Dik, Berusahalah Untuk Berkuliah di Kampus Negeri

Foto : Unsplash

Cangkeman.net - Kata banyak orang, di zaman sekarang kuliah di mana pun tidak masalah. “Masih untung bisa berkuliah. Di luar sana, begitu banyak orang tidak bisa kuliah akibat berbagai faktor,” kira-kira seperti itu alasan yang biasa diberikan. Saya sangat setuju akan hal itu. Kuliah, biar bagaimanapun membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tetapi jika memang demikian adanya, apakah kuliah di mana pun bisa dibenarkan oleh masyarakat kita?

Sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan sarjana di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur, saya merasa sedikit beruntung. Apa sebab? Misalkan, ketika kedua orang tua mengenalkan saya kepada rekan-rekan mereka, akan sedikit bangga dengan menyebut dimana anak-anaknya mengenyam pendidikan. Baik saya dan kakak perempuan saya berkesempatan menikmati kuliah di kampus berstatus negeri, dan bisa dikatakan sangat ternama sampai-sampai orang lain bisa berdecak kagum. Stigma yang berkembang di masyarakat adalah; kampus negeri berisi sekumpulan pelajar yang lebih pandai dan memiliki daya juang lebih tinggi dibanding mereka yang berkuliah di kampus swasta.

Saya cukup sepakat soal daya juang. Begitu banyak orang berlomba-lomba untuk menduduki kursi kuliah di kampus negeri. Berbagai usaha akan dilakukan. Mulai dari sekedar belajar lebih giat dengan menambah jam belajar, mengikuti pembelajaran di tempat les, sampai setiap kencan dengan Tuhan keinginan untuk belajar di kampus negeri tak pernah alpha disebut. Calon mahasiswa kampus negeri akan melakukan segala usaha agar cita-citanya tercapai. Memang ada perasaan bangga bila suatu saat nanti, mereka bisa menjadi anggota di kampus negeri impian mereka. Saya tidak munafik karena saya merasakan euforia itu.

Tetapi saya tidak sepakat untuk stigma bahwa kampus negeri berisi sekumpulan pelajar yang lebih pandai dibandingkan mahasiswa dari kampus swasta. Bagi saya, dimanapun seseorang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, baik berstatus negeri atau swasta, selalu ada tiga golongan mahasiswa.

Pertama, adalah ekstrim kanan; golongan mahasiswa super rajin dalam mengikuti perkuliahan, ditambah dengan menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas kemahasiswaan, IPK setiap semester membumbung tinggi dan berakhir dengan lulus bahkan bisa keluar kampus dari deadline yang ditentukan.

Kedua, kategori ekstrim kiri; golongan mahasiswa super malas untuk sekedar mendengar ceramah dosen di kelas, kadang-kadang tidak masuk kuliah dan titip absen, tak jarang golongan ini sebagai beban kelompok bila ada tugas kuliah yang harus dikerjakan bersama, IPK tiap semester yang mengenaskan, syukur-syukur mereka lulus meski harus betah berlama-lama di kampus.

Ketiga, merupakan golongan rakyat kebanyakan; kemampuan biasa saja, tidak rajin tetapi juga tidak malas, banyak yang tidak mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan meski ada juga hanya untuk sekedar ikut-ikutan, berkontribusi dalam kelompok meski seadanya, IPK tiap semester biasa saja dan berujung lulus dengan cara biasa.

Tetapi apapun golongannya, mereka yang berkuliah di kampus negeri akan selalu dipandang membawa bekal yang lebih baik untuk tahapan selanjutnya, misalkan dalam mencari pekerjaan, utamanya bagi mereka yang menyandang status fresh graduate. Ijazah lulusan kampus negeri seperti mengandung sihir tertentu yang bisa memudahkan dalam urusan mencari kerja.

