Quran Kitab Patriarki atau Cara Kamu Menafsirkannya yang Patriarki?


Gambar : Unsplash


Cangkeman.net - Seorang ustad muda pernah menjadi tranding lantaran dia mengatakan, "Pesta Seks". Meski permasalahan ini telah selesai namun kita bisa mengambil pelajaran dari kejadian tersebut, yakni banyaknya kekeliruan dalam memahami penafsiran Quran.

Banyak banget oknum umat Muslim yang ngasih penafsiran (terhadap Quran maupun hadis) sekehendak hati si oknum meski ga tau gimana konteksnya. Nah, ketika dicek biasanya mereka ga punya dasar keilmuan yang jelas tapi suka mengutip quote dari kitab-kitab klasik yang ditulis ratusan tahun lalu, potongan ayat Quran dan hadis. Menurutku, itu bukan masalah, tetapi kita perlu melakukan pengecekan terhadap konteks ayat Quran, hadis maupun quote dari kitab yang ditulis oleh ulama pada masa lampau. Dan ini jarang dilakukan oknum-oknum tersebut sehingga penafsiran pun jadi salah kaprah.

Dengan kekeliruan oknum-oknum tersebut dalam menafsirkan naskah-naskah agama itulah yang memberikan andil besar terhadap adanya ketidakadilan atau ketidaksetaraan gender. Aku tau ini akan terdengar seperti “SJW feminis”, tapi ketika membicarakan penafsiran sekarang ini sedikit banyaknya pasti akan bersinggungan dengan permasalahan gender, apakah kamu ngerasain juga? Atau hanya sensitifitas feminimku? Ah!

Salah satu contoh yang bisa aku kasih adalah pemaknaan tentang bidadari surga. Biasanya sering kali dakwah-dakwah mengenai itu membuat para cowok nyengir terbawa perasaannya, kesholehan yang dilakukannya di dunia akan digantikan dengan cewek-cewek perawan, cantik dan jelita (bidadari). Aku pernah mendengar, temanku ngeluh, dia bertanya dan sedikit menggugat, ‘kenapa sih seolah-olah kehadiran cewek hanya untuk memuaskan cowok? Kenapa bidadari disitu hanya dimaknai cewek? Apa karena ada hadis yang menyatakan mayoritas cewek penghuni neraka sehingga yang diprioritaskan hanya kesenangan surga bagi cowok?’ Jika aku boleh menjawab, akan aku jawab, "Aku memang bukan ahli tafsir, hanya saja aku berpendapat bidadari yang dimaksud bukanlah bidadari sebagai individu tapi hanya simbol kesenangan di surga yang bisa didapatkan oleh cowok atau cewek, kayak balasan kesenangan setelah bersusah payah menahan sabar, ngehindarin perbuatan buruk dan sebagainya. Kan ada firman Allah bahwa baik cowok atau cewek selama dia melakukan kebaikan/keburukan akan dikasih balasan. Santai aja, Sis!"

Menurutku, kita perlu penafsiran yang ramah bagi cowok dan cewek. Nah, pas banget aku mau ngasih sedikit bocoran tentang metode penafsiran teks, terutama Quran, yang berlandaskan konsep ketersalingan, kerja sama dan kesetaraan. Nama metode ini adalah mubadalah, pasti banyak di antara kita yang belum familiar dengan namanya karena metode ini baru diperkenalkan beberapa tahun belakangan sih. Singkatnya, metode ini berusaha melihat konteks suatu ayat terus sehingga bisa memaparkan Quran dengan nilai-nilai kesetaraan. Meski kita butuh penafsiran seperti ini, faktanya banyak dari kita yang enggan mencari metode-metode penafsiran yang sesuai dengan kebutuhan dan zaman. Kita hanya berlalu menjauhi Quran dan menganggapnya “kitab patriarki”. Wallahu alam.


Nila Wati
Mahasiswi di Perguruan Tinggi Agama Islam Kota Palangkaraya. Bukan anak yang medsos-medsos banget. Dapat dikunjungi di akun Instagram @nilawt3.