Al Fatihah : Bunyi dan Cara Menjadi Hamba




Sumber Gambar : Vecteezy

Cangkeman.net - Al-Fatihah adalah surat yang menjadi surat favorit untukku. Ada banyak faktor kenapa aku menyukai surat ini. Salah satunya adalah dari segi ke-bunyian. Mari kita perhatikan surat ini terlebih dahulu. Aku akan tampilkan dalam bentuk tulisan bahasa Arab, latin, beserta terjemahannya.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ - ١ (bismillāhir-raḥmānir-raḥīm - Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang)

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ - ٢ (al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn - Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam)

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ - ٣ (ar-raḥmānir-raḥīm - Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang)

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ - ٤ (māliki yaumid-dīn - Pemilik hari pembalasan)

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ - ٥ (iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn - Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan)

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ - ٦ (ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm - Tunjukilah kami jalan yang lurus)

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ - ٧ (ṣirāṭallażīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ-ḍāllīn - (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat).

Kita perhatikan surat Al Fatihah di atas. Dari surat tersebut, aku menemukan keserasian suara dari setiap kata demi kata. Contohnya keserasian dalam akhiran per masing-masing kata.

Pada ayat pertama diakhiri huruf mim (raḥīm), lalu berlanjut ke ayat kedua yang diakhiri huruf nun ('ālamīn). Kemudian berlanjut pada ayat ke 3 dan ke 4 dengan masing-masing mengakhiri ayatnya dengan huruf mim dan nun lagi. Yang membuat susunan surat ini dari ayat 1-4 bersajak A-B-A-B. Dan pada ayat ke 5, akhiran hurufnya masih nun yang membuat ayat ke 6 harus berakhiran mim agar lengkaplah perpasangan antara akhiran nun dan mim yang jika kita tulis pola akhirannya dari ayat 1 s.d. 6 maka akan membentuk pola perpasangan A-B A-B B-A.

Tidak cukup sampai di situ aku terpesona dengan surat ini. Surat ini justru menyimpan ledakannya di bagian akhir surat. Mari kita perhatikan ayat terakhir pada surat ini. Di situ terdapat dua kalimat 'alaihim yang membuat nada berirama berulang dengan sedikit mengehentak. Lalu semuanya diakhiri dengan wa laḍ-ḍāllīn yang di mana pada akhir kalimatnya terdapat dua bacaan tajwid (mad ladzim mutsaqol kalimi dan mad aridlisukun) yang mengharuskan dibaca panjang hingga 6 harakat. Hal itu membuat penutupan yang sempurna bagiku.

Selain dari segi susunan bunyi, aku suka susunan surat ini yang menurutku adalah rangkuman bagaimana cara kita menjadi hamba yang baik. Dalam surat ini, ditunjukkan bahwa hamba yang baik adalah hamba yang berdoa sesuai dengan ayat 6, yakni yang doanya ingin selalu ditunjukkan jalan yang lurus. Hamba yang ingin selalu ditunjukkan jalan yang lurus, jalan yang diberi nikmat, bukan jalan yang dimurkai dan jalan yang sesat sesuai dengan bunyi ayat ke 7nya adalah hamba yang benar-benar tawadhu, tidak merasa jalan yang dipilih sudah benar lalu berpotensi menyalahkan jalan orang lain. Dan seperti itulah menjadi hamba yang baik menurutku. Selalu meminta petunjuk dari Tuhan.

Dalam meminta atau berdoa juga diajarkan tata caranya dalam surat ini. Sebelum meminta, kita harus tau posisi, siapa kita sang peminta, dan siapa Tuhan, yang diminta.

Perhatikan ayat 1-5, di situ sang hamba menegaskan posisi Tuhan. Disebutkan sebagai pengasih, penyayayang, pemilik hari pembalasan serta sebagai yang pantas disembah, dan tempat memohon pertolongan.

Jika kita sudah mengerti posisi kita sebagai hamba dan Tuhan sebagai Tuhan, maka keinginan kita hanya satu, yakni diberikan jalan yang benar, yang diridoi Tuhan.

Wallahualam bissawab...