Hati-hati Bermain dengan Personal Branding

Gambar : Topresume

Canfkeman.net - Dalam dunia karir, aku beberapa kali merasakan susahnya mencari talent untuk suatu posisi di kantor, pun juga menyeleksinya. But the other hand, aku dikelilingi oleh circle pengangguran. Mulai dari yang baru lulus sekolah, kuliah, sampai yang sudah akut kapok melamar pekerjaan lagi. Tapi dua sisi ini seperti air dan minyak. Pencari kesana-kemari mencari lowongan kerja. Ngga ada yang lolos, padahal lowongannya banyak. Sementara di sisi perusahaan terus kesulitan mencari kandidat yang cocok.

Kadang dalam kegundahan mencari kandidat itu aku menemukan suatu yang menarik. Orang yang personal branding-nya hebring euy di internet nggak selalu dibarengi dengan kemampuan yang diekspektasikan.
Yang aku maksud di sini misal memakai kata-kata diri yang menjual, profesional, passionate, dan as you know bahasanya Inggris. Profile LinkedIn yang sangat sangat terjaga bahkan sampai komentarnya. Sharing-sharing artikel bagus (biasanya bahasa Inggris juga).
Sisanya? bisa ditebak!
Posting quote-quote motivasi.
 
Pokoknya kalau dilihat profilnya, kita akan berpikir bahwa orang ini jago banget nih, profesional dan sebagainya. Walaupun belum bertemu langsung, apalagi melihat kinerjanya.
Di internet, kita bisa jadi apa aja, jadi siapa aja.
Sebagian personal branding di internet adalah self-proclaimed. Kita bisa mengatakan apapun tentang diri kita. Mendeskripsikan apa saja, termasuk melebih-lebihkannya. Semua bisa dibuat sangat meyakinkan.
Its a well-crafted lie.
Kembali lagi, apa yang kita lihat dari profil seseorang adalah apa yang orang tersebut ingin dipersepsikan oleh kita.
Tapi ketika membuat personal branding yang kelewat bagus, orang akan melihat kamu adalah manusia sesempurna di profil itu. Pada akhirnya mereka akan berekspektaai tinggi terhadapmu. Hal ini akan membahayakan kamu ketika harapan mereka yang sudah terlanjur tinggi tadi ternyata tidak sesuai, meskipun misal hanya minus sedikit, tetap aja mereka ada rasa kecewa. Karena mereka terbanting oleh ekspektasi tinggi yang kamu berikan lewat personal brandingmu.
Jadi, orang yang di internet terlihat meyakinkan hanya bagus di covernya aja?
Ya nggak gitu juga konsepnya. Tetap kritis dan nggak bias dalam menilai seseorang yang belum pernah kita temui. Nggak perlu mendewakan kalau profilnya di internet bagus. Nggak perlu merendahkan juga kalau profilnya di internet jelek. Bisa jadi dia sibuk berkarya lupa bercitra.
Selama pengalamanku, ada beberapa orang yang personal brandingnya bagus di internet, tapi attitude di dunia nyatanya kurang baik, bahkan performa kerjanya useless. Kalau kata netizen nyiyiran

"Dia mah kebanyakan sibuk main medsos, ngga ada waktu buat kerja."
Begitu juga sering kutemukan sebaliknya. Di kantor kerjanya bagus, cekatan dan memang mempunyai skill, tapi nggak bisa menampilkan dirinya dengan baik di internet. Pun ada juga yang brandingnya bagus, kemampuannya juga oke. 

Membranding diri untuk tampil dengan well performed itu pilihan, pun juga kerja dengan rajin atau hanya pura-pura sibuk depan bos juga pilihan, konsekuensi kembali ke diri masing-masing.
Mau bluffing setinggi langit juga silakan, asal bisa mempertanggungjawabkannya di dunia nyata. Karena ketika sudah membuat orang berkekspektasi tinggi terhadap kita, PRnya banyak. Ada minus sedikit orang bakal kecewa.
Mending tampil bisa saja di dunia digital, apa adanya. Tulis pengalaman kita, kisah dibalik pencapaian, kegagalan dan perjalanannya. Buat senatural mungkin. Orang juga bosen lihat profil-profil yang kelewat sempurna.

Poin pentingnya satu, buat orang penasaran dengan kita. 
Karena penasaran adalah sebagian dari pemasaran.
eaa~