Gajimu Sebenarnya Cukup, Kamu Aja yang Enggak Bisa Ngaturnya

Gambar : Bady Abbas @Unsplash


Cangkeman.net - "Gajimu sebenarnya cukup, kamu aja yang nggak bisa ngaturnya" menurutku adalah sebuah nasihat bacotan yang sangat tidak empatik, apalagi kalau belum tahu menahu latar belakang orang yang diajak bicara. Sayangnya, sebagai anak muda dengan status pekerja kita seringkali diperdengarkan dan dipertemukan sama orang-orang dengan tipikal perkataan seperti itu.

Ada lagi begini :
"Kerja bertahun-tahun, kok nggak jadi apa-apa? Emas nggak punya, baju itu-itu aja. Sisain lah buat ditabung, sedikit-sedikit mah gampang kali."
Dikira harga emas kaya harga masker kali ya?
Banyak yang gajinya di bawah UMR. Biaya tempat tinggal, belanja bulanan, paket internet, operasional kendaraan, semuanya itu cuma dari uang "di bawah UMR" tadi. Kalau maksain beli emas, itu sama aja motong sekitar 1/4 dari gaji "di bawah UMR" tadi. Pilihannya adalah, nggak bayar kost, nggak belanja bulanan, atau nggak makan. Belum lagi nggak setiap orang hanya menghidupi dirinya sendiri, sebagian lainnya mempunyai tanggungan. Bebannya beda-beda. Belum aja aku masukin biaya SWAB PCR!

Aku tambahin satu lagi,
"Kamu kan masih muda, masih single belum nikah keperluan belum banyak."
Iya benar bund, tapi apa iya yang masih single ini dipastikan bakal lebih makmur dibanding yang udah nikah? Ya nggak juga. Memang ada benarnya kalo masih single itu lebih gampang ngerogoh kantong buat dikeluarin, karena belum mikir anak istri (mungkin), tapi apa iya yang sudah berkeluarga slot untuk menabungnya jadi lebih dikit?

Bersyukurlah dengan gaji anak-anak muda yang nggak seberapa ini dia masih bisa menghidupi dirinya sendiri, tanpa ada tunggakan paylater, gali lubang tutup lubang di pinjol, dan jeratan krisis finansial yang lain. Apalagi, menjustfikasi seseorang harus seperti apa dari nominal gaji adalah hal yang sama sekali tidak bijak.

Gaji UMR itu terdengar kecil. Tapi kalo kamu single, tinggal di rumah orang tua yang masih mampu, makan di rumah. UMR adalah angka yang lebih dari cukup untuk gaya biaya hidup. 
Sebaliknya, gaji 20 juta terdengar besar emang, tapi kalau tinggal di Jakarta, anak 3, membiayai 2 adik yang kuliah, menanggung biaya hidup orang tua, bisa jadi itu menjadi angka yang pas-pasan.

Gegara banyaknya kata-kata toxic seperti ini, banyak orang merasa gagal dalam mengatur finansial, padahal memang uangnya nggak cukup. Dan kalau uangnya aja nggak cukup sebenarnya kita belum perlu kelola keuangan lebih dalam dulu. Apalagi investasi!
Apa yang mau dikelola? Wong transferan gaji sudah ditunggu di masing-masing pos penting demi bertahan hidup.
Di tahap ini kita cuma perlu menjaga dan memastikan pengeluaran tidak lebih besar dari penghasilan. Atau berlindung di balik kata-kata " Rezeki itu bukan cuma di gaji, bisa di kesehatan, relasi, teman baik."
Padahal emang nyatanya gajinya pas-pasan, makan aja jarang, teman juga ngga baik-baik amat, yang ada malah bawa kabur duit pinjeman.