Ramadan, Ramadlan, Ramadhan


Cangkeman.net - Ramadan membuat banyak hal menjadi berbeda. Dari hal penentuan datangnya bulan ini yang membuat satu negara harus menunggu berita hasil teropong Hilal sampai kemudian berakhirnya pun semua penuh kebhinekaan. Belum lagi soal penulisan nama bulannya. Oh ya, di sini aku bermazhab "Ramadan", walaupun orangtuaku lebih suka menyebutnya "Ramelan". Namun bukan berarti hanya itu saja mazhab penulisan bulan suci ini.

Ramadan dalam Bahasa Arab merupakan isim masdar, maknanya panas. Intinya, melalui ibadah puasa di bulan itu, Tuhan menjanjikan akan melebur atau menghapus setiap dosa yang telah dilakukan hamba-Nya. Intinya gitu lah ya.

Proses transliterasi Arab-Indonesia yang rumit dan penuh perbedaan menjadikan penulisan Ramadan pun menjadi terpecah beberapa kelompok. Pertama, "Ramadan". Penulisan ini berdasar pada PUEBI, yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Kelompok selanjutnya lebih sepakat menuliskan "Ramadlan". Persis seperti nama jamiyah yang masih mempertahankan dengan tulisan "Nahdlatul" Ulama sebagai kepanjangan dari NU, ormas terbesar di Indonesia. Kelompok ini juga sebenarnya mempunyai dasarnya sendiri. Pedoman itu tertuang dalam Kepres Nomor 57 Tahun 1972 yang memuat sistem ejaan Latin bagi bangsa Melayu Indonesia dan Malaysia.Di Jiran, aturan itu disebut Ejaan Rumi Bersama (ERB). Bagaimana kabar selanjutnya mengenai Kepres ini? Nggak tau juga sih.

Kelompok selanjutnya menulis bulan suci dengan tulisan "Ramadhan". Ada yang bilang, transliterasi ini banyak dianut muslim modernis yang hanya tidak ingin mengikuti pola kelompok tradisionalis. Pokoknya Edgy. Berbeda.

Jadi jelas, untuk kamu yang hidupnya sekarang, penulisan "Ramadan" punya dasar yang kuat untuk kamu gunakan, karena sudah sesuai dengan PUEBI, tapi jangan terlalu sepaneng, toh cuma penulisan saja, nggak masuk ke aqidah. Meskipun hal-hal seperti ini kadang dianggap bagian dari agama juga oleh sebagian orang, seperti kasus penulisan "Insya Allah" yang mereka paksa untuk diganti menjadi "In Shaa Allah".

Beragam versi penulisan ini seharusnya bukan persoalan. Semangatnya satu, sebagai bagian dari perlambang kebinekaan Indonesia yang merangsek ke segala bidang, termasuk dalam hal keragaman ideologi berbahasa. Atau justru tingkat literasi yang masih kurang? Ah entahlah.

Belum lagi kita membahas Romadon, Romadhon, dan Ramelan.