Politik, Digital dan Kewarasan



Hari-hari sudah memanas.
Semua kubu semakin beringas.
Apa saja mereka pulas.
Mulai dari aspal hingga gunung emas.

Dengung kampanye mulai dari depan teras.
Keadilan selalu diteriakkan dengan keras.
Janji-janji manis memabukkan bagai miras.
Meski semua hanya ada diatas kertas.

Masyarakat dituntut cerdas.
Namun kedua kubu menuding lainnya culas.
Mengaku dirinya yang paling waras.
Rakyat bimbang mana yang ikhlas.

Kebencian merajalela.
Pemimpin sah selalu dicela.
Didiamkan semakin menggila.
Ditangkapi malah dibela.

Ngakunya sebagai ulama.
Membawa kepentingan milik bersama.
Nyatanya cuma jadi gulma.
Tebar kebencian tapi berbuah karma.

Rakyat Indonesia memang unik.
Melindungi negeri diteriaki rezim panik.
Adat budaya dikatakan ritual klenik.
Dibangun masjid kok sholat dibawah terik.

Katanya Indonesia berdemokrasi.
Tapi kritik dikit dicap oposisi.
Banyak janji manis sampai basi.
Hanya menjadi bualan politikus berdasi.

Revolusi mental segala lini.
Sama hukum kok masih berani.
Rakyat jelata disuguhi ironi.
Hanya bisa menghayal bagai onani.

Kaum muda semakin tak acuh
Tak mau ikut terbawa ricuh.
Sebagian ada saja yang rusuh
Di medsos cuma bisa misuh-misuh.

Dunia maya memang kejam
Baik jahat semuanya buram.
Jemari bisa jadi lebih tajam.
Salah dikit karir menukik curam.

Kebaikan makin bias.
Kebencian menyebar luas.
Tak pandang suku apalagi ras.
Semuanya rata habis dibilas.

Politik kadang mengubah kawan.
Serang balik yang dulunya teman.
Padahal orang bijak pernah berpesan.
Diatas politik masih ada kemanusiaan.

Rawamangun, 9 April 2019
ZEN