Setelah Nanggala 402, Sekarang Kita Mau Apa?

Kapal Selam TNI Angkatan Laut KRI Nanggala-402 berlayar di perairan Tuban, Jawa Timur, Indonesia, seperti terlihat pada foto udara yang diambil dari helikopter TNI AL Skuadron 400 Udara, pada foto Senin, 6 Oktober 2014 ini.

Cangkeman.net - Sudah menjadi rahasia umum bahwa kekuatan militer kita masih compang-camping. Dengan wilayah kepulauan yang membentang serta lautan yang begitu luas, nampaknya kekuatan militer kita tidak ada apa-apanya.

Contoh kecil saat kasus Natuna. Beberapa kapal asing kerapkali "membobol" area ZEE kita dengan begitu mudahnya. Udah dijebol baru kita kejar, eh pas dikejar, ternyata mereka dikawal sama militer negara mereka yang kapanya lebih joss dari kapal kita. Jiper dahhh...

Dalam kasus Nanggala 402 ini, kita tak usah bicara tentang penyebab tenggelamnya kapal ini untuk membuktikan kecompang-campingan militer Indonesia. Bahkan untuk bagian penyelamatan puing dan para korban, kita tidak bisa mandiri. Peralatan kita enggak mumpuni, kita ga punya teknologinya.

Menyebalkannya, dalam banyak kasus kecelakaan seperti ini, kita  malah disuruh berdoa, lebih keras dan lebih keras lagi. Deretan pesan simpati terucap dari berbagai kalangan pejabat, instatory dipenuhi pesan-pesan luka mendalam, setelah itu kita melupakan kasus ini dan tidak memperbaiki apapun.

Simpati boleh saja, dan bagiku itu harus. Tapi kita juga enggak boleh jalan di tempat atau malah melakukan kesalahan yang sama lagi. Kita perlu banyak hal, dari pembangunan SDM agar lebih mumpuni, serta peremajaan alat-alat.

Jika perkara mencari kapal yang tenggelam kita menghubungi Singapura, yang bahkan negaranya sering kita ejek karena mudah ditenggelamkan, malu kita sama dunia. Dunia jadi tau titik genting kelemahan kita. Kita perlu perbaikan yang sangat serius.

Selain peremajaan, kita juga harus memikirkan untuk membangun faktor-faktor alat pendukung lainnya. Kita bangun galangannya, kita bangun begkelnya. Kalau kapal kita rusak, kita enggak perlu jauh-jauh ke negara sebelah seperti Singapura dan Korea.

Pemerintah harusnya malu dengan gerakan Masjid Jogokaryan. Penggalangan dana yang dilakukan untuk membeli kapal selam sejatinya adalah tamparan langsung yang bernada sindiran kepada pemerintah. Harusnya dengan hal itu, Pemerintah gerak cepat untuk memperbaiki semuanya. Bukan malah menggerakkan buzzernya sambil nyinyirin aksi tersebut sambil bilang "Bagaimana transpansinya?" "Terus kalau udah kumpul gimana? Mau langsung Chekout, kirim pake JNE?"

Setelah ini, jika memang tidak ada pengusutan tentang penyebab KRI Nanggala 402 tenggelam, setdaknya pemerintah wajib membangun segala sumber daya yang perlu dibangun. Masalah berdoa, kami sudah diajari sejak kecil, kalian tak perlu ngajarin lagi.