Stop Hororiasi Lagu Jawa

Cangkeman
Gambar : Anchor.fm


Cangkeman.net - Dari sekian banyak lagu yang pernah kamu dengarkan, pernah nggak kepikiran buat play lagu "Bang bang wetan"? Kalo belum pernah, cobain deh, salah satu gubahan versi Kiai Kanjeng ini paling enak menurutku. Bagi sebagian orang, lagu tersebut sangat menenangkan, mengalun dalam makna yang mendalam. Apalagi kalau lagi sendirian. Tapi bagi sebagian orang yang lain, lagu-lagu dengan genre tersebut justru bikin bulu kuduk berdiri, seram, horor, musik pengundang setan.

Entah setan mana yang terundang dengan lagu filosofis macam ini, aku juga heran. Kalau dipikir, Ini bukan terjadi begitu aja, ini adalah hasil dari film-film dan konsumsi masyarakat yang selalu menstereotipkan lagu jawa sebagai backsound yang serem-serem. Puluhan tahun kita dicecoki. Kan jancuk.

Bahkan bukan di TV aja, hal ini merambah ke media sosial, coba tengok konten-konten horor di tiktok, pasti ada aja yang pake backsound lagu-lagu jawa, bukan cuma lagu, bahkan kidung! Salah satunya Kidung Wahyu Kolosebo. Padahal ini kidung loh, bukan sekadar lagu, dalam masyarakat Jawa, satu bait kidung saja sudah bermakna sangat luas serta dihormati, dan kidung wahyu kolosebo ini diciptakan bukan dalam satu malam, butuh 9 tahun. Jadi buat para konten kreator Stop Hororisasi Lagu Jawa. Gara-gara kalian, stereotip ini makin meluas dan turun ke satu generasi lagi.

Untuk Kidung Wahyu Kolosebo ini mudah-mudahan nanti bisa aku buatkan tulisan khusus. Kita kembali ke Bang Bang Wetan.

Bang-bang wus rahinaang
Bang-bang wus rahina
Srengengene muncul muncul muncul
Sunar sumamburat
Cicit cuit-cuit, cicit cuit-cuit, cit-cuit
Rame swara ceh-ocehan

Krengket gerat-geret
Krengket gerat-geret
Nimba aning sumur sumur sumur
Adus gebyar-gebyur

Segere kepati
Segere kepati
Kepati bingah bagas kuwarasan

Arti singkatnya kurang lebih gini
"Langit fajar memerah pertanda pagi, Matahari muncul dengan cahayanya yang bersinar terang. Suara timba berbunyi krengket ditarik gerat-geret, menimba air dari sumur, mandi dengan semangatnya. Sungguh segar sekali, aku bahagia dan badanku sehat."

Kemudian, di akhir lagu diselingi dengan semacam suluk sebelum penutup.

"Lingsir wengi tan kendhat bebaya memala, tan kinaya apa, bebendu pepeteng tan kena atinira
Bang-bang wetan bang-bang wetan, semburata semburata."

‘Waktu yang mendekati sepertiga malam terakhir, semoga tidak ada bahaya atau musibah, tidak ada halangan suatu apa pun, tidak ada kutukan yang mengenai kepada diri seseorang. Fajar pagi, cepatlah engkau bersinar, cepatlah bersinar."

FYI, pada awalnya, lagu “Bang-bang Wetan” ini adalah lagu anak-anak atau tembang dolanan yang dibuat oleh Ki Hadi Sukatno dari Taman Siswa. Ya semacam lagu pengiring yang dinyanyikan bersama-sama ketika bermain. Logika dari mana kalau sebuah lagu anak-anak kemudian dianggap sebagai lagu mistis, atau bahkan pengundang setan?

Bahkan setelah membaca terjemah dari liriknya, ya nggak disuguhkan unsur horor sama sekali. Bahkan ini bisa dibilang lagu penggugah semangat, atau lagu yang meriah. Khas di keramaian anak-anak yang lagi bermain di lapangan.

Kalau butuh analogi untuk lagu seperti ini di masa sekarang, secara tidak langsung mirip dengan lagu "Sebelum Cahaya" milik Letto. Tentang manusia yang menantikan cahaya dan embun pagi, secara harfiah maupun maknawi. Meskipun makna selengkapnya tentu berbeda.

Oh ya, satu lagi lagu keren yang jadi korban stereotip ini gara-gara mengutip falsafah jawa, lirik berbahasa Jawanya sedikti banget padahal. Lagu yang bahkan mendunia dan mengangkat budaya Indonesia tapi justru dianggap lagu penyembah setan. Seenaknya orang berkata terhadap sesuatu yang ia tidak tahu, hanya karena anggapan banyak orang aja. Dan justru di lirik lagu itulah orang-orang kayak gini mendapat tamparan untuk menjaga lisannya.

"Kowe ra iso mlayu saka kesalahan. Ajining diri ana ing lathi...!"