Kasus TNI Aniaya Warga dan Rasa Paling Jago Karena Seragam

Gambar oleh suara.com

Cangkeman.net - Beberapa hari yang lalu, ramai jadi bahan perbincangan ketika ada dua orang TNI AU menganiayai salah satu warga yang diduga sedang mabuk dan memalak warung bubur dan warung padang di Merauke.

Hal itu akhirnya membua dua anggota TNI tersebut ditetapkan menjadi tersangka. Sementara di sisi laion banyak yang mengaitkan hal ini dengan kasus sara, karena korbannya adalah warga Papua.

Aku tidak sependapat jika kasus ini dibawa-bawa ke ranah SARA. Bagiku, ini kasus yang sebenarnya kerapkali terjadi di depan kita, di sekitar kita. Yakni ketika orang sudah memakai seragam, maka akan timbul rasa paling jago dan hebat sendiri.

Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) sendiri mencatat bahwa telah terjadi 651 tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat Kepolisian RI sejak Juni 2020 hingga Mei 2020. Itu artinya jika dirata-rata yahh lebih dari 1 orang dianiaya aparat setiap harinya. Itu baru menghitung dari POLRI, belum dari TNI, ditambah lagi dari para petugas Satpol PP.

Kekerasan-kekerasan yang dilakukan oleh aparat berseragam juga kerapkali dilakukan oleh warga berseragam. Contohnya Ormas. Mau ormas dengan seragam Juventus, seragam mirip-mirip tentara, atau seragam putih-putih kek anak sekolah masuk di hari Senin itu memiliki tindak kekerasaanya masing-masing.

Jadi menurutku, sebelum intansi-intansi terkait buru-buru menyebut bahwa anggotanya yang melakukan tindak kekerasan adalah oknum, maka coba pikirkan baik-baik, mengapa terkadang seragam membuat sesorang menjadi jumawa.

Kalau bagiku, setiap orang yang berseragam itu mengakui dan diakui sebagai suatu golongan tertentu. Jadi, karena mereka merasa diakui dan mengakui, kadang sering kelupaan ketika seharusnya yang dibawa adalah diri sndiri, malah yang ia bawa intansi atau organisasnya.

Orang-orang sepeti, sejatinya tidak pernah percaya diri dengan dirinya sendiri. Mereka berani berbuat sewenang-wenang hanya karena mereka punya seragam. Karena menurutnya, ketika ia salah pun, harapannya akan mendapatkan pembelaan dari instansi atau organisasinya.

Aku enggak ada masalah sama orang-orang berseragam, apapun itu. Yang aku masalahkan adalah ketika seragam itu dipergunakan tidak sebagaimana mestinya. Apalagi buat ngajak nikah anak ornag dengan iming-iming seragam. huuu