Gagal Paham Emansipasi

 

Gambar : Katherine Halon

Cangkeman.net - Bicara tentang perempuan memang tidak pernah ada habisnya, segala sesuatunya pasti dipermasalahkan. Dari pekerjaannya, kehidupannya, orientasi politiknya, gaya berpakiannya dan bahkan napasnya saja bisa digunjingkan.

Setelah mengalami perlakuan tidak adil dari berbagai kurun waktu, dari berbagai imperium, dan berbagai belahan bumi, dewasa ini wanita sedikit demi sedikit mulai terangkat derajatnya.

Namun di tengah perayaan-perayaan kesamaan derajat antar gender ini, masih banyak orang-orang yang bahkan perempuan itu sendiri, masih gagap dalam menyelaraskan tentang makna kesetaraan gender ini.

Tentu masih ingat dengan cuitan salah seorang warganet yang mengkritik -kalau tidak ingin dibilang nyinyir- perempuan-perempuan yang rela menyiapkan bekal untuk suaminya, kan?

Beberapa perempuan menganggap bahwa kesetaraan gender berarti seorang istri tidak boleh melayani suaminya. Karena yang ada di pikirannya, yang melayani sudah pasti derajatnya lebih rendah dari yang dilayani. Apapun konteksnya.

Emang sih, menyiapkan makanan di pagi hari itu butuh suatu usaha yang sungguh-sungguh. Dengan rentang waktu yang sangat pendek setelah bangun tidur, serta hawa pagi yang bikin mager, cuma istri-istri tertentulah yang boleh menyiapkan bekal untuk suaminnya.

Poinnya adalah pada kalimat "istri-istri terntentu". Istri-istri ini adalah perempuan yang mau, yang dengan kesenangan hati, tanpa paksaan. Dan mereka tentu saja tidak merendahkan derajatnya sendiri.

Nah kalau kamu enggak mau bawain bekal buat suami yah itu sah-sah saja. Itu urusan kamu sama suamimu, yang jelas suamimu juga gak boleh memaksa kamu untuk menyiapkan bekal. Dan kamu juga gak bisa ngelarang, nyinyir atau ngomentari istri lainnya yang bawain bekal untuk suaminnya.

Kesetaraan gender itu tentang bagaimana kita dapat mengatur diri kita sendiri tanpa ancaman dari pihak manapun. Tidak peduli kita laki-laki ataupun perempuan. Yahh jadi bebas-bebas aja kalau seorang istri mau bawain bekal untuk suaminya. Wong hidup-hidup dia, kok anda ribet?

R.A. Kartini aja nih yahh, lambang emansipasi wanita di Indonesia aja enggak mempermasalahkan status dirinya sebagai istri muda. Ia berkata kepada teman-temannya bahwa poligami bagi Kartini bukanlah suatu masalah. Terus mau dibilang kalau Kartini itu diinjak-injak suaminya? Yahh enggaklah, dia toh bahagia, dengan kesadaran pribadinya, ia memilih jalan hidupnya.

Lagian emansipasi itu kan dasar utamanya adalah kemanusiaan. Jadi cobalah kamu jadi manusia dulu, baru pahami apa itu emansipasi, apa itu kesetaraan gender. Bukan ujug-ujug setiap hal yang kamu anggap merugikan bagi dirimu, kamu anggap merugikan untuk perempuan-perempuan lainnya. Kan jancuk...

Pemikiran-pemikiran perempuan seperti inilah yang mencoreng perempuan lainnya. Kalau kamu gak ingin direndahkan oleh laki-laki, bukanlah dengan menghina perempuan lainnya yang justru menjalankan emansipasi bagi dirinya.

Cobalah melakukan hal yang lebih konkret gitu. Misalkan nih, cobalah mengkampanyekan kepada kaum peremuan yang naik KRL atau Transjakarta. Supaya taat mau duduk di gerbong wanita atau tempat khusus wanita. Jangan mundur ke tempat umum, terus minta diprioritaskan untuk duduk, karena menganggap dirinya perempuan dan perempuan adalah makhluk yang lemah, dan butuh dikasihani oleh para lelaki.... Halahhh emansipasi kok tebang pilih...