Pilih Alquran atau Pancasila?

Gambar oleh Vladislav Babienko on Unsplash

Cangkeman.net - Kamu pilih Pancasila atau Alquran? Pilih Alquran atau Pancasila?

Bagaimana jawabanmu kalau ada yang bertanya kepadamu sebuah pertanyaan demikian? Bingung? Atau kamu bisa dengan mudah memilih salah satu? Atau kamu bakal menghardik si penanya?

Oke, apapun jawaban kamu, aku akan tetap menghargai itu. Karena bagiku, berbeda jawaban itu bukanlah soal, asal kita tidak pernah mengatur jawaban orang lain. Lagian apapun jawabanmu juga kamu bukan orang KPK yang akan diangkat jadi PNS heuheu.

Sekarang bagaimana jika pertanyaan itu diarahkan padaku? Apa jawabanku?

Pada prakteknya, aku bisa saja teriak lantang "Saya Pancasila." atau mengklaim sebagai manusia yang qurani. Tapi bagiku, dua hal itu 'hanya' sesuatu yang tak hidup, mati. Terserah kamu mau tersinggung atau tidak, karena pada dasarnya, baik Pancasila maupun Quran 'hanyalah teks'.

Pancasila dan quran adalah sesuatu yang mati. Dan yang dapat menghidupkan nilai-nilai yang terkandung dalam 'teks-teks' baik Quran maupun Pancasila, yah manusianya sendiri. Mau ditafsirkan seperti apa, mau dibawa ke mana itu Pancasila maupun Quran, semua itu tergantung manusianya. Sudah berapa kali Pancasila digunakan sebagai alat kekuasaan? Alquran juga?

Kita kerapkali menafsiri Pancasila dan Alquran demi ego kita belaka. Yang masalahnya, selain menafsirkan ego kita semata, kita kerapkali menagnggap bahwa selain tafsir kita sudah pasti salah. Kita tidak menyisahkan sedikit saja ruang kebenaran untuk orang lain. Kalau kaya gini kan namanya bukan hanya memaksakan tafsir, tapi memaksakan ego.

Lagipula begini. Kalau pun kamu tidak percaya Alquran atau tidak percaya Pancasila toh sebenarnaya bukanlah soal. Dunia akan tetap baik-baik saja, negara akan tetap berjalan. Mantanmu juga tetap ninggalin kamu. Eh..

Soal hidup yang baik kan bukan tentang memilih Pancasila atau Quran. Tapi bagaimana cara mengamalkannya. Bukan tentang lulus tes wawasan kebangsaan, mendapat nilai tinggi di mata kuliah kewarganegaraan, atau menjadi penghafal Quran, pengkoleksi Quran, atau apapun. Semua ini kan tentang penerapan.

Jadi aku yah bakal diam aja sih kalau disuruh milih. Karena bagiku, aku enggak penting milih apapun. Kehidupan bernegara dan beragamaku bukan soal menjawab pertanyaan macam itu. Bahkan aku lebih memilih tidak mengenal Pancasila sama sekali, tidak tau tentang Quran, tapi segala tindak dan tandukku mencerminkan Pancasila dan Quran. Daripada ribut kebenaran antar Pancasila dan Quran, antar tafsir, tapi lupa mengamalkannya. Ibarat orang kenal nama tetangganya, tapi lupa ketika tetangganya kelaparan.