Buku Parenting, Seminar-Seminar Merawat Anak Itu Enggak Berguna

Daiga Ellaby on Unsplash

Cangkeman.net - Sebagai seorang anak yang belum memiliki anak, mungkin ini adalah tulisan yang sangat jauh dari kata objektif. Tapi mungkin tulisan ini akan mewakili kalian semua para anak dan juga dapat menjadi perenungan-perenungan untuk menentukan cara kita merawat anak.

Di era kompetisi ini, banyak orang tua memiliki cara masing-masing untuk membuat anaknya memenangkan kompetisi. Memberikan arahan-arahan untuk membuat anak menjadi lebih baik dari mereka, membuat anak-anak memenangkan kompetisi. Segala pressure kadang diberikan ke anak secara membabi buta. Apakah anak berhasil memenangkan kompetisi? Sebagian dapat melaju pesat, sebagian lainnya semakin terpuruk, jatuh, dan bahkan pergi tak kembali, entah ke tempat lain, entah ke alam lain.

Secara garis besar, aku menilai ada dua tipe orang tua dalam mendidik anak. Yang pertama tipe terlalu peduli, dan yang ke dua adalah tipe tidak peduli. Untuk tipe orang tua yang terlalu peduli biasanya akan selalu membuat arahan yang terkesan memaksakan anak untuk berbuat sesuatu yang membanggakan. Juara kelas, memiliki kemampuan ini, menang kompetisi itu. Biasanya tipe ini beranggapan bahwa segala yang dilakukan adalah untuk kebaikan anak. Ada lagi tipe yang tidak peduli. Orang tua seperti ini biasanya belum siap mempunya anak, baik secara psikis maupun materi. Anak akan ditelantarkan begitu saja tanpa bimbingan, tanpa arahan dan membuat anak kehilangan pegangan dan harapan dalam hidup. Tapi dari keduanya memiliki kesamaan, yakni orang-orang tua itu hanya menyembah ego mereka belaka.

Apakah seorang anak yang memiliki nilai bagus di kelas karena tekanan dari orang tuanya akan bahagia? Oh iyah tentu saja. Tapi orang tua yang menge-push mereka akan lebih bahagia. Tapi bagaimana ketika segala arahan dan tekanan yang terlalu besar bukannya membuat si anak memperoleh apa yang diinginkan orang tuanya, justru malah tumbang dan semakin tidak karuan? Orang tua akan semakin menekan, semakin banyak mengomel, menuntut si anak untuk lebih giat lagi. Apakah anak bahagia? Tentu saja tidak.

Ketika anak ditelantarkan begitu saja juga suatu hal yang buruk. Bagaimanapun anak butuh bimbingan, butuh seseorang pegangan. Mereka tidak bisa dilepas begitu saja. Ketika mereka jatuh, harus ada yang mengfangkatnya, harus ada yang memberinya harapan demi harapan. Orang tua yang selalu 'bodoamat' terhadap anaknya adalah orang tua yang tidak pantas menjadi orang tua.

Lalu apa kunci menjadi orang tua yang baik untuk anak?

Aku memang belum pernah menjadi orang tua, namun aku pernah menjadi anak. Bagiku, segala buku-buku parenting, seminar-semniar tentang orang tua dan konten-konten parenting di segala jenis platform tidak akan berguna sama sekali ketika orang tua tidak memili 'touch' dengan anaknya. Orang tua dan anak sudah harusnya memiliki ikatan yang melebihi dari ikatan darah. Yakni ikatan perasaan. Ikatan-ikatan perasaan antara orang tua dan anak tidak dapat tercipta begitu saja. Dan tidak bisa digebyah uyah sama rata untuk semua anak. Orang tua harus mengerti karakter, psikologi, serta apa yang dibutuhkan dan diinginkan sang anak.

Aku juga bukan seorang yang berbicara lantang, "Biar anak memilih minatnya sendiri." Karena bagiku, orang tua juga perlu mengarahkan, memberikan visinya sebagai orang tua. Menjelaskan sedikit demi sedikit tentang kehidupan di dunia.

Jadi, kuncinya adalah... Yah enggak ada yang pasti. Semua tergantung kondisi si anak, lingkungan dan persoalan yang dihadapi si anak.