Radikal Radikal Tai Mendil

Gambar : Unsplash

Cangkeman.net - Kalian pasti makin sering mendengar kata radikalisme kan? Makin kesini kata itu makin trending aja, apalagi ketika dikaitkan dengan kelompok tertentu. Tapi tau nggak sih arti kata radikalisme itu apa?
Kalau mau diartikan secara bahasa, itu bisa diartikan sebagai paham yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik lewat cara kekerasan. Kalau menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, radikalisme secara istilah juga berarti aliran yang fundamental atau mengakar. Radikal itu sendiri sebenarnya bisa memiliki segi positif maupun negatif, itu semua tergantung dari cara mengekspresikan pandangan itu.

Di Indonesia, radikalisme ini sering banget dikaitkan dengan Islam, meskipun agama lain juga punya pandangan radikalisme atau fundamentalis. Contohnya ada Hindu fundamentalis, Judaisme fundamentalis, Kristen fundamentalis, Sikh fundamentalis, dan masih banyak contoh lainnya. Sebenarnya radikal dalam spirit keagamaan itu bisa dinilai positif ketika ingin melawan ketidakadilan atau ingin merubah tatanan seperti contohnya yang dilakukan oleh panutannya yaitu para Nabi. Tapi radikal yang hadir justru negatif ketika muncul gerakan perlawanan secara sporadis, dan menganggu kerukunan.

Aku pernah membuat sebuah video pendek tentang ini, judulnya Siapa Kelompok Radikal Itu? Didalamnya aku membagi radikalisme menjadi beberapa tingkatan. 
  • Radical mind (Radikal dalam pemikiran)
  • Radical attitude (Radikal dalam perilaku)
  • Radical in action (Radikal dalam tindakan)
Tentunya ini bukan kesimpulan menurutku sendiri, aku bersumber dari H. Nadirsyah Hosen, Ph.D.
Nah dari ketiga tingkatan diatas, yang terakhir adalah yang paling bahaya. Di tingkatan itulah biasanya seseorang bakal berani memaksakan paham yang dia anut ke orang lain. Sudut pandangnya mulai mengecil dan semakin menolak antitesis pemikirannya. 

Negara kita ini gampang banget jadi sorotan ketika ada kasus radikalisme yang mengaitkannya dengan agama. Tentunya agama Islam, karena memang itu mayoritasnya. Berbeda kenyataannya di negara dengan mayoritas agama tertentu selain Islam.
Oh ya, bahkan dulu Indonesia dapat Travel Warning dari beberapa negara karena rentetan kejadian yang ada di sini. Karena dianggap tidak aman bagi warganya. Padahal semua tahu bahwa yang berani melakukan tindakan radikal itu tidak banyak, tapi karena efek kerusakan yang ditimbulkannya besar, masyarakat lain terkena imbasnya.

Jangan dulu ngomongin terorisme, perang melawan radikalisme saja negara masih kelabakan. Satu ditangkap, satu lagi muncul. Ideologi radikalisme justru cepet banget menyebar di kalangan anak muda. Liat aja bibit-bibitnya yang tersebar di medsos, semua muda-muda energik dan penuh semangat. Kelompok ini makin gencar memanfaatkan media sosial demi menyebarkan pemahaman mereka. Nggak salah sih, selama tidak membabi buta meyakini kebenaran kelompoknya dan menyelahkan yang lain. Tapi sayangnya yang terjadi kan bukan begitu.

Tindakan negara juga terlihat hanya aktif menumpas "rumput" yang sudah besar-besar, akar-akar dan bibitnya dibiarkan saja tumbuh liar menggerogori tunas-tunas bangsa yang lain, hanya menunggu terlihat besar dan ditumpas "hanya" ujungnya. Padahal, kekuatan akar rumpurt inilah yang berbahaya, ia bersinggungan langsung dengan elemen masyakarat yang sangat butuh kehadiran negara. Tapi, siapa yang akhirnya hadir diantara mereka?