Ya memang ini tidak bisa dipungkiri karena stigma yang berkembang di masyarakat soal kampus negeri dan lulusannya dipandang lebih baik dibanding produk kampus swasta begitu kuat. Dalam dunia kerja bahkan di awal proses rekrutmen dan seleksi, banyak perusahaan yang menurut saya memberikan persyaratan cukup unik. Misalkan batasan IPK; alumni kampus swasta harus sedikit lebih tinggi dibandingkan lulusan kampus negeri. Hal ini yang semakin memperkuat stigma bahwa alumni kampus swasta dipandang tidak setara dengan alumni kampus negeri. Belum lagi untuk menyakinkan perusahaan tempat mereka melamar kerja, lulusan kampus swasta mesti membawa kopi surat akreditasi kampus dan jurusan tempat mereka belajar. Sedangkan bagi yang lulusan negeri, setidaknya berdasarkan pengalaman saya dulu sekali dalam mencari kerja, tidak dibebankan hal itu.

Buat saya agak kurang adil melihat fenomena tersebut. Bahkan meski tidak ditulis di iklan lowongan kerja, hal tersebut tetap terjadi sewaktu memilih kandidat. Sebetulnya untuk urusan persyaratan jabatan, pengaruh user jauh lebih banyak dibandingkan recruiter. Tidak perlu lah melakukan proses rekrutmen dan seleksi hanya berdasarkan stigma dan berujung asumsi tanpa mengedepankan esensi. Hei, kamu yang mengurusi proses rekrutmen dan seleksi, biarkanlah pelamar kerja diberikan kesempatan yang sama tanpa memandang latar belakang status kampus tempat calon pekerja belajar.

Kemudian hal unik lain yang saya dapatkan soal kampus negeri dan swasta adalah, alumni kampus negeri meskipun bukan berasal dari kampus yang sama, akan memiliki pandangan tersendiri soal mereka yang lulus dari kampus swasta. Bisa dikatakan terlalu bangga dengan almamater mereka. “Pasti beda lah, Bos. Antara lulusan negeri dengan swasta. Lihat saja kualitas lulusannya. Coba bicara dengan mereka soal tema yang lebih mendalam, atau lihat saja kinerja mereka. Banyak dari alumni swasta tidak bisa memberikan sesuai yang diharapkan. Kamu sendiri pernah merasa begitu, kan?” tanya teman saya suatu waktu.

Kemudian saya menyanggah, “Tapi kan itu soal kualitas diri yang dimiliki seseorang, bukan seratus persen dipengaruhi tempat mereka menimba ilmu. Tidak perlu lah langsung memberikan penilaian sebegitunya hanya berdasarkan tempat mereka belajar. Terlalu banyak faktor yang mempengaruhi kualitas yang dimiliki seseorang.”

Memang tidak gampang melawan diskriminasi bagi mereka yang lulusan kampus swasta. Saya yakin, mereka lebih banyak mengalami kesulitan hanya untuk memulai mencari nafkah. Barangkali seluruh jari saya belum cukup untuk menghitung berbagai penderitaan yang mereka alami; bagaimana mereka meyakinkan pihak perusahaan bahwa mereka setara dengan alumni negeri, menjaga muka agar tetap tersenyum disaat orang-orang sekitar bahkan bisa saja dari keluarga besar; memandang bahwa mereka hanyalah orang 'biasa' karena berkuliah di kampus swasta. Padahal memilih tempat berlabuh untuk menimba ilmu bukan perkara mudah. Sama seperti orang yang mengenyam pendidikan di kampus negeri, mereka yang berkuliah di kampus swasta pun punya pertimbangan tersendiri. Pilihan yang mereka buat sangat layak untuk mereka jalani tanpa perlu dipandang atau bahkan sampai diperlakukan yang aneh-aneh.

Pesan yang bisa saya sampaikan bagi yang sudah berkuliah di kampus swasta, “Tetaplah belajar dengan baik agar kamu bisa dipertanggungjawabkan secara kualitas, sampai orang lain tidak akan memandang dimana kamu belajar.” Sedangkan bagi yang belum berkuliah, saya berpesan, “Dik, berusahalah untuk berkuliah di kampus negeri. Karena sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini, tidak memandang apa jurusanmu tetapi dimana kamu berkuliah.”


Sungguh ironis.

Angga Prasetyo
Laki-laki, prefer teh dibanding kopi. IG @anggaprass