Suka Duka Mengkonsumsi Rokok Tingwe

wisegeek.com

Cangkeman.net - Rokok tingwe alias ngelinting dewe atau jika dibahasa Indonesiakan berarti melinting sendiri kini sedang marak dan ngetrend di kalangan anak muda. Hal ini selaras dengan maraknya toko-toko tembakau yang menjual tembakau beraneka aroma.

Aku sendiri sebenarnya sudah ada niatan ingin beralih dari rokok pabrikan menuju rokok tingwe sejak beberapa tahun yang lalu. Alasannya adalah personal branding. Branding aku yang mbah-mbah dan njawani akan semakin terlihat jika nge-tingwe.

Namun nyatanya aku baru mengalihkan rokokku dengan melakukan linting sendiri ini sekitar 3 bulanan yang lalu. Alasannya bukan personal branding atau gaya-gayaan lagi. Alasanya karena ekonomi. Yah di jaman sekarang evolusi sangat dipengaruhi sama ekonomi, kan?

Bagiku, dengan melinting sendiri tembakau yang selalu aku campur dengan cengkeh dan juga terkadang dicampur dengan menyan itu jauh lebih irit daripada membeli rokok pabrikan. Hal itu juga diakui oleh teman-temanku yang mulai melakukan penghitungan konsumsi rokoknya.

Tapi ngetingwe karena ekonomi ini tidak selamanya menyenangkan. Terkadang kita kerapkali dianggap pelit, enggak mau beli rokok pabrikan yang lebih simpel. Padahal menurutku toh jikalau kita para manusia yang suka ngetingwe ini masuk dalam kategori pelit, justru pelitnya kita itu tidak berpengaruh untuk orang lain. Kecuali tingwe dijadiin alasan buat minta rokok teman dengan alasan belum beli tembakau. Itu baru berbahaya.

Satu hal lagi yang sebenarnya dibenci oleh anak-anak non tingwe adalah ketika mereka kehabisan rokok, mereka jadi segan untuk meminta rokok kepada perokok tingwe. Alasanya macam-macam. Ada yang merasa enggak enak hati karena langsung isap aja rokok yang dengan susah payah dilinting, ada juga yang takut rasanya enggak sesuai. Karena hal itulah anak non tingwe jadi malas kalau ada kawannya yang mulai ngetingwe.

Ada juga orang-orang yang ingin beralih ke tingwe namun bingung racikannya. Mereka takut rasa rokok yang mereka racik tidak sesuai dengan mulut mereka. Nah orang-orang begini biasanya suka bertanya racikan ke pendahulu tingwe agar rasanya pas.

Yang jadi masalah adalah, soal rasa itu relatif. Seperti rokok pabrikan ada yang suka rokok putih, ada yang suka kretek tangan, ada yang suka jenis mild bahkan ada yang suka model-modelan seperti cerutu. Jadi biasanya kita coba mengulik rokok pabrikan yang biasa mereka hisap, lalu kita cocokkan dengan tembakau yang mana yang kira-kira cocok. Hasilnya? Yah enggak selamanya berhasil. Dan kalau rasanya bagi mereka buruk yah kita yang kena omelan. Dan mereka biasanya malah jadi anti tingwe.

Menurutku yah merokok yah merokok aja, mau rokokmu tingwe, rokok pabrikan, atau rokok listrik macam vape yah sah-sah saja. Kita mungkin menganggap perokok tingwe itu ribet, kemana-mana harus bawa peralatan melinting. Atau perokok vape yang harus ganti-ganti koil, atau perokok pabrikan juga bisa dianggap sebagai kacung koorporat besar yang mematok harga tinggi. Yah boleh aja menganggap seperti itu, tapi kita tidak selayaknya mencemooh pilihan orang dalam menikmati rokok.