward sembari mununtun Spongebob mengucapkan kalimat pengakuaan kepada Squidward.
Melihat model didikan Squidward ini, bagaimana mungkin seorang muridnya dapat berkembang sesuai dengan bakatnya? Apalagi dengan gaya totaliternya dalam menghardik muridnya.
Model pendidikan semacam inilah yang ditentang oleh tokoh pendidikan kritis, Paulo Freire. Menurutnya, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membebaskan kreativitas peserta didiknya, sedangkan guru nggak punya wewenang untuk membatasi apalagi secara otoritatif menghardiknya secara brutal.
Jangan sampai, guru modelan kayak Squidward ini hadir dalam ruang-ruang pendidikan di Indonesia. Kalau sampai ada, maka saya sangat yakin bahwa anak bangsa ini akan mengalami kemandekan dalam berinovasi dan berkarya, layaknya Spongebob yang telah terkena hardikan totaliter Squidward.

Meluluskan murid hanya karena keputusasaan guru dalam mengajar
Spongebob adalah satu-satunya murid di Sekolah Mengemudi yang paling sulit diajari perilah praktik mengemudi, meskipun dalam materi teori mengemudi dia nomer satu. Bahkan, dalam episode “Mrs Puff, You Fired”, Spongebob tercatat telah gagal ujian praktik mengemudi sebanyak 1.258.056 kali.
Di suatu ketika, Ny. Puff tiba-tiba memunculkan kebijakan yang ramashok, blas, dengan memberi nilai tambah kepada Spongebob untuk mendapatkan SIM-nya. Sedangkan untuk mendapatkan nilai tambah tersebut, Spongebob hanya diminta untuk menulis sepuluh kata tentang apa saja yang diperoleh dari sekolah mengemudi. Walhasil, tanpa basa-basi Spongebob langsung diluluskan hanya karena sepuluh kata tersebut, tanpa ujian mengemudi.
Namun, sebenarnya kebijakan Ny. Puff ini atas dasar keputusasaan-nya dalam mengajar Spongebob yang terus menerus gagal. Karena kesal, Ny. Puff akhirnya memberi kebijakan yang non-mendidik untuk meluluskan Spongebob.
Kalau menurut saya pribadi, apa yang dilakukan oleh Ny. Puff itu sebenarnya nggak mendidik Spongebob sama sekali. Lah wong, Spongebob masih belum berkompeten mengemudi, tapi kenapa dipaksa lulus dengan jalur gelap tersebut? 
Seorang guru seharusnya memiliki jiwa yang sabar, nggak boleh menyerah, nggak boleh putus asa dalam mendidik muridnya. Meskipun muridnya senakal apapun itu, atau se-sulit apapun itu untuk diajari. Karena guru adalah pondasi awal dari suatu peradaban masyarakat.
 
Mempekerjakan pendidik yang nggak kompeten di Akademi Milkshake
Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, bahwa guru itu merupakan pondasi awal dari suatu peradaban. Kalau menurut orang Jawa, guru itu digugu lan ditiru. Jika gurunya bobrok, lantas bagaimana dengan muridnya?
Ini-lah yang terjadi dalam Akademi Milkshake di Bikini Bottom dalam kartun Spongebob episode “License to Milkshake” . Ternyata, Captain Frustymog, seorang pendidik di Akademi Milkshake itu, nggak memiliki kompetensi dalam mesin milkshake modern. 
Bahkan, Captain Frustymog ketika mengajar saja, dia hanya sebagai seorang pengawas dan pencicip milkshake saja, nggak memberi materi sama sekali. Justru, materi mengenai cara mengoperasikan mesin milkshake modern itu saja dijelaskan oleh murid senior lain.
Guru semacam ini yang sangat dikhawatirkan jika ada dalam ruang pendidikan. Apalagi dengan guru yang kurang mengembangkan kompetensinya menyesuaikan modernisasi. Padahal, bagi Ivan Illich, guru yang profesional merupakan elemen yang sangat penting dalam dunia pendidikan.
Oleh karena itu, guru maupun pendidik yang ada di Indonesia, sangat diwajibkan untuk selalu meng-update kompetensinya sesuai perkembangan zaman. Jangan sampai para pendidik bangsa ini ketinggalan zaman dalam dunia pendidikan. Tentunya agar peserta didik dapat mendapatkan pelajaran yang sesuai dengan konteks zamannya.

Mohammad Maulana Iqbal
Lulusan program studi Sosiologi di Universitas Negeri Surabaya. Seorang santri sekaligus penulis buku “Risalah Kaum Intelektual”.